Teknologi
Hilmi An Naufal

GPT-6 Astra Bikin Investor Khawatir, Saham Salesforce, ServiceNow dan Intuit Jatuh hingga 5 Persen

GPT-6 Astra Bikin Investor Khawatir, Saham Salesforce, ServiceNow dan Intuit Jatuh hingga 5 Persen

09 September 2026 | 07:56

KEBONCINTA.COM – Rabu, 9 September 2026 – Kehadiran generasi baru agen kecerdasan buatan mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terhadap masa depan perusahaan software tradisional.

Saham sejumlah perusahaan software besar Amerika Serikat mengalami tekanan pada perdagangan Selasa setelah investor menilai model AI generasi terbaru dapat mengambil alih lebih banyak pekerjaan yang selama ini membutuhkan aplikasi khusus.

Salesforce, ServiceNow dan Intuit menjadi beberapa perusahaan yang mendapatkan tekanan paling besar.

Reuters melaporkan saham perusahaan-perusahaan tersebut turun sekitar 4 hingga 5 persen.

Indeks software dan layanan pada S&P 500 juga turun sekitar 1,4 persen dan mencatat pelemahan untuk hari kedua berturut-turut.

Kekhawatiran terbaru muncul setelah OpenAI meluncurkan GPT-6 Astra.

Model tersebut dirancang mempunyai kemampuan jauh melampaui chatbot biasa.

Astra dapat menggunakan komputer dan browser, mengerjakan pekerjaan coding, melakukan penelitian hingga menjalankan tugas yang terdiri dari banyak tahapan.

Kemampuan tersebut membuat investor mulai mempertanyakan apakah perusahaan masih membutuhkan sebanyak mungkin software khusus apabila sebuah agen AI dapat melakukan pekerjaan yang sama dari satu antarmuka.

Contohnya dapat terlihat pada software enterprise.

Selama bertahun-tahun perusahaan membeli berbagai aplikasi untuk pekerjaan berbeda.

Satu aplikasi digunakan untuk customer relationship management atau CRM.

Aplikasi lain digunakan untuk mengelola tiket dukungan pelanggan.

Software berbeda digunakan untuk keuangan, pemasaran maupun administrasi.

Salesforce menjadi salah satu pemain terbesar pada CRM.

ServiceNow mempunyai posisi kuat dalam workflow serta layanan perusahaan.

Intuit dikenal melalui software keuangan dan akuntansi.

Model bisnis perusahaan software semacam itu biasanya menggunakan subscription.

Perusahaan membayar biaya setiap pengguna atau setiap bulan untuk mendapatkan akses ke aplikasi.

AI agent berpotensi mengubah cara pengguna berinteraksi dengan sistem tersebut.

Alih-alih membuka beberapa aplikasi kemudian memasukkan informasi secara manual, pekerja dapat memberikan instruksi kepada agen AI.

Misalnya seseorang cukup mengatakan agar AI memeriksa email pelanggan, memperbarui CRM kemudian membuat jadwal tindak lanjut.

Agen kemudian dapat mencoba menjalankan seluruh proses tersebut.

Namun hal ini tidak otomatis berarti Salesforce, ServiceNow maupun perusahaan software lainnya akan digantikan AI.

Agen tetap membutuhkan data dan sistem backend.

CRM misalnya menyimpan informasi pelanggan, riwayat transaksi dan berbagai proses bisnis yang sangat kompleks.

AI mungkin menjadi antarmuka baru untuk menggunakan sistem tersebut, bukan menggantikannya sepenuhnya.

Perusahaan software besar juga sudah mengembangkan produk AI mereka sendiri.

Salesforce mempunyai Agentforce.

ServiceNow mengembangkan berbagai agen AI yang terintegrasi dengan platform workflow perusahaan.

Intuit juga menggunakan kecerdasan buatan pada produk finansialnya.

Dengan demikian persaingan sebenarnya bukan sekadar “AI melawan software”.

Pertanyaannya adalah perusahaan mana yang berhasil menjadikan AI sebagai bagian paling penting dari platform mereka.

Tetapi investor tetap khawatir terhadap perubahan struktur harga.

Jika satu agen AI dapat mengerjakan pekerjaan beberapa pengguna, perusahaan mungkin tidak lagi membutuhkan jumlah lisensi software sebanyak sebelumnya.

Fenomena ini sering disebut seat compression.

Bayangkan sebuah perusahaan sebelumnya mempunyai 100 pekerja yang masing-masing membutuhkan lisensi software.

Jika AI membuat satu pekerja dapat menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan dua orang, perusahaan mungkin hanya membutuhkan 50 atau 60 lisensi.

