Teknologi
Hilmi An Naufal

Ledakan AI Bikin Korea Selatan Butuh Tambahan Listrik Setara 20 Reaktor Nuklir

Ledakan AI Bikin Korea Selatan Butuh Tambahan Listrik Setara 20 Reaktor Nuklir

09 September 2026 | 07:44

KEBONCINTA.COM – Selasa, 8 September 2026 – Ledakan kecerdasan buatan mulai mengubah perencanaan energi sebuah negara dalam skala yang sangat besar.

Korea Selatan memperkirakan pembangunan pusat data AI serta ekspansi industri semiconductor dapat meningkatkan kebutuhan listrik negara tersebut sebesar 25 hingga 30 gigawatt.

Jumlah tersebut sangat besar.

Jika seluruh tambahan daya dipenuhi menggunakan energi nuklir, kapasitasnya kira-kira setara dengan sekitar 20 reaktor nuklir modern berdesain Korea Selatan.

Menteri Iklim, Energi dan Lingkungan Korea Selatan Kim Sung-whan mengatakan peningkatan permintaan terutama didorong ekspansi Samsung Electronics dan SK Hynix.

Dua perusahaan tersebut merupakan pemain terbesar dunia dalam industri chip memori.

Memori mempunyai peran sangat penting dalam perkembangan AI.

GPU yang menjalankan model kecerdasan buatan membutuhkan data dalam jumlah besar dan harus mendapatkannya dengan sangat cepat.

Karena itu permintaan High Bandwidth Memory atau HBM mengalami peningkatan luar biasa.

Samsung dan SK Hynix kemudian memperbesar kapasitas produksinya.

Korea Selatan tahun ini mengumumkan mega proyek semikonduktor senilai sekitar 800 triliun won atau sekitar US$590 miliar.

Proyek tersebut mencakup pembangunan dan ekspansi fasilitas chip dalam skala sangat besar.

Sejumlah proyek yang sebelumnya baru direncanakan selesai sekitar 2045 kini dipercepat agar dapat rampung pada awal dekade 2030-an.

Namun pabrik chip membutuhkan listrik dalam jumlah besar.

Proses pembuatan semiconductor dilakukan menggunakan ribuan mesin industri yang beroperasi di lingkungan dengan kontrol sangat ketat.

Mesin litografi, sistem vacuum, pendinginan dan fasilitas cleanroom semuanya menggunakan energi.

Di saat yang sama, Korea Selatan juga menghadapi gelombang pembangunan data center AI.

Pusat data generasi baru mempunyai kebutuhan energi yang jauh berbeda dibandingkan server internet biasa.

Satu rak server AI dapat menggunakan daya berkali-kali lebih tinggi dibandingkan rak tradisional.

GPU untuk AI juga menghasilkan panas sangat besar.

Artinya perusahaan tidak hanya membutuhkan listrik untuk menjalankan chip.

Sebagian listrik digunakan kembali untuk sistem pendinginan.

Semakin banyak pusat data dibangun, kebutuhan jaringan listrik meningkat dengan sangat cepat.

Korea Selatan bahkan menarik perhatian perusahaan teknologi Amerika Serikat.

Menurut Menteri Kim, beberapa perusahaan teknologi AS termasuk Nvidia telah menunjukkan minat membangun data center di negara tersebut.

Salah satu alasannya adalah pasokan listrik Korea Selatan dianggap relatif dapat diandalkan.

Namun jika pembangunan pusat data terus bertambah, pemerintah harus memastikan kapasitas pembangkit dapat mengejar permintaan.

Tambahan kebutuhan 25 hingga 30 GW dari AI saja memberikan gambaran skalanya.

Satu gigawatt sama dengan 1.000 megawatt.

Dengan demikian 30 GW berarti kapasitas 30.000 MW.

Untuk memenuhi kebutuhan sebesar itu, negara harus membangun pembangkit sekaligus jaringan transmisi.

Pembangkit yang berada jauh dari pusat data tidak otomatis menyelesaikan masalah.

Listrik harus dapat dikirim melalui jaringan menuju lokasi yang membutuhkannya.

Saluran transmisi juga mempunyai batas kapasitas.

Pembangunan jaringan baru dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun karena harus memperoleh lahan, izin dan persetujuan masyarakat.

Karena itu lokasi sebuah data center semakin ditentukan oleh dua faktor utama: listrik dan jaringan fiber optik.

Perusahaan mungkin mempunyai lahan luas tetapi fasilitas tidak dapat dibangun apabila jaringan listrik setempat tidak mampu memberikan daya ratusan megawatt.

