Ujian Kesuksesan (Istidraj): Hati-hati Ketika Sholat Makin Bolong Tapi Karir dan Cuan Malah Makin Meroket

Ujian Kesuksesan (Istidraj): Hati-hati Ketika Sholat Makin Bolong Tapi Karir dan Cuan Malah Makin Meroket

28 Februari 2026 | 23:45

keboncinta.com--  Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, sering kali kita terjebak dalam persepsi bahwa keberlimpahan materi dan kelancaran urusan duniawi merupakan tanda mutlak kasih sayang serta keridaan Allah SWT. Padahal, dalam khazanah Islam, terdapat sebuah konsep yang sangat menggetarkan hati yang disebut sebagai istidraj, yakni jebakan berupa kesenangan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang terus-menerus melakukan maksiat tanpa merasa perlu untuk bertobat. Fenomena ini menjadi sangat relevan di tengah ambisi duniawi abad ke-21, di mana seseorang mungkin merasakan kariernya semakin melejit, omzet bisnisnya menembus angka miliaran, dan status sosialnya dipuja banyak orang, padahal di saat yang bersamaan ia semakin menjauh dari ketaatan. Sholat lima waktu mulai sering ditinggalkan dengan alasan kesibukan, sedekah menjadi berat karena merasa harta adalah hasil jerih payah sendiri, dan kemaksiatan kecil mulai dianggap biasa. Inilah saat di mana seseorang harus sangat waspada, karena kesuksesan tersebut bisa jadi bukan merupakan berkah, melainkan "uluran tali" yang perlahan-lahan akan menjatuhkannya ke dalam jurang kebinasaan yang lebih dalam.

Secara filosofis, istidraj adalah bentuk ujian yang paling halus karena ia menidurkan kesadaran spiritual manusia melalui zona nyaman yang menipu. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa apabila kita melihat Allah memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba yang terus bermaksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj. Bahaya utama dari kondisi ini adalah hilangnya sensitivitas nurani atau mati rasa spiritual, di mana seseorang merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan karena merasa semua urusannya beres tanpa bantuan doa. Ia mulai sombong dan merasa bahwa kesuksesannya adalah bukti kebenaran jalan hidupnya, padahal kemudahan tersebut hanyalah cara Allah membiarkan ia larut dalam kesesatan hingga datang waktu perhitungan yang tiba-tiba. Karir yang meroket dan cuan yang mengalir deras dalam kondisi lalai ibadah bukanlah sebuah prestasi, melainkan beban tanggung jawab yang sangat berat yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak tanpa ada pembela.

Ciri utama dari jebakan istidraj adalah adanya rasa aman yang palsu terhadap dosa yang dilakukan secara sadar. Seorang Muslim yang terjebak istidraj biasanya akan berkata dalam hati bahwa jika memang jalannya salah, mengapa hidupnya justru semakin mapan? Logika yang keliru ini menutup pintu hidayah dan membuat seseorang semakin enggan untuk bersujud. Padahal, nikmat yang hakiki adalah nikmat yang membuat kita semakin dekat dan tunduk kepada Sang Pencipta. Jika harta yang kita miliki justru membuat kita lupa arah kiblat, atau jabatan yang kita genggam membuat kita memandang rendah sesama manusia, maka sesungguhnya kita sedang berada di bawah ancaman "pemberian yang menghancurkan". Allah membiarkan nikmat itu terus bertambah agar di akhir nanti tidak ada lagi alasan bagi hamba tersebut untuk mengelak dari hukuman, karena ia telah diberikan segala kesempatan di dunia namun tetap memilih untuk berpaling.

Oleh karena itu, setiap kali pintu-pintu rezeki terbuka lebar, seorang mukmin sejati seharusnya justru merasa semakin takut dan segera melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah penambahan saldo di rekening diikuti dengan penambahan kekhusyukan dalam ibadah? Jika grafik kekayaan meningkat namun grafik ketaatan menurun, maka itulah tanda bahaya yang sangat nyata. Solusinya adalah dengan segera melakukan tobat nasuha, memperbanyak istigfar, dan memaksa diri untuk kembali konsisten dalam ibadah wajib maupun sunnah. Harta dan kesuksesan harus diposisikan hanya di tangan, bukan di dalam hati, agar ketika semua itu diambil atau ketika kita dipanggil menghadap-Nya, kita tidak dalam keadaan terpedaya oleh dunia yang fana. Mari kita lebih takut pada kesuksesan yang melalaikan daripada kesulitan yang mendekatkan kita kepada Allah, karena puncak dari kemuliaan bukanlah seberapa tinggi karir kita di mata manusia, melainkan seberapa sering dahi kita menyentuh bumi dalam kepasrahan yang tulus.

Tags:
Khazanah Islam Self Reminder Istidraj Muhasabah Diri

Komentar Pengguna