Bagi vendor yang mendapatkan pendapatan berdasarkan jumlah pengguna, perubahan tersebut dapat memberikan tekanan.

Selain itu muncul kemungkinan AI agent langsung berinteraksi dengan database atau API.

Pengguna tidak selalu harus membuka dashboard software.

Jika aplikasi hanya menjadi backend yang digunakan agen secara otomatis, nilai antarmuka aplikasi dapat berkurang.

Hal seperti ini menjadi salah satu kekhawatiran terbesar pasar terhadap perusahaan software.

Namun perubahan tersebut juga dapat menjadi peluang.

Jika perusahaan software mempunyai data bisnis yang sangat penting, AI justru dapat membuat data tersebut lebih bernilai.

Salesforce misalnya memiliki informasi hubungan pelanggan milik perusahaan.

ServiceNow mempunyai data workflow.

Intuit mempunyai informasi finansial pengguna bisnis.

Model AI akan membutuhkan akses ke data tersebut agar dapat memberikan hasil yang berguna.

Perusahaan software kemudian dapat memungut biaya berdasarkan konsumsi AI atau pekerjaan yang diselesaikan, bukan hanya jumlah pengguna.

Model bisnis software akhirnya dapat berubah dari seat-based pricing menuju usage-based atau outcome-based pricing.

Perubahan semacam itu sudah mulai dibahas di industri enterprise software.

Investor sekarang mencoba memperkirakan perusahaan mana yang akan mendapatkan keuntungan dan perusahaan mana yang akan kehilangan posisi.

Pasar saham menunjukkan ketidakpastian tersebut.

Pada perdagangan Selasa, S&P 500 turun sekitar 0,58 persen.

Namun saham teknologi menunjukkan arah yang berbeda-beda.

Perusahaan software mendapatkan tekanan akibat kekhawatiran AI agent.

Sebaliknya, sejumlah perusahaan semiconductor justru menguat karena AI meningkatkan permintaan hardware.

Intel dan Qualcomm termasuk yang mengalami kenaikan setelah muncul perkembangan terkait chip pusat data AI.

Situasi tersebut menggambarkan fenomena menarik.

Ledakan kecerdasan buatan dapat menjadi kabar sangat baik bagi perusahaan pembuat chip tetapi menciptakan ketidakpastian bagi perusahaan pembuat software.

Pusat data membutuhkan semakin banyak processor, memori dan jaringan.

Namun software tradisional menghadapi pertanyaan apakah fungsi tertentu akan digabungkan ke dalam agen AI.

Perlu diingat bahwa pergerakan saham satu atau dua hari bukan bukti bahwa sebuah industri benar-benar akan kehilangan bisnisnya.

Investor sering bereaksi terhadap ekspektasi dan risiko yang belum tentu menjadi kenyataan.

Astra juga masih merupakan teknologi baru.

Dibutuhkan waktu untuk mengetahui seberapa konsisten agen tersebut menjalankan pekerjaan bisnis dunia nyata.

Sistem enterprise mempunyai berbagai persyaratan seperti keamanan, audit, kepatuhan dan reliabilitas.

AI dapat membuat kesalahan.

Jika chatbot salah menjawab pertanyaan umum, dampaknya mungkin kecil.

Namun jika agen salah memperbarui data pelanggan atau melakukan transaksi bisnis, konsekuensinya dapat jauh lebih serius.

Karena itu perusahaan kemungkinan tidak akan mengganti sistem kritis mereka dalam waktu singkat hanya karena model AI baru diluncurkan.

Yang lebih mungkin terjadi adalah AI menjadi lapisan baru di atas software yang sudah digunakan.

Namun lapisan tersebut dapat mengubah siapa yang mendapatkan nilai ekonomi terbesar.

Apakah nilai utama berada pada aplikasi, data atau agen yang mengendalikan semuanya?

Pertanyaan itulah yang kini mulai diperhitungkan investor.

Penurunan saham Salesforce, ServiceNow dan Intuit menunjukkan pasar melihat kemampuan agen AI sebagai ancaman yang cukup serius untuk dipertimbangkan.

Bagi pekerja kantoran, perkembangan ini juga memberi gambaran mengenai arah software masa depan.

Pengguna mungkin semakin jarang berpindah antarbelasan dashboard.

Sebaliknya mereka dapat meminta sebuah agen AI menyelesaikan pekerjaan dengan memanfaatkan berbagai aplikasi di belakang layar.

Jika tren tersebut benar-benar terjadi, hadirnya GPT-6 Astra dan agen AI generasi baru dapat menjadi awal perubahan besar pada industri software enterprise.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna