Perundungan atau bullying di sekolah masih menjadi persoalan serius di Indonesia dan dunia. Meski sering dianggap sebagai “kenakalan anak”, kenyataannya perundungan dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang berat bagi korban, baik secara emosional maupun psikologis.
Perundungan bisa terjadi dalam berbagai bentuk — mulai dari fisik, verbal, sosial, hingga digital (cyberbullying). Semua jenisnya berpotensi meninggalkan luka batin yang dalam. Korban bullying sering kali mengalami ketakutan, rasa malu, dan kehilangan kepercayaan diri.
Jika perundungan terjadi dalam waktu singkat, korban mungkin bisa pulih dengan cepat. Namun, jika berlangsung lama atau intens, efeknya bisa menetap hingga dewasa. Banyak penelitian kini menunjukkan bahwa trauma akibat perundungan di masa kecil dapat berkembang menjadi gangguan mental di masa depan, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Dulu, banyak orang belum menyadari bahwa pengalaman perundungan di masa kecil bisa meninggalkan bekas yang begitu dalam hingga bertahun-tahun kemudian. Namun kini, kesadaran akan dampak psikologis bullying semakin meningkat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga oleh pelaku. Anak-anak yang terbiasa melakukan perundungan sering kali memiliki masalah emosi dan empati yang buruk, yang dapat memengaruhi hubungan sosial mereka di masa depan.
Bagi korban, efek bullying bisa muncul segera setelah kejadian, atau baru terasa bertahun-tahun kemudian. Mereka mungkin terlihat tenang di luar, namun menyimpan kemarahan, rasa malu, dan ketakutan yang sulit diungkapkan.
Salah satu efek yang sering muncul adalah masalah emosi dan amarah. Korban bullying terkadang menggunakan kemarahan sebagai mekanisme pertahanan diri. Mereka bisa menjadi mudah tersinggung, menarik diri, atau bahkan menunjukkan perilaku agresif terhadap orang lain.
Bagi korban, efek bullying bisa muncul segera setelah kejadian, atau baru terasa bertahun-tahun kemudian. Mereka mungkin terlihat tenang di luar, namun menyimpan kemarahan, rasa malu, dan ketakutan yang sulit diungkapkan.
Salah satu efek yang sering muncul adalah masalah emosi dan amarah. Korban bullying terkadang menggunakan kemarahan sebagai mekanisme pertahanan diri. Mereka bisa menjadi mudah tersinggung, menarik diri, atau bahkan menunjukkan perilaku agresif terhadap orang lain.
Dalam beberapa kasus ekstrem, kemarahan yang tidak tersalurkan bisa berubah menjadi perilaku agresif. Sebuah penelitian di Journal of School Violence menunjukkan bahwa sejumlah pelaku kekerasan di sekolah di Amerika Serikat — termasuk penembakan massal (school shootings) — ternyata dulunya merupakan korban bullying berat.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa tidak semua korban bullying akan menjadi pelaku kekerasan. Kasus-kasus ekstrem tersebut biasanya terjadi ketika korban menyimpan kemarahan bertahun-tahun tanpa outlet emosional yang sehat dan tidak mendapatkan dukungan psikologis yang memadai.
Satu-satunya cara untuk benar-benar pulih dari trauma akibat perundungan adalah dengan menemukan strategi pemulihan yang tepat. Setelah terlepas dari situasi perundungan, korban perlu mengembalikan kendali atas hidup mereka dan fokus pada perawatan diri (self-care) serta penyembuhan emosional.
Langkah pertama dalam proses pemulihan adalah mencari dukungan sosial yang positif. Berada di lingkungan aman, seperti keluarga yang suportif atau teman yang bisa dipercaya, dapat membantu korban mengatasi rasa takut dan membangun kembali kepercayaan diri.
Bergabung dengan kelompok dukungan (support group) juga sangat membantu. Dalam kelompok ini, korban bisa saling berbagi pengalaman, belajar dari sesama penyintas, dan mendapatkan kekuatan dari solidaritas bersama.
Selain dukungan sosial, terapi psikologis memainkan peran penting dalam membantu korban bullying pulih dari trauma. Salah satu metode yang paling efektif adalah Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy / CBT).
Melalui terapi ini, seorang psikolog atau terapis membantu korban:
Memahami akar dari trauma yang dialami,
Mengidentifikasi pola pikir negatif yang terbentuk akibat bullying, dan
Mengubahnya menjadi pola pikir yang lebih sehat dan realistis.
Beberapa teknik tambahan juga sering digunakan untuk membantu proses penyembuhan, seperti:
Menulis jurnal untuk mengekspresikan perasaan,
Bermain peran (role play) untuk menghadapi kembali situasi traumatis secara aman,
Meditasi dan mindfulness untuk menenangkan pikiran,
Terapi paparan (exposure therapy) bagi korban yang masih takut menghadapi lingkungan sosial.
Pendekatan ini membantu korban memahami, melepaskan, dan memproses emosi terpendam, sehingga mereka bisa bergerak maju tanpa terus dibayangi masa lalu.
Perundungan bukan hanya melukai perasaan, tetapi juga bisa berdampak besar pada kehidupan sosial dan akademik korban.