Keboncinta.com-- Tidak sedikit orang yang memilih diam saat diminta berbicara dalam bahasa asing.
Mereka sebenarnya tahu arti kata-katanya, memahami tata bahasa dasar, bahkan memiliki nilai yang baik ketika belajar.
Namun, begitu harus mengucapkannya di depan orang lain, rasa takut langsung mengambil alih.
Takut salah pengucapan, takut ditertawakan, atau takut dianggap kurang pintar.
Akibatnya, kesempatan untuk berlatih justru terus dihindari.
Padahal, kemampuan berbicara bukan tumbuh karena menunggu siap, melainkan karena berani mencoba, meski belum sempurna.
Menariknya, hampir semua orang yang kini fasih berbahasa asing pernah berada di posisi yang sama.
Mereka juga pernah salah memilih kata, keliru menyusun kalimat, atau bahkan membuat lawan bicara kebingungan.
Bedanya, mereka tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk berhenti.
Mereka memandang setiap kekeliruan sebagai umpan balik yang membantu mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Cara belajar seperti inilah yang membuat kemampuan berkembang lebih cepat.
Otak ternyata lebih mudah mengingat pengalaman yang melibatkan kesalahan lalu diperbaiki daripada sekadar membaca teori tanpa pernah mempraktikkannya.
Sayangnya, banyak sistem belajar membuat kita terbiasa mengejar jawaban yang selalu benar.
Sejak sekolah, kesalahan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Pola pikir itu terbawa hingga dewasa. Saat belajar bahasa asing, kita merasa harus berbicara tanpa cela sejak awal.
Padahal, bahasa adalah alat komunikasi, bukan ujian yang menuntut nilai sempurna.
Lawan bicara umumnya lebih menghargai keberanian seseorang untuk mencoba daripada kemampuan menghafal aturan tata bahasa.
Bahkan, percakapan sederhana dengan beberapa kesalahan kecil jauh lebih bermanfaat daripada diam karena takut keliru.
Semakin sering digunakan, semakin alami pula kemampuan bahasa berkembang.