KEBONCINTA.COM – Rabu, 9 September 2026 – Perlombaan membuat programmer berbasis kecerdasan buatan semakin panas setelah Cognition, perusahaan di balik agen coding Devin, mendapatkan pendanaan baru sebesar US$2 miliar.
Putaran investasi terbaru membuat valuasi Cognition melonjak menjadi US$48 miliar.
Angka tersebut sangat mencolok karena perusahaan baru berdiri pada 2024.
Lebih menarik lagi, valuasi Cognition hampir dua kali lipat hanya dalam waktu sekitar empat bulan.
Pada putaran pendanaan sebelumnya pada Mei 2026, perusahaan mempunyai valuasi sekitar US$26 miliar.
Putaran terbaru dipimpin oleh sejumlah investor teknologi besar termasuk Andreessen Horowitz, Accel, Founders Fund, General Catalyst dan Avenir.
Lonjakan valuasi tersebut menunjukkan investor masih melihat peluang sangat besar dalam kategori AI coding.
Kecerdasan buatan untuk pemrograman menjadi salah satu penggunaan AI generatif yang tumbuh paling cepat.
Pada awalnya, alat AI coding sebagian besar hanya digunakan untuk menyelesaikan potongan kode atau memberikan saran.
Sekarang sistem mulai berubah menjadi agen yang dapat menerima sebuah tugas kemudian menjalankan banyak langkah secara mandiri.
Devin merupakan salah satu produk yang mencoba mengambil pendekatan tersebut.
Pengguna dapat memberikan instruksi mengenai fitur atau perubahan yang ingin dibuat.
Agen AI kemudian dapat membaca source code, mengubah file, menjalankan command, mencari penyebab error dan mencoba melakukan perbaikan.
Konsep tersebut membuat AI lebih mirip anggota tambahan dalam tim pengembangan dibandingkan sekadar autocomplete.
Pertumbuhan bisnis Cognition juga berlangsung sangat cepat.
Perusahaan mengatakan annualized run-rate revenue meningkat dari sekitar US$492 juta pada Mei menjadi sekitar US$900 juta sekarang.
Annualized run-rate biasanya dihitung dengan mengambil tingkat pendapatan saat ini kemudian memproyeksikannya selama satu tahun.
Angka tersebut berbeda dari pendapatan yang benar-benar sudah diterima selama 12 bulan, tetapi dapat memberikan gambaran mengenai kecepatan pertumbuhan bisnis.
Cognition bahkan diperkirakan dapat mencapai annualized revenue US$4 miliar hingga US$5 miliar sebelum akhir 2026 apabila pertumbuhannya berlanjut.
Perusahaan sudah mempunyai sejumlah pelanggan enterprise besar.
Nama seperti Mercedes-Benz, NASA, Goldman Sachs dan Citi termasuk organisasi yang menggunakan teknologi Cognition.
Hal tersebut memperlihatkan AI coding tidak lagi hanya digunakan programmer individu untuk proyek kecil.
Perusahaan besar mulai menguji teknologi tersebut untuk membantu mengembangkan dan memelihara software mereka.
Namun bisnis AI coding mempunyai tantangan besar dari sisi biaya.
Model kecerdasan buatan membutuhkan komputasi GPU yang mahal.
TechCrunch mencatat Cognition menyewa cluster server Nvidia dengan biaya yang mencapai ratusan juta dolar AS per tahun.
Total cash burn perusahaan bahkan diperkirakan dapat mencapai sekitar US$800 juta tahun ini.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa perusahaan AI membutuhkan pendanaan dengan nilai sangat besar meskipun pendapatannya sudah tumbuh cepat.
Semakin banyak pelanggan menggunakan agen coding, semakin banyak token dan komputasi yang harus diproses.
Satu tugas coding kompleks dapat membutuhkan model membaca banyak file dan menjalankan proses reasoning berkali-kali.
Jika jutaan tugas dijalankan setiap hari, biaya infrastrukturnya menjadi sangat besar.
