Keboncinta.com-- Banyak orang baru menyadari ada lebih dari satu jenis TOEFL ketika hendak mendaftar beasiswa atau studi lanjut. Awalnya terdengar sederhana: “yang penting TOEFL.” Namun ketika melihat pilihan TOEFL ITP dan TOEFL iBT, kebingungan mulai muncul. Apa bedanya? Mengapa ada dua versi? Dan mana yang sebenarnya dibutuhkan?
TOEFL sendiri adalah tes kemampuan bahasa Inggris yang dikembangkan oleh Educational Testing Service (ETS), lembaga asal Amerika Serikat yang juga menyelenggarakan berbagai tes standar internasional. Seiring waktu, formatnya berkembang mengikuti kebutuhan akademik global.
TOEFL ITP, atau Institutional Testing Program, biasanya digunakan untuk keperluan internal institusi. Banyak kampus di Indonesia menggunakan skor ITP sebagai syarat kelulusan, pendaftaran wisuda, atau seleksi beasiswa dalam negeri. Tes ini umumnya berbasis kertas atau komputer lokal dan fokus pada tiga kemampuan utama: listening comprehension, structure and written expression, serta reading comprehension.
Artinya, dalam TOEFL ITP tidak ada sesi speaking dan writing secara produktif. Peserta tidak diminta berbicara atau menulis esai. Skor yang dihasilkan berkisar antara 310 hingga 677. Karena formatnya lebih sederhana dan tidak mencakup kemampuan berbicara, biaya tes ini biasanya lebih terjangkau dibanding versi lainnya.
Sementara itu, TOEFL iBT (internet-Based Test) dirancang untuk kebutuhan internasional, terutama bagi mereka yang ingin kuliah atau bekerja di luar negeri. Berbeda dengan ITP, TOEFL iBT menguji empat keterampilan bahasa sekaligus: reading, listening, speaking, dan writing. Semua bagian terintegrasi dan berbasis komputer dengan sistem daring resmi dari ETS.
Di TOEFL iBT, peserta tidak hanya memahami teks dan percakapan, tetapi juga harus merespons secara aktif. Ada bagian speaking yang mengharuskan peserta merekam jawaban lisan, serta bagian writing yang meminta esai analitis berdasarkan bacaan dan audio. Skornya berkisar antara 0 hingga 120.
Perbedaan inilah yang membuat TOEFL iBT terasa lebih komprehensif dan menantang. Ia mengukur kemampuan bahasa secara menyeluruh, bukan hanya pemahaman pasif. Karena itu pula, sebagian besar universitas di Amerika, Eropa, dan negara lain mensyaratkan TOEFL iBT, bukan ITP.
Dari sisi pengakuan, TOEFL ITP umumnya tidak digunakan untuk pendaftaran studi ke luar negeri. Ia lebih bersifat lokal atau institusional. Sebaliknya, TOEFL iBT diakui secara internasional dan memiliki masa berlaku resmi selama dua tahun.
Namun bukan berarti yang satu lebih “baik” dari yang lain. Keduanya dirancang untuk tujuan berbeda.