Berita
Hilmi An Naufal

Arm Perkenalkan Mali G2-Ultra NX, GPU HP Berbasis AI Diklaim Bisa Bawa Gaming hingga 120 FPS

Arm Perkenalkan Mali G2-Ultra NX, GPU HP Berbasis AI Diklaim Bisa Bawa Gaming hingga 120 FPS

08 September 2026 | 14:35

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Kemampuan grafis smartphone bersiap memasuki babak baru setelah Arm resmi memperkenalkan Mali G2-Ultra NX, GPU mobile generasi terbaru yang sejak awal dirancang untuk memanfaatkan kecerdasan buatan dalam proses rendering game.

Arm menyebut Mali G2-Ultra NX sebagai GPU Mali pertamanya yang mempunyai neural accelerator khusus yang terintegrasi langsung ke dalam pipeline grafis.

Teknologi tersebut memungkinkan pemrosesan grafis tradisional dan tugas berbasis AI berjalan secara lebih terintegrasi.

Pendekatan ini mirip dengan tren yang sebelumnya berkembang pada kartu grafis PC, di mana kecerdasan buatan mulai digunakan untuk meningkatkan resolusi, menghasilkan frame tambahan dan memperbaiki kualitas gambar tanpa harus merender setiap piksel secara konvensional.

Arm memperkenalkan tiga teknologi neural utama pada Mali G2-Ultra NX.

Pertama adalah Neural Super Sampling atau NSS.

Fitur tersebut dapat merender game dalam resolusi lebih rendah terlebih dahulu, kemudian menggunakan jaringan neural untuk merekonstruksi gambar menjadi resolusi yang lebih tinggi.

Dengan cara tersebut, GPU tidak perlu melakukan beban rendering penuh untuk menghasilkan gambar beresolusi tinggi.

Teknologi kedua adalah Neural Frame Rate Upscaling atau NFRU.

Sistem ini menggunakan AI untuk membuat frame tambahan di antara frame asli.

Tujuannya meningkatkan frame rate sehingga permainan terlihat lebih mulus tanpa peningkatan beban rendering tradisional yang terlalu besar.

Arm mengatakan kombinasi arsitektur baru dan NFRU dapat membantu mendukung sesi gaming mobile hingga 120 FPS pada skenario yang kompatibel.

Teknologi ketiga dinamakan Neural Super Sampling and Denoising atau NSSD.

Fitur tersebut menggabungkan peningkatan resolusi berbasis AI dengan proses denoising.

Kemampuan ini terutama ditujukan untuk game yang menggunakan ray tracing.

Ray tracing menghasilkan pencahayaan, refleksi dan bayangan yang lebih realistis, tetapi membutuhkan kemampuan komputasi sangat tinggi.

NSSD mencoba mengurangi beban tersebut dengan memanfaatkan AI untuk membantu membangun gambar akhir.

Mali G2-Ultra NX juga membawa generasi ketiga Ray Tracing Unit milik Arm.

Perusahaan mengatakan arsitektur tersebut dapat menangani pencahayaan, bayangan, refleksi dan geometri yang semakin kompleks.

Salah satu teknologi yang didukung adalah Opacity Micromaps.

Fitur ini membantu GPU menangani objek transparan atau rumit seperti dedaunan, kain dan permukaan berlapis secara lebih efisien.

Dalam salah satu demonstrasinya, Arm mengklaim penggunaan Opacity Micromaps dapat meningkatkan frame rate hingga sekitar 30 persen sekaligus mengurangi beban ray tracing hingga 70 persen.

Selain kemampuan berbasis AI, peningkatan juga diberikan untuk game yang masih menggunakan rendering tradisional.

Arm mengklaim Mali G2-Ultra NX menawarkan peningkatan performa gaming non-AI hingga sekitar 14 persen dibandingkan generasi sebelumnya.

Sementara dalam benchmark tertentu, peningkatan performa arsitektural disebut dapat mencapai 24 persen.

Perubahan yang lebih besar muncul ketika neural graphics digunakan.

Arm mengklaim platform barunya dapat memberikan hingga empat kali peningkatan performa per watt untuk pemrosesan neural graphics.

Efisiensi menjadi faktor sangat penting pada smartphone.

Berbeda dengan PC gaming yang mempunyai pendinginan besar dan suplai listrik tinggi, sebuah smartphone harus menjalankan game berat menggunakan baterai sambil mempertahankan suhu perangkat agar tetap nyaman di tangan.

Karena itu, penggunaan AI untuk mengurangi jumlah pekerjaan yang harus dilakukan GPU secara konvensional dapat menjadi salah satu solusi.

Arm juga memperkenalkan platform Arm CSS for Mobile 2 bersamaan dengan GPU tersebut.

Platform tersebut menggabungkan GPU Mali G2-Ultra NX dengan keluarga CPU Arm C2 terbaru.

Arm menyebut C2-Ultra sebagai CPU mobile terkuat yang pernah mereka kembangkan.

Platform tersebut juga dirancang untuk menangani tren agentic AI.

Dalam konsep agentic AI, kecerdasan buatan tidak hanya menjawab pertanyaan.

AI dapat mempertahankan konteks, menjalankan aplikasi, berkoordinasi dengan model lain dan menjalankan pekerjaan atas nama pengguna.

Semua proses tersebut diharapkan semakin banyak dilakukan langsung pada smartphone.

Untuk gamer, bagian paling menarik tentu perkembangan neural graphics.

Teknologi seperti upscaling dan frame generation sebelumnya banyak dikenal melalui GPU PC seperti NVIDIA GeForce RTX.

Kini pendekatan serupa semakin serius masuk ke perangkat mobile.

Arm mengatakan sejumlah developer game dan engine sudah mulai memanfaatkan teknologi tersebut.

NetEase misalnya berencana membawa dukungan Neural Super Sampling ke versi mobile Where Winds Meet.

Teknologi Arm juga sedang diintegrasikan ke sejumlah ekosistem game lainnya.

Meski demikian, kehadiran GPU baru tidak berarti seluruh smartphone langsung dapat menggunakan fitur tersebut.

Mali G2-Ultra NX nantinya perlu digunakan oleh produsen chipset dan kemudian dipasang ke smartphone komersial.

Dukungan game juga harus diberikan oleh developer.

Karena itu, manfaat sebenarnya kemungkinan baru akan terlihat setelah smartphone dengan platform generasi terbaru mulai beredar.

Peluncuran Mali G2-Ultra NX menunjukkan bahwa persaingan GPU smartphone kini tidak hanya mengenai jumlah core atau kecepatan clock.

Kemampuan menjalankan AI secara langsung di dalam pipeline grafis mulai menjadi salah satu faktor penting.

Jika implementasinya berjalan sesuai klaim Arm, kualitas visual game mobile beberapa tahun mendatang dapat semakin mendekati pengalaman yang selama ini identik dengan PC dan konsol.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna