Budaya
Azzahra Esa Nabila

Mengapa Budaya Menunda Jadi Hal Lazim Bagi Mahasiswa?

Mengapa Budaya Menunda Jadi Hal Lazim Bagi Mahasiswa?

29 April 2026 | 09:08

Keboncinta.com-- Ada satu kalimat yang terasa akrab di telinga mahasiswa: “Masih ada waktu, nanti saja.” Awalnya terdengar ringan, bahkan menenangkan. Tugas belum dikerjakan, tapi tenggat masih jauh. Hari ini terasa aman. Besok? Bisa dipikirkan nanti. Namun, “nanti” sering datang lebih cepat dari yang dibayangkan.

Budaya menunda atau procrastination bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi fenomena yang cukup kompleks. Di kalangan mahasiswa, hal ini sering muncul di tengah tuntutan akademik yang padat, distraksi digital, dan tekanan untuk selalu produktif.

Menariknya, menunda bukan selalu tentang malas.

Dalam perspektif Psikologi, procrastination sering berkaitan dengan regulasi emosi. Ketika seseorang merasa cemas, takut gagal, atau tidak yakin dengan kemampuannya, menunda menjadi cara untuk “menghindari” perasaan tidak nyaman tersebut. Tugas bukan dihindari karena tidak penting, tetapi karena terasa berat secara emosional. Di dunia kampus, kondisi ini semakin diperkuat oleh fleksibilitas waktu. Tidak seperti sekolah dengan jadwal ketat, mahasiswa sering memiliki kebebasan untuk mengatur waktu sendiri. Kebebasan ini di satu sisi positif, tetapi di sisi lain bisa menjadi jebakan jika tidak diiringi dengan disiplin. Belum lagi kehadiran distraksi digital. Satu video bisa berlanjut ke puluhan lainnya, dan waktu pun berlalu tanpa terasa.

Ketika akhirnya sadar, waktu sudah sempit, tekanan meningkat, dan pekerjaan menumpuk. Siklus ini sering berulang: menunda, merasa bersalah, panik mendekati deadline, lalu berjanji tidak akan mengulanginya, hanya untuk kembali melakukan hal yang sama di kemudian hari. procrastination yang berulang dapat meningkatkan stres dan menurunkan kualitas hasil kerja. Artinya, menunda tidak hanya memengaruhi waktu, tetapi juga kondisi mental.

Lalu, bagaimana cara keluar dari kebiasaan ini?

Langkah pertama adalah memahami penyebabnya. Apakah karena takut gagal? Terlalu perfeksionis? Atau sekadar tidak tahu harus mulai dari mana? Dengan memahami, kita bisa mencari pendekatan yang lebih tepat. Memecah tugas besar menjadi bagian kecil juga bisa membantu. Ketika sesuatu terasa lebih sederhana, keinginan untuk memulai biasanya meningkat. Yang tidak kalah penting, mengurangi distraksi. Bukan berarti harus menghindari media sosial sepenuhnya, tetapi mengatur penggunaannya agar tidak mengganggu fokus. Melawan budaya menunda bukan tentang menjadi sempurna. Tetapi tentang belajar memulai.

Tags:
Gen Z life Stop Menunda Mahasiswa

Komentar Pengguna