Cognition karena itu tidak ingin selamanya bergantung pada model pihak ketiga.
Perusahaan sedang melatih model sendiri menggunakan teknologi open-source sebagai fondasi.
Strateginya serupa dengan sejumlah perusahaan AI lainnya.
Model milik sendiri dapat membantu menurunkan biaya yang sebelumnya harus dibayarkan kepada penyedia seperti OpenAI atau Anthropic.
Perusahaan juga dapat mengoptimalkan model khusus untuk pekerjaan coding.
Namun membangun model sendiri membutuhkan investasi komputasi tambahan.
Cognition harus menyediakan dataset, tim peneliti dan GPU untuk training.
Karena itu pendanaan US$2 miliar kemungkinan memberikan ruang yang jauh lebih besar untuk mengembangkan teknologi internal.
Persaingan pasar AI coding sendiri semakin ketat.
Berbagai produk sekarang menawarkan kemampuan membuat, memahami dan memperbaiki software.
Perusahaan teknologi besar maupun startup berlomba menjadikan AI sebagai bagian utama pekerjaan programmer.
Hal yang menarik adalah investor tampaknya belum percaya pasar akan dikuasai hanya oleh satu perusahaan.
Valuasi Cognition yang mencapai US$48 miliar menunjukkan modal besar tetap mengalir kepada pesaing meskipun terdapat pemain lain dengan pengguna dan pendapatan sangat tinggi.
Kemampuan agen coding memang dapat berbeda berdasarkan jenis proyek.
Satu model mungkin lebih bagus memahami codebase besar.
Model lain dapat unggul pada pembuatan interface atau debugging.
Perusahaan juga mempunyai kebutuhan keamanan dan integrasi yang berbeda.
Itulah sebabnya pasar masih dapat menyediakan ruang bagi beberapa pemain besar.
Namun peningkatan kemampuan AI juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan profesi programmer.
Jika agen dapat mengerjakan lebih banyak tugas secara mandiri, apakah perusahaan masih membutuhkan developer dalam jumlah yang sama?
Jawabannya belum sederhana.
AI memang dapat mempercepat penulisan kode.
Tetapi programmer tetap harus menentukan kebutuhan, arsitektur, keamanan dan memastikan hasil AI benar-benar bekerja.
Code yang terlihat benar juga dapat mengandung bug.
Semakin besar aplikasi, semakin tinggi pula konsekuensi dari kesalahan.
Peran developer karena itu berpotensi bergeser.
Pekerjaan manual menulis banyak baris kode dapat berkurang, sementara kemampuan mengarahkan AI, memeriksa hasil dan memahami keseluruhan sistem menjadi semakin penting.
Perusahaan mungkin juga dapat membuat lebih banyak software dengan jumlah tenaga yang sama.
Sebelumnya sebuah fitur membutuhkan beberapa minggu.
Dengan bantuan agen AI, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam beberapa hari.
Produktivitas yang meningkat dapat membuat perusahaan membangun lebih banyak aplikasi daripada sekadar mengurangi jumlah programmer.
Valuasi US$48 miliar yang diberikan kepada Cognition memperlihatkan besarnya ekspektasi investor terhadap perubahan tersebut.
Perusahaan yang baru berumur sekitar dua tahun kini dinilai setara dengan perusahaan teknologi mapan yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
Namun valuasi besar sekaligus menciptakan tekanan.
Cognition harus membuktikan pertumbuhan pendapatan dapat mengejar ekspektasi sekaligus menurunkan biaya komputasi.
Jika berhasil, Devin dan agen coding generasi berikutnya dapat menjadi salah satu teknologi yang paling banyak mengubah cara software dibuat.
Perlombaan AI coding kini bukan lagi mengenai siapa yang dapat menyelesaikan satu fungsi paling cepat.
Target berikutnya adalah AI yang mampu memahami proyek besar dan mengerjakan pekerjaan developer dalam jangka waktu panjang dengan sedikit pengawasan manusia.