KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Pengguna smartphone kembali diingatkan untuk berhati-hati ketika mengunduh aplikasi maupun membuka tautan yang dikirim melalui pesan.
Ancaman malware yang menargetkan layanan perbankan mengalami peningkatan sangat besar sepanjang awal 2026.
Perusahaan keamanan siber Kaspersky mendeteksi sebanyak 162.275 paket instalasi Trojan perbankan seluler hanya dalam tiga bulan pertama 2026.
Jumlah tersebut sangat besar karena sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan seluruh temuan yang tercatat sepanjang tahun 2024.
Angkanya juga setara dengan sekitar dua pertiga dari jumlah Trojan perbankan seluler yang terdeteksi sepanjang 2025.
Trojan perbankan merupakan jenis malware yang dirancang untuk mencuri informasi finansial pengguna.
Targetnya dapat berupa username, password, informasi kartu, kode akses hingga data yang digunakan untuk masuk ke aplikasi perbankan.
Serangan semacam ini menjadi semakin berbahaya karena smartphone sekarang menjadi salah satu perangkat utama untuk aktivitas finansial.
Masyarakat menggunakan smartphone untuk mobile banking, dompet digital, pembayaran QR hingga berbelanja online.
Apabila perangkat berhasil disusupi malware, informasi yang tersimpan atau dimasukkan pengguna dapat menjadi sasaran penjahat siber.
Data Kaspersky menunjukkan Trojan perbankan menyumbang sekitar 52,96 persen dari seluruh aplikasi seluler berbahaya yang mereka deteksi pada kuartal pertama 2026.
Persentase tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 31 persen sepanjang 2025.
Kaspersky Security Network juga mencatat lebih dari 2,67 juta serangan yang melibatkan malware, adware dan perangkat lunak seluler tidak diinginkan telah diblokir selama periode tersebut.
Selain itu ditemukan 306.070 paket instalasi berbahaya.
Sebanyak 439 di antaranya berkaitan dengan Trojan ransomware seluler.
Ransomware mempunyai karakter berbeda dengan Trojan perbankan.
Malware jenis tersebut biasanya mengunci data atau perangkat kemudian meminta tebusan kepada korban.
Namun keduanya menunjukkan bahwa smartphone semakin menjadi target menarik bagi penjahat siber.
Salah satu penyebabnya adalah semakin banyak data penting yang tersimpan di smartphone.
Perangkat tersebut dapat menyimpan email, foto dokumen, informasi rekening, percakapan pribadi hingga akses terhadap berbagai akun digital.
Penjahat siber juga menggunakan metode penyebaran yang semakin beragam.
Head of Consumer Channel Asia Pasifik Kaspersky Choon Hong Chee mengatakan pelaku menggunakan toko aplikasi tidak resmi, tautan phishing, penawaran hadiah palsu hingga aplikasi resmi yang telah dimodifikasi.
Iklan berbahaya juga dapat digunakan sebagai pintu masuk.
Dalam beberapa skenario, pengguna diarahkan mengunduh aplikasi yang tampilannya terlihat normal.
Aplikasi dapat menggunakan nama atau ikon yang menyerupai layanan populer.
Setelah dipasang, malware kemudian meminta sejumlah izin pada smartphone.
Beberapa malware mencoba mendapatkan izin aksesibilitas.
Izin tersebut sebenarnya dibuat untuk membantu pengguna berkebutuhan khusus mengoperasikan perangkat.
Namun apabila disalahgunakan, malware dapat memanfaatkannya untuk membaca isi layar atau melakukan tindakan tertentu tanpa disadari pengguna.
Teknik serangan juga semakin sering dilakukan melalui beberapa tahap.
Awalnya pengguna hanya menerima file atau tautan yang terlihat tidak berbahaya.
Setelah dibuka, perangkat kemudian diarahkan menjalankan komponen lain yang menjadi bagian dari serangan.
Cara seperti ini membuat aktivitas malware lebih sulit dikenali.
Kaspersky juga menemukan ancaman yang bahkan sudah berada di firmware perangkat sejak proses produksi.
Contohnya termasuk malware seperti Triada dan Keenadu.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman keamanan tidak hanya berasal dari aplikasi yang dipasang pengguna setelah membeli perangkat.
Lalu bagaimana pengguna dapat mengurangi risikonya?
Hal paling sederhana adalah tidak sembarangan menginstal file APK dari luar toko aplikasi resmi.
Pengguna Android sering mendapatkan file APK melalui WhatsApp, Telegram atau website tertentu.
File tersebut sebaiknya tidak langsung dipasang apabila sumbernya tidak benar-benar diketahui.
Modus seperti undangan pernikahan, surat tilang, resi paket maupun informasi hadiah juga perlu diwaspadai.
Penjahat dapat menggunakan file atau tautan dengan nama yang menarik perhatian korban agar mau membukanya.
Pengguna juga sebaiknya memperbarui sistem operasi dan aplikasi secara rutin.
Pembaruan tidak hanya memberikan fitur baru.
Produsen sering memasukkan perbaikan terhadap celah keamanan melalui update.
Password dan PIN mobile banking juga tidak boleh diberikan kepada siapa pun.
Hal yang sama berlaku untuk kode OTP.
Bank yang sah umumnya tidak meminta pengguna menyerahkan OTP melalui chat atau telepon.
Apabila seseorang menghubungi dan mengaku sebagai petugas bank kemudian meminta kode OTP, pengguna harus mencurigai permintaan tersebut.
Aktivitas rekening juga perlu diperiksa secara berkala.
Transaksi kecil yang tidak dikenal jangan dianggap sepele karena dapat menjadi tanda informasi rekening sudah diketahui pihak lain.
Apabila menemukan aktivitas mencurigakan, pengguna sebaiknya segera menghubungi bank melalui kanal resmi.
Lonjakan Trojan perbankan pada 2026 menunjukkan bahwa keamanan smartphone tidak lagi dapat dianggap persoalan kecil.
Di tengah semakin luasnya penggunaan mobile banking di Indonesia, satu aplikasi berbahaya dapat memberikan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar membuat smartphone menjadi lambat.
Karena itu, kebiasaan pengguna tetap menjadi pertahanan pertama.
Berpikir dua kali sebelum membuka tautan atau memasang aplikasi dari sumber yang tidak dikenal dapat menjadi langkah sederhana tetapi sangat penting untuk menjaga rekening tetap aman.