Parenting
Rahman Abdullah

7 Mitos MPASI yang Masih Dipercaya Orang Tua, Ini Fakta Sebenarnya

7 Mitos MPASI yang Masih Dipercaya Orang Tua, Ini Fakta Sebenarnya

05 Oktober 2026 | 21:04

KebonCinta.com-- Memulai Makanan Pendamping ASI (MPASI) menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan tumbuh kembang bayi. Namun, bagi orang tua baru, tahap ini sering kali disertai berbagai pertanyaan.

Informasi mengenai MPASI sangat mudah ditemukan, tetapi tidak semuanya benar. Berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat bahkan dapat membuat orang tua ragu menentukan makanan dan tekstur yang tepat untuk bayinya.

Padahal, pemahaman yang benar mengenai MPASI penting agar bayi mendapatkan makanan sesuai kebutuhan sekaligus memiliki pengalaman makan yang baik.

Berikut sejumlah mitos tentang MPASI yang masih sering dipercaya, beserta fakta yang perlu diketahui orang tua.

Baca Juga: Tekstur dan Porsi MPASI Bayi Sesuai Usia, Ini Panduan yang Perlu Diketahui Orang Tua 

Sembelit Berarti Bayi Belum Siap MPASI

Salah satu anggapan yang sering muncul adalah bayi yang mengalami sembelit setelah mulai MPASI dianggap belum siap menerima makanan padat.

Faktanya, perubahan pola buang air besar dapat terjadi ketika bayi mulai beralih dari asupan yang sebelumnya didominasi makanan cair menuju makanan dengan tekstur yang lebih padat. Sistem pencernaan bayi membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Karena itu, sembelit tidak otomatis berarti MPASI harus dihentikan. Orang tua dapat memperhatikan kecukupan cairan serta memberikan makanan yang mengandung serat sesuai kebutuhan bayi.

Jika keluhan berlangsung atau kondisi bayi mengkhawatirkan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sayur dan Buah Harus Diberikan Sebanyak-banyaknya

Ada pula anggapan bahwa semakin banyak sayur dan buah yang dikonsumsi bayi, semakin kecil kemungkinan mengalami sembelit.

Padahal, memberikan serat secara berlebihan juga bukan pilihan yang tepat. Asupan serat yang terlalu tinggi dapat membuat bayi cepat merasa kenyang sehingga asupan makanan lain yang mengandung zat gizi penting menjadi berkurang.

Karena itu, MPASI sebaiknya tetap diberikan secara beragam dan seimbang. Sayur dan buah merupakan bagian dari menu, tetapi tidak perlu mendominasi seluruh porsi makanan bayi.

Bayi Belum Mengenal Rasa

Sebagian orang tua mungkin berpikir bayi belum mengenal rasa sehingga makanan pendamping ASI sebaiknya diberikan tanpa rasa.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Pengalaman bayi terhadap rasa sebenarnya sudah dimulai sejak dalam kandungan dan berlanjut melalui ASI.

Ketika memasuki masa MPASI, bayi justru perlu mendapatkan pengalaman mengenal berbagai cita rasa. Pengenalan yang dilakukan secara bertahap dapat membantu bayi belajar menerima jenis makanan yang beragam.

Baca Juga: Mengapa MPASI Penting untuk Bayi? Ini Manfaat dan Faktor yang Perlu Diperhatikan 

Bayi Tanpa Gigi Tidak Boleh Makan Makanan Bertekstur

Mitos lainnya menyebutkan bahwa bayi yang belum memiliki gigi belum mampu mengonsumsi makanan dengan tekstur tertentu.

Faktanya, bayi memiliki kemampuan untuk mengolah makanan menggunakan gusi meskipun giginya belum tumbuh lengkap. Yang terpenting adalah tekstur makanan disesuaikan dengan tahap usia dan kemampuan bayi.

Pemberian tekstur secara bertahap juga menjadi bagian dari stimulasi kemampuan makan. Karena itu, ketiadaan gigi bukan alasan otomatis untuk memberikan makanan dengan tekstur yang selalu sangat halus.

Jika Terlambat Belajar Makan, Bayi Pasti Mengalami Gangguan Makan

Ada anggapan bahwa bayi memiliki satu periode tertentu untuk belajar makan. Jika kesempatan tersebut terlewat, bayi disebut akan mengalami gangguan makan.

Padahal, perkembangan setiap anak tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan menerima makanan, tekstur, maupun rasa dapat berkembang secara bertahap.

Orang tua perlu memberikan stimulasi makan dengan sabar dan konsisten. Pengalaman makan yang positif juga penting agar bayi tidak merasa tertekan ketika diperkenalkan dengan makanan baru.

Santan Tidak Aman untuk Bayi

Santan juga sering dianggap sebagai bahan makanan yang dapat mengganggu lambung bayi.

Faktanya, santan dapat menjadi salah satu sumber lemak dalam menu MPASI. Bahan ini dapat digunakan selama diberikan dalam jumlah yang sesuai dan diolah dengan cara yang tepat.

Yang perlu diperhatikan bukan sekadar ada atau tidaknya santan, tetapi bagaimana bahan tersebut digunakan dalam menu bayi serta disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pencernaannya.

Hati Ayam Mengandung Racun

Mitos lain yang cukup sering terdengar adalah hati ayam dianggap mengandung racun sehingga tidak layak diberikan kepada bayi.

Faktanya, hati ayam merupakan salah satu bahan makanan yang kaya zat besi. Kandungan zat besi di dalamnya juga memiliki tingkat penyerapan yang baik sehingga dapat menjadi bagian dari menu MPASI.

Meski demikian, cara pengolahan tetap perlu diperhatikan. Hati ayam harus dimasak dengan benar dan diberikan dalam jumlah yang sesuai agar kandungan gizinya dapat dimanfaatkan dengan baik.

Baca Juga: Jangan Diabaikan! Kebutuhan Tidur Anak Berdasarkan Usia, dari Bayi hingga Usia Sekolah 

Jangan Mudah Percaya Mitos MPASI

Masa MPASI merupakan tahap ketika bayi mulai mengenal berbagai jenis makanan, rasa, aroma, dan tekstur. Karena itu, keputusan orang tua sebaiknya tidak hanya didasarkan pada informasi yang beredar dari mulut ke mulut.

Sembelit setelah MPASI, bayi yang belum tumbuh gigi, penggunaan santan, hingga pemberian hati ayam memiliki penjelasan yang lebih kompleks daripada sekadar mitos yang berkembang.

Orang tua perlu memberikan makanan secara beragam, bertahap, dan sesuai kemampuan bayi.

Tags:
MPASI bayi Nutrisi

Komentar Pengguna