Keboncinta.com-- Menjelang keberangkatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), tidak sedikit mahasiswa yang mulai dihantui berbagai pikiran.
Bagaimana jika sulit beradaptasi dengan warga? Bagaimana kalau program kerja tidak berjalan sesuai rencana? Bagaimana jika tidak cocok dengan teman satu kelompok? Bahkan, ada yang sudah merasa lelah sebelum benar-benar berangkat hanya karena terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk.
Padahal, hal-hal yang dikhawatirkan belum tentu terjadi.
Ironisnya, overthinking justru sering menguras energi yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Perasaan seperti itu sebenarnya cukup wajar.
KKN adalah pengalaman baru yang membawa mahasiswa keluar dari rutinitas kampus menuju lingkungan yang belum dikenal.
Otak manusia memang cenderung mencari kepastian ketika akan menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
Sayangnya, ketika kebutuhan akan kepastian itu tidak terpenuhi, pikiran mulai menciptakan berbagai skenario yang belum tentu nyata.
Semakin sering dipikirkan, semakin besar pula rasa cemas yang muncul.
Akibatnya, fokus bergeser dari mempersiapkan solusi menjadi sibuk membayangkan masalah yang bahkan mungkin tidak pernah datang.
Yang sering terlupakan, hampir semua mahasiswa KKN memulai perjalanan dengan perasaan yang sama.
Mereka sama-sama sedang belajar, sama-sama belum mengenal lokasi penempatan, dan sama-sama akan menghadapi tantangan baru.
Perbedaannya hanya terletak pada cara menyikapinya.
Mahasiswa yang mampu menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan biasanya lebih cepat beradaptasi ketika tiba di lapangan.
Mereka tidak menghabiskan waktu untuk menebak-nebak masa depan, melainkan fokus mempelajari kondisi masyarakat, membangun komunikasi dengan kelompok, dan bersikap terbuka terhadap pengalaman baru.
Justru dari situ, rasa percaya diri tumbuh sedikit demi sedikit.
KKN bukanlah ujian untuk menjadi mahasiswa yang sempurna, melainkan ruang untuk belajar menghadapi situasi nyata dengan segala dinamikanya.
Daripada terus memikirkan kemungkinan yang belum terjadi, lebih baik mengalihkan energi pada hal-hal yang benar-benar bisa dipersiapkan.
Mengenal budaya daerah tujuan, berdiskusi dengan anggota kelompok, menjaga kesehatan, hingga melatih kemampuan komunikasi akan jauh lebih bermanfaat dibanding terus dihantui kekhawatiran.
Tidak ada KKN yang berjalan tanpa tantangan, tetapi tidak ada pula mahasiswa yang pulang tanpa pelajaran berharga.