Korea Selatan sekarang mempertimbangkan apakah perlu membangun reaktor nuklir tambahan.

Pemerintah dijadwalkan menerbitkan pembaruan roadmap energi jangka panjang hingga 2040 pada bulan depan.

Energi nuklir diperkirakan menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan.

Korea Selatan saat ini mempunyai 26 reaktor nuklir.

Nuklir menyediakan sedikit kurang dari sepertiga kebutuhan listrik negara.

Sementara energi terbarukan baru menyumbang sekitar 11 persen.

Batubara masih menyumbang sekitar 29 persen dan gas sekitar 27 persen.

Pemerintah mempunyai target menghentikan pembangkit batubara pada 2040.

Kebijakan tersebut membuat persoalan semakin kompleks.

Di satu sisi, negara membutuhkan lebih banyak listrik karena AI, pabrik chip, kendaraan listrik dan elektrifikasi pemanas.

Di sisi lain, sumber energi berbasis batubara ingin dikurangi.

Pemerintah perlu mencari kombinasi energi yang dapat memenuhi peningkatan permintaan tanpa meningkatkan emisi secara berlebihan.

Tenaga surya dan angin terus dikembangkan.

Namun produksi kedua sumber tersebut bergantung pada kondisi alam.

Data center mempunyai kebutuhan berbeda.

Server bekerja 24 jam setiap hari dan tidak dapat hanya menjalankan AI ketika matahari bersinar.

Karena itu industri membutuhkan sumber listrik stabil atau penyimpanan energi dalam skala sangat besar.

Energi nuklir kemudian kembali mendapatkan perhatian.

Reaktor dapat menghasilkan listrik dalam jumlah tinggi secara terus-menerus dengan emisi karbon operasional yang relatif rendah.

Namun nuklir mempunyai persoalan sendiri.

Biaya pembangunan tinggi dan konstruksi dapat membutuhkan waktu panjang.

Isu keselamatan dan limbah radioaktif juga tetap menjadi perhatian masyarakat.

Survei Korea Energy Information Culture Agency terhadap 2.000 responden menemukan sekitar 79 persen mendukung dimasukkannya pembangkit nuklir baru dalam roadmap energi.

Namun dukungan tidak merata di seluruh wilayah.

Kelompok masyarakat di Ulsan, salah satu wilayah yang dipertimbangkan untuk fasilitas baru, mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda tangan yang menolak pembangunan reaktor tambahan karena kekhawatiran keselamatan.

Hal seperti ini menunjukkan perbedaan antara dukungan terhadap nuklir secara nasional dan penerimaan ketika reaktor benar-benar dibangun dekat kawasan tempat tinggal.

Pemerintah harus mempertimbangkan keduanya.

Menariknya, Menteri Kim mengatakan kawasan mega cluster chip di barat daya Korea Selatan kemungkinan tidak membutuhkan pembangkit nuklir baru secara langsung.

Wilayah tersebut sudah mempunyai enam reaktor bersama fasilitas tenaga surya dan angin.

Persoalan lebih besar dapat muncul pada daerah seperti Seoul yang sangat bergantung pada listrik yang dikirim dari wilayah lain.

Pemerintah dapat membutuhkan tambahan tenaga surya atau bahkan pembangkit LNG untuk menjaga pasokan.

Selain AI dan semiconductor, kebutuhan listrik juga meningkat akibat perubahan sektor transportasi.

Semakin banyak mobil listrik berarti energi yang sebelumnya berasal dari bensin berpindah menuju jaringan listrik.

Pemanas rumah juga mulai beralih dari gas menuju sistem listrik.

Semua perubahan tersebut terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.

Ledakan AI akhirnya menjadi faktor baru yang mempercepat persoalan energi yang sebenarnya sudah ada.

Selama beberapa tahun terakhir, industri teknologi banyak berbicara mengenai jumlah GPU dan performa model.

Sekarang pertanyaan berikutnya mulai muncul: dari mana listrik untuk menjalankan semuanya?

Korea Selatan merupakan salah satu contoh paling jelas.

Negara tersebut ingin mempertahankan posisinya sebagai pusat produksi semiconductor dunia sekaligus menarik investasi data center AI.

Namun mempertahankan posisi tersebut berarti kebutuhan pembangkit dan jaringan listrik ikut meningkat dalam skala puluhan gigawatt.

Pada akhirnya perlombaan AI bukan hanya perlombaan siapa yang mempunyai chip tercepat.

Negara yang mampu menyediakan energi murah, stabil dan dalam jumlah besar juga mempunyai keuntungan besar dalam menentukan lokasi pusat komputasi generasi berikutnya.

Tags:
teknologi

Komentar Pengguna