Pendidikan
Rahman Abdullah

TKA SD/MI 2026 Capai Partisipasi Tinggi, Tapi Apakah Kualitas Pendidikan Ikut Meningkat?

TKA SD/MI 2026 Capai Partisipasi Tinggi, Tapi Apakah Kualitas Pendidikan Ikut Meningkat?

26 April 2026 | 17:19

Keboncinta.com-- Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik 2026 (TKA) untuk jenjang SD/MI tahun ini menunjukkan tingkat partisipasi yang sangat tinggi di berbagai daerah.

Namun di balik capaian tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah angka partisipasi ini benar-benar mencerminkan peningkatan kualitas pendidikan, atau hanya sekadar kepatuhan terhadap kebijakan administratif?

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa pelaksanaan TKA berlangsung lancar dan tertib.

Tingginya keikutsertaan siswa dinilai sebagai bukti kesiapan sekolah serta kuatnya kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah daerah dalam menyukseskan asesmen nasional.

Baca Juga: Transformasi Pendidikan Nasional 2026: Wacana Penghapusan PPPK Picu Perdebatan

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, lebih dari 48 ribu siswa dari ribuan sekolah mengikuti TKA dengan sebagian besar menggunakan sistem daring mandiri.

Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesiapan infrastruktur digital di tingkat sekolah dasar, yang sebelumnya menjadi tantangan dalam pelaksanaan asesmen berbasis teknologi.

Kondisi serupa juga terlihat di Riau, di mana tingkat partisipasi hampir mencapai 100 persen. Pelaksanaan berjalan relatif lancar tanpa kendala berarti, menandakan kesiapan teknis yang semakin baik di sejumlah daerah.

Meski demikian, tingginya angka partisipasi tidak serta-merta mencerminkan kualitas pendidikan yang merata. Masih terdapat wilayah dengan keterbatasan akses teknologi dan sarana pendidikan yang memadai, sehingga pelaksanaan asesmen belum sepenuhnya ideal.

Baca Juga: Pendaftaran Belum Ditutup, Dua Jalur Mandiri UGM 2026 Masih Bisa Diikuti

Di beberapa daerah, sekolah masih harus berbagi fasilitas secara bergantian atau bergantung pada dukungan eksternal agar siswa dapat mengikuti ujian.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kesenjangan infrastruktur pendidikan masih menjadi tantangan yang perlu segera diatasi.

Di sisi lain, semangat belajar siswa justru menjadi catatan positif. Di wilayah terpencil seperti Papua, terdapat siswa yang rela menempuh perjalanan jauh, bahkan melewati medan berat, demi mengikuti TKA.

Hal ini menegaskan bahwa motivasi belajar bukanlah persoalan utama, melainkan dukungan sistem pendidikan yang belum merata.

Baca Juga: Guru Wajib Tahu! Ini Fungsi Observasi Kinerja di PMM untuk Pengembangan Profesional

Perlu dipahami bahwa TKA tidak dirancang sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai alat diagnosis untuk memetakan kemampuan literasi dan numerasi siswa secara nasional. Oleh karena itu, nilai utama asesmen ini terletak pada pemanfaatan data yang dihasilkan.

Tantangan terbesar ke depan adalah memastikan hasil TKA benar-benar digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Tanpa tindak lanjut yang konkret, seperti peningkatan kualitas guru, pemerataan fasilitas, serta intervensi berbasis data, TKA berisiko menjadi agenda rutin tanpa dampak nyata.

Keberhasilan reformasi pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya partisipasi, tetapi dari sejauh mana data asesmen mampu mendorong perubahan yang signifikan.

Baca Juga: Riset Terbaru: Hiu Ternyata Punya Preferensi Pergaulan, Cenderung Mendekat ke Betina

Jika tidak diiringi langkah strategis, angka partisipasi yang tinggi hanya akan menjadi statistik, bukan indikator kemajuan pendidikan nasional.***

Tags:
pendidikan TKA TKA SD

Komentar Pengguna