Keboncinta.com-- Biskuit sering dianggap camilan paling aman. Praktis, murah, tahan lama, dan mudah ditemukan di mana saja. Saat lapar di sela aktivitas, satu atau dua keping terasa seperti solusi cepat. Apalagi kalau sedang sibuk kuliah, kerja, atau bepergian, biskuit seolah jadi penyelamat. Tapi pernahkah terpikir, apa yang sebenarnya terjadi jika biskuit dikonsumsi terlalu sering?
Sekilas, biskuit memang tampak ringan. Teksturnya renyah, rasanya manis atau gurih, dan tidak terasa “berat” seperti nasi atau makanan utama. Namun jika melihat komposisinya, sebagian besar biskuit komersial dibuat dari tepung terigu olahan, gula tambahan, lemak, sering kali lemak jenuh atau lemak terproses serta bahan pengembang dan perisa.
Tepung terigu yang digunakan umumnya adalah tepung putih yang sudah melalui proses pemurnian. Proses ini membuat kandungan seratnya sangat rendah. Akibatnya, biskuit termasuk dalam kategori karbohidrat sederhana yang cepat dicerna tubuh. Gula darah bisa naik dengan cepat setelah mengonsumsinya, tetapi juga turun dengan cepat. Itulah sebabnya, setelah makan biskuit, rasa kenyang sering tidak bertahan lama. Baru satu jam, perut terasa lapar lagi.
Lonjakan gula darah yang berulang dalam jangka panjang bukan hal sepele. Jika pola ini terus terjadi, tubuh dipaksa memproduksi insulin lebih sering. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko resistensi insulin, yang berkaitan dengan diabetes tipe 2. Tentu bukan berarti makan biskuit sekali dua kali langsung menyebabkan penyakit, tetapi frekuensi dan pola konsumsi sangat menentukan dampaknya.
Selain gula, kandungan lemak pada biskuit juga perlu diperhatikan. Banyak produk menggunakan lemak jenuh atau shortening agar teksturnya lebih renyah dan tahan lama. Konsumsi lemak jenis ini secara berlebihan dapat berdampak pada kadar kolesterol dalam darah, terutama jika tidak diimbangi dengan pola makan yang seimbang.
Karena ukurannya kecil, orang sering tidak sadar sudah menghabiskan satu bungkus penuh dalam sekali duduk. Padahal, total kalorinya bisa setara dengan satu porsi makan utama. Tanpa disadari, asupan energi harian pun melonjak.
Yang sering terlewat adalah dampaknya pada kebiasaan makan. Jika terlalu sering menjadikan biskuit sebagai pengganjal lapar, tubuh terbiasa dengan makanan instan rendah serat.