Parenting
Rahman Abdullah

Jangan Larang Anak Marah, Begini Cara Mengajarkan Emosi dengan Aman

Jangan Larang Anak Marah, Begini Cara Mengajarkan Emosi dengan Aman

04 Oktober 2026 | 19:15

Keboncinta.com-- Marah adalah bagian dari emosi manusia yang tidak dapat dihindari. Anak-anak pun memiliki hak untuk merasa kesal, kecewa, atau marah ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Namun, kemampuan untuk mengendalikan dan mengekspresikan emosi tidak muncul begitu saja. Anak perlu mendapatkan bimbingan agar mampu memahami perasaannya dan menyalurkannya dengan cara yang aman.

Jika sejak kecil anak tidak dibantu mengenali serta mengatur emosinya, kesulitan tersebut berpotensi terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain.

Baca Juga: Anak Sering Lupa Instruksi? Ini Cara Melatih Memori Kerja agar Lebih Mudah Mengingat 

Memahami kapasitas emosi anak

Setiap orang dapat diibaratkan memiliki ruang untuk menampung berbagai emosi. Pada anak-anak, kapasitas tersebut masih relatif terbatas dibandingkan orang dewasa.

Ketika berbagai perasaan seperti lelah, kecewa, takut, sedih, atau kesal menumpuk, ruang tersebut dapat terasa penuh. Anak kemudian mungkin menunjukkannya melalui tangisan, rengekan, diam, atau kemarahan.

Karena itu, ledakan emosi tidak selalu muncul hanya karena satu kejadian. Bisa saja terdapat banyak perasaan yang sudah terkumpul sebelumnya.

Kenali zona emosi anak

Kondisi emosi anak dapat dibayangkan berada dalam tiga keadaan. Pertama adalah zona tenang, ketika anak masih mampu berpikir, berkomunikasi, dan merespons situasi dengan cukup baik.

Kedua adalah zona fight. Dalam kondisi ini, anak dapat menunjukkan perilaku melawan, berteriak, marah, atau menjadi lebih agresif karena merasa terancam atau sangat tertekan.

Ketiga adalah zona flight. Anak yang berada dalam kondisi ini cenderung memilih menghindar, diam, menarik diri, atau menjauh dari situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Ketika emosi sudah berada pada kondisi fight atau flight, anak biasanya lebih sulit berpikir secara rasional. Respons tubuh terhadap tekanan sedang aktif sehingga nasihat panjang sering kali tidak langsung dapat diterima.

Baca Juga: Cara Melatih Kesabaran Anak agar Tidak Impulsif dan Lebih Mampu Mengendalikan Diri 

Orang tua perlu tetap tenang

Ketika anak sedang mengalami ledakan emosi, reaksi orang tua sangat berpengaruh terhadap situasi. Membalas kemarahan anak dengan teriakan atau kepanikan justru dapat membuat keadaan semakin sulit dikendalikan.

Orang tua sebaiknya berusaha menjaga suara dan sikap tetap tenang. Ketika orang dewasa mampu mengendalikan dirinya, anak mendapatkan contoh bahwa emosi kuat tetap dapat dihadapi tanpa tindakan berlebihan.

Berikan kesempatan anak menenangkan diri

Tidak semua anak dapat langsung diajak berbicara ketika sedang marah. Dalam kondisi tertentu, memberikan sedikit ruang justru dapat membantu mereka kembali tenang.

Orang tua dapat memastikan anak berada di tempat yang aman sambil memberikan waktu untuk menurunkan intensitas emosinya. Setelah anak lebih tenang, barulah ajak mereka membicarakan apa yang terjadi.

Tanyakan bantuan yang dibutuhkan

Setelah kondisi anak mulai stabil, orang tua dapat menanyakan apa yang dapat dilakukan untuk membantunya. Pertanyaan sederhana seperti apakah anak ingin ditemani, dipeluk, atau membutuhkan waktu sendiri dapat membantu mereka mengenali kebutuhannya.

Cara ini juga mengajarkan anak bahwa meminta bantuan ketika menghadapi emosi yang berat merupakan hal yang wajar.

Ajarkan teknik untuk menenangkan diri

Anak dapat dikenalkan dengan berbagai cara sederhana untuk mengurangi ketegangan ketika emosi mulai meningkat. Salah satunya adalah latihan menarik napas secara perlahan dan dalam.

Selain itu, aktivitas menenangkan seperti duduk sejenak di tempat yang nyaman atau melakukan kegiatan yang disukai juga dapat membantu, selama tetap aman dan sesuai dengan kondisi anak.

Teknik tersebut perlu dilatih ketika anak sedang tenang agar mereka lebih mudah menggunakannya ketika menghadapi situasi yang membuat kesal.

Baca Juga: Cara Melatih Konsentrasi Anak Sejak Dini agar Lebih Fokus Belajar, Orang Tua Harus Tahu! 

Bantu anak mengekspresikan kemarahan secara aman

Orang tua tidak perlu mengajarkan anak bahwa marah adalah sesuatu yang buruk. Perasaan marah boleh muncul, tetapi anak perlu mengetahui cara mengekspresikannya tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Ajarkan anak untuk mengatakan apa yang dirasakan menggunakan kata-kata. Misalnya, anak dapat belajar mengatakan bahwa dirinya kecewa, kesal, takut, atau tidak suka terhadap sesuatu.

Semakin banyak kosakata emosi yang dikenal anak, semakin mudah bagi mereka mengenali dan menjelaskan apa yang sedang dirasakan.

Orang tua menjadi contoh bagi anak

Anak belajar mengelola emosi bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku orang-orang di sekitarnya. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan bagaimana menghadapi rasa marah atau kecewa dengan cara yang sehat.

Jika orang tua melakukan kesalahan dalam mengendalikan emosi, tidak ada salahnya mengakuinya dan menunjukkan kepada anak bagaimana memperbaikinya.

Dengan melihat contoh secara langsung, anak dapat memahami bahwa setiap orang bisa mengalami emosi kuat, tetapi tetap memiliki pilihan mengenai bagaimana cara meresponsnya.

Berikan perhatian lebih pada anak yang memiliki pengalaman traumatis

Anak yang pernah mengalami pengalaman traumatis, baik secara fisik maupun psikologis, mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali tenang ketika emosinya meningkat.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu memberikan pendampingan dengan lebih sabar dan tidak memaksakan anak untuk segera berbicara atau tenang.

Jika orang tua merasa kesulitan memahami atau membantu anak mengelola emosinya, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.

Pada akhirnya, kemampuan mengelola emosi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari.

Tags:
Emosi Anak Parenting

Komentar Pengguna