Fenomena Pamer Sedekah di Konten YouTube, Riya atau Syiar?

Fenomena Pamer Sedekah di Konten YouTube, Riya atau Syiar?

16 Desember 2025 | 19:14

Keboncinta.com--  Perkembangan media sosial, khususnya YouTube, telah melahirkan fenomena baru dalam praktik kebaikan. Salah satunya adalah konten sedekah yang direkam, diedit, dan dipublikasikan untuk konsumsi publik. Di satu sisi, konten ini mengundang empati dan menginspirasi banyak orang untuk berbagi. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan krusial dalam khazanah Islam: apakah pamer sedekah di media sosial termasuk riya, atau justru bagian dari syiar kebaikan?

Dalam Islam, sedekah merupakan amal mulia yang sangat dianjurkan. Namun, nilai sedekah tidak hanya terletak pada jumlahnya, melainkan pada niat di baliknya. Riya adalah melakukan amal ibadah dengan tujuan dilihat dan dipuji manusia, bukan semata-mata karena Allah SWT. Rasulullah SAW bahkan menyebut riya sebagai syirik kecil karena dapat merusak keikhlasan amal.

Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat jelas. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 271, Allah SWT berfirman bahwa menampakkan sedekah adalah baik, namun menyembunyikannya dan memberikannya kepada fakir miskin itu lebih baik. Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang ditampakkan tidak otomatis tercela, selama niatnya benar dan tujuannya untuk kemaslahatan.

Di sinilah letak perbedaan antara riya dan syiar. Jika sedekah ditampilkan dengan tujuan menginspirasi orang lain, mengajak kepada kebaikan, atau menumbuhkan budaya berbagi, maka hal tersebut dapat bernilai syiar. Sebaliknya, jika konten dibuat untuk mencari popularitas, keuntungan pribadi, atau validasi sosial, maka amal tersebut berpotensi jatuh pada riya.

Para ulama menekankan pentingnya muhasabah niat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa niat adalah ruh amal. Amal yang tampak besar bisa bernilai kecil di sisi Allah jika tercampur kepentingan duniawi, sementara amal sederhana bisa bernilai agung karena keikhlasan.

Fenomena konten sedekah di YouTube juga menyimpan risiko lain, yakni melukai martabat penerima bantuan. Islam sangat menjaga kehormatan kaum dhuafa. Jika proses sedekah justru mempermalukan, mengeksploitasi kesedihan, atau menjadikan penderitaan orang lain sebagai komoditas konten, maka hal tersebut bertentangan dengan adab sedekah dalam Islam.

Oleh karena itu, diperlukan kebijaksanaan dalam menyikapi tren ini. Bagi pembuat konten, penting untuk meluruskan niat, menjaga adab, dan memastikan bahwa manfaatnya lebih besar daripada mudaratnya. Sementara bagi penonton, hendaknya tidak mudah menghakimi, tetapi juga tidak menelan mentah-mentah setiap konten kebaikan yang dipertontonkan.

Pada akhirnya, riya atau syiar bukan ditentukan oleh kamera, melainkan oleh hati. Media hanyalah alat, sedangkan nilai amal ditentukan oleh keikhlasan dan adab yang menyertainya. Dalam era digital, menjaga hati tetap lurus menjadi tantangan sekaligus ladang pahala bagi umat Islam.

Tags:
Khazanah Islam Sedekah Riya Syiar Islam Dakwah Digital

Komentar Pengguna