Berita
Hilmi An Naufal

Guru Besar Unhas Ungkap 90 Persen Sampah Darat Berpotensi Cemari Laut dan Jadi Mikroplastik

Guru Besar Unhas Ungkap 90 Persen Sampah Darat Berpotensi Cemari Laut dan Jadi Mikroplastik

03 September 2026 | 07:02

KEBONCINTA.COM – Persoalan sampah plastik kembali mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Shinta Werorilangi mengingatkan bahwa sekitar 90 persen sampah yang berasal dari aktivitas di daratan berpotensi mencemari laut dan menjadi sumber mikroplastik.

Sampah tersebut dapat berasal dari berbagai aktivitas masyarakat, terutama rumah tangga.

Ketika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat masuk ke lingkungan melalui saluran air, drainase, kanal maupun sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut.

Masalah menjadi semakin kompleks ketika sampah plastik berukuran besar berada dalam lingkungan untuk waktu yang lama.

Plastik dapat mengalami pelapukan dan pecah menjadi partikel yang semakin kecil.

Partikel berukuran sangat kecil tersebut dikenal sebagai mikroplastik.

Shinta menjelaskan bahwa pada prinsipnya berbagai jenis plastik dapat mengalami proses tersebut.

Kecepatan pelapukan dapat berbeda tergantung jenis material, lamanya plastik berada di lingkungan serta kondisi di sekitarnya.

Proses fragmentasi dapat berlangsung lebih cepat ketika sampah berada di wilayah perairan.

Pergerakan air, paparan cuaca serta perubahan suhu dapat membantu mempercepat kerusakan material plastik.

Plastik dengan material tipis juga cenderung lebih mudah mengalami pelapukan dibandingkan bahan plastik yang lebih tebal.

Karena itu, semakin lama sampah plastik dibiarkan berada di lingkungan, semakin besar peluang material tersebut berubah menjadi bagian yang lebih kecil.

Mikroplastik kemudian menjadi persoalan karena ukurannya membuat partikel tersebut lebih sulit ditangani dibandingkan sampah plastik berukuran besar.

Ketika plastik masih berbentuk botol, kemasan maupun benda lainnya, masyarakat masih dapat melihat dan mengumpulkannya.

Namun setelah berubah menjadi partikel berukuran sangat kecil, proses pembersihan menjadi jauh lebih sulit.

Partikel tersebut dapat tersebar di air maupun lingkungan.

Ancaman mikroplastik juga tidak berhenti pada pencemaran laut.

Partikel berukuran kecil dapat tertelan oleh berbagai organisme laut.

Ikan, udang maupun kepiting menjadi beberapa contoh biota yang dapat bersentuhan dengan partikel mikroplastik di habitatnya.

Kondisi tersebut menimbulkan perhatian karena hasil laut kemudian dikonsumsi manusia.

Artinya, persoalan sampah yang awalnya berada di daratan berpotensi mempunyai hubungan panjang dengan ekosistem laut dan rantai makanan.

Shinta menekankan bahwa penanganan harus dilakukan sejak sumber sampah.

Salah satu langkah sederhana namun penting adalah melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Sampah organik perlu dipisahkan dari sampah kering atau anorganik.

Pemilahan tersebut membantu proses pengolahan berikutnya.

Material plastik yang tetap bersih dan tidak tercampur sampah basah akan lebih mudah dikumpulkan maupun diarahkan menuju proses daur ulang.

Sebaliknya, sampah yang telah bercampur dan menumpuk di tempat pembuangan akhir akan semakin sulit dipilah.

Kondisi yang kotor juga dapat mengurangi nilai ekonomis material yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.

Karena itu, kebiasaan mencampurkan seluruh jenis sampah ke dalam satu wadah menjadi salah satu hal yang perlu diperbaiki.

Persoalan tersebut bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan.

Masyarakat sebagai penghasil sampah mempunyai peranan sejak tahap awal.

