Khazanah
Hilmi An Naufal

2039 Bakal Jadi Tahun Bersejarah, Dua Musim Haji Masuk dalam Satu Kalender

2039 Bakal Jadi Tahun Bersejarah, Dua Musim Haji Masuk dalam Satu Kalender

12 Agustus 2026 | 05:46

KebonCinta.com – Tahun 2039 diperkirakan akan menjadi salah satu tahun yang cukup unik dalam catatan kalender umat Islam. Bukan karena ada perubahan tata cara ibadah haji, melainkan karena dua musim haji dari dua tahun Hijriah berbeda diproyeksikan sama-sama masuk ke dalam satu tahun Masehi.

Musim haji pertama diperkirakan berlangsung pada awal Januari 2039. Belum sampai kalender Masehi berganti ke 2040, Dzulhijjah berikutnya sudah datang kembali pada Desember 2039.

Situasi inilah yang kemudian banyak disebut sebagai fenomena “dua kali haji dalam setahun.”

Namun istilah tersebut perlu dipahami dengan benar. Haji tetap berlangsung satu kali dalam setiap tahun Hijriah. Yang terjadi pada 2039 adalah dua tahun Hijriah berbeda bertemu dalam satu tahun kalender Masehi.

Awal Januari Sudah Memasuki Puncak Haji

Proyeksi kalender berbasis sistem Umm al-Qura menunjukkan bahwa awal Januari 2039 masih berada di penghujung Dzulhijjah 1460 Hijriah.

Dalam perhitungan tersebut, 9 Dzulhijjah 1460 H atau Hari Arafah diproyeksikan jatuh pada 4 Januari 2039, sedangkan 10 Dzulhijjah atau Idul Adha jatuh sehari setelahnya, yakni 5 Januari 2039.

Artinya, baru beberapa hari masyarakat dunia memasuki tahun 2039 Masehi, jemaah haji sudah menjalani salah satu bagian terpenting dari ibadah mereka: wukuf di Arafah.

Setelah rangkaian Dzulhijjah 1460 H berakhir, kalender Hijriah kemudian berganti memasuki Muharram 1461 H.

Yang membuat 2039 berbeda adalah perjalanan kalender 1461 H berlangsung cukup cepat jika dibandingkan dengan kalender Masehi.

Sebelum Desember 2039 berakhir, Dzulhijjah sudah kembali tiba.

Desember, Jemaah Kembali Memasuki Arafah

Proyeksi kalender yang sama menunjukkan 1 Dzulhijjah 1461 H sekitar 17 Desember 2039.

Kemudian 9 Dzulhijjah atau Hari Arafah diproyeksikan pada 25 Desember 2039, disusul Idul Adha pada 26 Desember 2039.

Dengan demikian, dalam rentang Januari hingga Desember 2039 akan terdapat dua Hari Arafah dan dua rangkaian musim haji.

Haji pertama merupakan bagian dari tahun 1460 H, sedangkan yang kedua berasal dari 1461 H.

Laporan Gulf News yang mengutip astronom Saudi Abdullah Al Misnad juga memproyeksikan dua musim haji akan masuk dalam tahun Masehi 2039. Sumber tersebut menempatkan Idul Adha pertama sekitar awal Januari dan Idul Adha berikutnya pada 26 Desember.

Perbedaan satu hari pada proyeksi pertama juga menjadi alasan mengapa tanggal tersebut sebaiknya belum dianggap sebagai tanggal resmi.

Mengapa Bisa Ada Dua Haji dalam Satu Tahun Masehi?

Jawabannya ada pada cara kalender Hijriah bekerja.

Kalender yang digunakan untuk menentukan Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan ibadah haji merupakan kalender lunar yang mengikuti siklus Bulan.

Satu tahun Hijriah terdiri atas sekitar 354 atau 355 hari. Sementara kalender Gregorian atau Masehi memiliki 365 hari, atau 366 hari ketika tahun kabisat.

U.S. Naval Observatory menjelaskan bahwa 12 bulan lunar rata-rata sekitar 11 hari lebih pendek dibandingkan satu tahun kalender sipil Gregorian. Akibatnya, tanggal-tanggal dalam kalender Islam terus bergeser lebih awal sekitar jumlah tersebut setiap tahun Masehi.

Itulah mengapa musim haji tidak selalu jatuh pada bulan Masehi yang sama.

Jika pada suatu tahun haji berada pada Juni, tahun berikutnya akan datang sekitar 10–11 hari lebih awal. Pergeseran itu terus berlangsung dari tahun ke tahun.

Dalam waktu sekitar 33 tahun, bulan-bulan Hijriah bergerak melewati hampir seluruh musim dalam kalender Masehi.

Bukan Pertama Kalinya Kalender Menghasilkan Fenomena Semacam Ini

Fenomena seperti ini sebenarnya merupakan konsekuensi matematis dari dua kalender yang memiliki panjang tahun berbeda.

Contoh yang lebih dekat akan terjadi pada Ramadan.

Gulf News mencatat bahwa pada 2030, Ramadan diproyeksikan muncul dua kali dalam satu tahun Masehi, yakni satu kali di awal tahun dan kembali pada penghujung tahun. Fenomena serupa terakhir terjadi sekitar 33 tahun sebelumnya.

Prinsip yang sama kemudian membawa Dzulhijjah ke posisi unik pada 2039.

Jadi, fenomena dua musim haji bukan karena pemerintah Arab Saudi menjadwalkan ibadah tambahan, bukan pula karena jumlah hari haji berubah.

Ini murni akibat pertemuan antara kalender Bulan dan kalender Matahari.

Bahkan Ada Tiga Hari Raya dalam 2039

Keunikan 2039 tidak berhenti pada dua musim haji.

Proyeksi kalender menunjukkan bahwa di antara dua Idul Adha tersebut, umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri.

Kalender berbasis Umm al-Qura memproyeksikan 1 Syawal 1461 H sekitar 19 Oktober 2039. Kemudian sekitar dua bulan berikutnya datang Idul Adha 1461 H pada penghujung Desember.

Jika proyeksi itu tidak mengalami perubahan besar, maka dalam satu tahun Masehi masyarakat dapat melihat urutan:

  • Idul Adha 1460 H pada awal Januari,

  • Idul Fitri 1461 H pada Oktober,

  • Idul Adha 1461 H pada akhir Desember.

Itulah yang membuat tahun 2039 menarik tidak hanya dari sisi penyelenggaraan haji, tetapi juga dari perspektif kalender Islam.

Apakah Tanggal Januari dan Desember Itu Sudah Resmi?

Belum.

Ini bagian yang perlu diperhatikan agar informasi mengenai 2039 tidak berubah menjadi klaim yang terlalu pasti.

Tanggal yang saat ini beredar merupakan hasil proyeksi kalender bertahun-tahun sebelum peristiwanya berlangsung.

Bahkan dua sumber yang menggunakan rujukan kalender Islam dapat berbeda sekitar satu hari. Kalender berbasis Umm al-Qura yang ditampilkan Alhabib, misalnya, memproyeksikan Idul Adha pertama pada 5 Januari 2039, sedangkan laporan Gulf News menyebut 6 Januari.

Penetapan bulan-bulan penting dalam kalender Islam juga dapat mengalami penyesuaian berdasarkan keputusan otoritas keagamaan dan hasil pengamatan hilal. Catatan mengenai kalender Umm al-Qura menunjukkan bulan seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah dapat disesuaikan setelah laporan pengamatan bulan sabit.

Karena itu, tanggal persis wukuf dan Idul Adha 2039 masih perlu menunggu penetapan resmi ketika waktunya sudah mendekat.

Yang Pasti, Bukan Berarti Haji Menjadi Dua Kali Setahun

Ungkapan "2039 ada dua kali haji" memang terdengar luar biasa. Namun cara paling tepat menjelaskannya adalah dua musim haji masuk ke dalam satu tahun Masehi.

Keduanya tetap berasal dari tahun Hijriah yang berbeda.

Musim pertama adalah Haji 1460 H. Musim berikutnya adalah Haji 1461 H.

Jarak keduanya pun hampir satu tahun penuh, bukan hanya beberapa minggu.

Tidak ada perubahan terhadap bulan pelaksanaan haji. Dzulhijjah tetap menjadi bulan haji, wukuf tetap dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah, dan Idul Adha tetap berada pada 10 Dzulhijjah.

Yang membuat 2039 terlihat istimewa hanyalah tempat kedua Dzulhijjah tersebut ketika diterjemahkan ke kalender Masehi.

Namun justru dari fenomena sederhana itu terlihat betapa berbeda cara dua sistem kalender menghitung waktu.

Ketika kalender Masehi selesai menjalani satu putaran Matahari, kalender Hijriah sudah bergerak sekitar 11 hari lebih jauh.

Pergeseran kecil setiap tahun itu terus menumpuk, sampai akhirnya pada 2039 dunia diproyeksikan menyaksikan sebuah pemandangan kalender yang jarang terjadi: awal tahun dibuka dengan musim haji, dan akhir tahun kembali ditutup dengan musim haji berikutnya.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna