KEBONCINTA.COM – Program digitalisasi pembelajaran di Indonesia menghadapi tantangan besar dari sisi infrastruktur dasar. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 227.365 satuan pendidikan masih membutuhkan dukungan kelistrikan agar perangkat digital dapat digunakan secara optimal.
Temuan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena program digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya dilakukan dengan mengirim perangkat ke sekolah.
Peralatan teknologi membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan daya yang mencukupi agar benar-benar dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Kemendikdasmen kini bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PLN untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan listrik sekolah.
Perhatian khusus diberikan kepada sekolah di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar atau 3T.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengatakan dukungan kelistrikan tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan transformasi pembelajaran digital.
Sekolah dapat memiliki perangkat modern, tetapi manfaatnya menjadi terbatas apabila listrik tidak tersedia atau kapasitas dayanya terlalu kecil.
Salah satu perangkat yang menjadi bagian dari digitalisasi pendidikan adalah Papan Interaktif Digital atau PID.
Pada 2026, kebutuhan PID tercatat mencapai sekitar 713 ribu unit.
Perangkat tersebut membutuhkan kapasitas daya sekitar 2.200 hingga 3.500 VA.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat pemerintah perlu memeriksa kemampuan kelistrikan setiap satuan pendidikan.
Hasil verifikasi kemudian menemukan 227.365 satuan pendidikan membutuhkan intervensi.
Jumlah tersebut terbagi menjadi dua kelompok besar.
Sebanyak 26.162 satuan pendidikan membutuhkan penyambungan listrik baru.
Sementara 201.203 satuan pendidikan lainnya telah mempunyai akses listrik, tetapi memerlukan penambahan daya.
Data tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar persoalan bukan hanya mengenai ada atau tidaknya listrik.
Kapasitas daya juga menjadi tantangan ketika sekolah mulai menggunakan semakin banyak perangkat teknologi.
Komputer, jaringan internet, papan digital dan perlengkapan pendukung lainnya membutuhkan suplai listrik yang mencukupi.
Apabila kapasitas terlalu rendah, penggunaan perangkat secara bersamaan berpotensi menyebabkan gangguan.
Tantangan menjadi lebih besar bagi ribuan sekolah yang berada di wilayah yang belum dapat dijangkau jaringan PLN.
Kemendikdasmen mencatat terdapat 9.544 satuan pendidikan yang belum dapat dilayani jaringan PLN eksisting.
Untuk sekolah-sekolah tersebut, pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan mekanisme penyambungan listrik seperti di wilayah perkotaan.
Alternatif sumber energi perlu dipersiapkan sesuai karakter geografis masing-masing daerah.
Salah satu pilihan yang dibahas adalah penggunaan tenaga surya berbasis baterai.
Sistem off-grid juga dapat menjadi solusi bagi sekolah yang berada jauh dari jaringan utama listrik.
Pendekatan tersebut memungkinkan fasilitas pendidikan memperoleh sumber energi secara mandiri.
Sinergi dengan Kementerian ESDM dilakukan karena kementerian tersebut memiliki Program Listrik Desa atau Lisdes.
Pemerintah menilai penggabungan kebutuhan pendidikan dengan program elektrifikasi desa dapat mempercepat proses sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan kebutuhan listrik digitalisasi pendidikan dapat disinergikan dengan program yang sudah berjalan.
Kementerian ESDM mempunyai target seluruh desa di Indonesia telah memperoleh akses listrik pada 2029.
Dalam proses menuju target tersebut, fasilitas pendidikan menjadi salah satu sarana publik yang membutuhkan prioritas.
Sekolah mempunyai posisi strategis karena listrik tidak hanya digunakan untuk penerangan.
Pasokan energi juga berkaitan dengan akses teknologi, internet dan berbagai metode pembelajaran modern.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus memperluas penggunaan perangkat digital di kelas.
Papan interaktif memungkinkan guru menyajikan materi dalam format visual, video maupun aktivitas interaktif.
Namun distribusi alat tanpa infrastruktur pendukung berpotensi menciptakan persoalan baru.
Perangkat dapat tiba di sekolah tetapi tidak bisa digunakan secara maksimal.
Karena itu, Kemendikdasmen menekankan pembangunan ekosistem digital harus berjalan secara menyeluruh.
Ketersediaan listrik menjadi fondasi, kemudian dilanjutkan dengan koneksi internet, kesiapan perangkat serta kemampuan guru menggunakannya.
Aspek sumber daya manusia juga mempunyai peran besar.
Guru perlu memperoleh pendampingan agar teknologi tidak hanya menjadi pengganti papan tulis biasa.
Perangkat digital seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan interaksi, memperluas sumber belajar dan membantu siswa memahami materi.
Bagi sekolah di wilayah 3T, digitalisasi juga mempunyai arti khusus.
Teknologi dapat membuka akses terhadap sumber belajar yang sebelumnya sulit diperoleh secara langsung.
Siswa di wilayah terpencil mempunyai kesempatan mengakses materi yang sama dengan peserta didik di kota apabila infrastruktur dasarnya tersedia.
Karena itu, pemerataan listrik dapat mempunyai dampak langsung terhadap pemerataan kesempatan belajar.
Jumlah 227.365 satuan pendidikan yang membutuhkan dukungan menunjukkan skala pekerjaan yang masih harus diselesaikan.
Lebih dari 200 ribu di antaranya membutuhkan peningkatan kapasitas daya, sedangkan puluhan ribu membutuhkan sambungan baru.
Selain itu masih terdapat 9.544 sekolah yang membutuhkan pendekatan khusus karena belum terjangkau jaringan PLN eksisting.
Kemendikdasmen optimistis kerja sama lintas kementerian dapat mempercepat penyelesaian.
Program pendidikan dan program elektrifikasi tidak dijalankan secara terpisah, tetapi diselaraskan agar dapat saling mendukung.
Pemerintah juga berharap dukungan PLN membantu proses teknis mulai pemetaan hingga penyambungan dan peningkatan daya.
Keberhasilan program pada akhirnya tidak hanya diukur dari berapa banyak papan digital yang dikirim ke sekolah.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah perangkat tersebut benar-benar dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Ketersediaan listrik menjadi salah satu syarat utama agar tujuan tersebut tercapai.
Dengan percepatan elektrifikasi dan penambahan daya, pemerintah berharap kesenjangan digital antarwilayah semakin berkurang.
Anak-anak yang bersekolah di wilayah terpencil diharapkan dapat memperoleh kesempatan yang semakin setara untuk menikmati transformasi pembelajaran berbasis teknologi.