Pemilahan dari rumah dapat mengurangi beban pengelolaan di tahap berikutnya.

Namun sistem pengelolaan juga perlu didukung sumber daya manusia yang memahami cara menangani sampah dengan benar.

Petugas perlu mempunyai pengetahuan mengenai pemilahan, pengolahan hingga proses daur ulang.

Edukasi kepada masyarakat juga harus dilakukan secara berkelanjutan.

Universitas Hasanuddin sendiri menjadi salah satu lingkungan pendidikan yang turut mengembangkan gerakan pengelolaan plastik.

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas sebelumnya menjalankan Bank Sampah Plastik sebagai bagian dari upaya mencegah sampah masuk ke perairan.

Program tersebut juga melibatkan mahasiswa.

Kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah kemudian menjadi media pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan praktik langsung.

Langkah seperti itu menjadi penting karena kampus mempunyai fungsi lebih luas dibandingkan hanya menghasilkan penelitian.

Perguruan tinggi juga dapat menjadi tempat untuk menguji dan menerapkan berbagai solusi terhadap persoalan masyarakat.

Dalam isu mikroplastik, penelitian dapat memberikan pemahaman mengenai dampak pencemaran.

Namun perubahan perilaku diperlukan agar jumlah sampah yang masuk ke lingkungan benar-benar berkurang.

Mahasiswa dapat memainkan peranan dalam proses tersebut.

Generasi muda dapat membantu mengembangkan kebiasaan pemilahan, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai serta kegiatan daur ulang.

Kampus juga dapat menyediakan sistem yang mendukung kebiasaan tersebut.

Misalnya dengan menyediakan tempat pengumpulan sampah terpisah dan memastikan material yang terkumpul benar-benar masuk ke rantai pengelolaan berikutnya.

Shinta menilai upaya mengatasi mikroplastik harus dimulai dari daratan.

Logikanya sederhana: semakin sedikit plastik yang bocor ke lingkungan, semakin kecil pula jumlah material yang berpeluang pecah menjadi mikroplastik.

Pengurangan penggunaan plastik menjadi salah satu langkah.

Kemudian sampah yang masih dihasilkan perlu dipilah dan dikelola.

Material yang masih mempunyai nilai dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.

Pendekatan tersebut perlu dilakukan secara konsisten karena sampah plastik merupakan persoalan yang terus diproduksi setiap hari.

Rumah tangga, kawasan perdagangan, sekolah, kampus maupun berbagai aktivitas masyarakat menjadi bagian dari sumber sampah.

Karena itu, penyelesaiannya tidak dapat hanya bergantung kepada satu lembaga.

Pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan dan pelaku usaha perlu mempunyai peranan.

Dunia pendidikan khususnya mempunyai posisi strategis dalam membangun kebiasaan.

Siswa dan mahasiswa yang terbiasa memilah sampah dapat membawa praktik tersebut ke rumah maupun lingkungan tempat tinggal.

Pengetahuan mengenai mikroplastik juga dapat membuat masyarakat memahami bahwa sampah yang dibuang hari ini tidak selalu hilang begitu saja.

Plastik dapat bertahan di lingkungan dalam waktu lama dan berubah menjadi partikel yang semakin sulit dikendalikan.

Pesan Guru Besar Unhas tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan mikroplastik sebenarnya dimulai jauh sebelum sampah mencapai laut.

Saluran air di permukiman, sungai dan pengelolaan sampah rumah tangga menjadi bagian dari rantai yang perlu diperhatikan.

Jika kebocoran sampah dari daratan dapat ditekan, beban pencemaran terhadap laut juga dapat dikurangi.

Karena itu, pemilahan sejak sumber menjadi salah satu langkah yang paling mudah untuk mulai diterapkan.

Tantangan berikutnya adalah menjadikannya kebiasaan masyarakat, bukan hanya kegiatan sesaat ketika ada kampanye lingkungan.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna