KEBONCINTA.COM – Universitas Airlangga menjadi tempat bertemunya mahasiswa dan pengelola bidang kemahasiswaan dari berbagai perguruan tinggi ASEAN dalam The 7th ASEAN University Network-Student Affairs Network atau AUN-SAN dan 2nd VOX Meeting.
Forum yang mengusung tema “Future Skills, Global Minds” membahas berbagai tantangan yang akan dihadapi mahasiswa pada masa depan, mulai dari kecerdasan artifisial, otomatisasi dunia kerja, mobilitas global hingga keterampilan hijau.
Rangkaian kegiatan berlangsung di Universitas Airlangga pada 2 hingga 5 September 2026.
Pada Jumat, 4 September, delegasi AUN-SAN dan mahasiswa peserta VOX Meeting menggelar diskusi di Ruang Amerta, Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR.
Perwakilan Sekretariat AUN-SAN Zahril Anwar Malek Abdol Hamid menyebut sebanyak 30 universitas anggota terlibat dalam program tahunan tersebut.
Forum menjadi ruang bagi perguruan tinggi ASEAN untuk bertukar pengalaman mengenai pengembangan dan kesejahteraan mahasiswa.
Namun mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta yang mendengarkan pembicaraan para pengelola kampus.
Dalam VOX Meeting, mereka mendapat ruang menyusun gagasan sendiri mengenai persoalan yang dianggap akan menentukan masa depan generasi muda ASEAN.
Delegasi mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok.
Mereka membahas delapan isu strategis.
Isu pertama adalah AI Literacy for Tomorrow’s Workforce atau literasi AI untuk tenaga kerja masa depan.
Topik tersebut menjadi relevan karena teknologi kecerdasan artifisial telah mulai memengaruhi hampir seluruh sektor pekerjaan.
Mahasiswa tidak hanya perlu mengetahui bagaimana menggunakan aplikasi berbasis AI.
Mereka perlu memahami kemampuan dan keterbatasan teknologi, cara mengevaluasi hasil serta implikasi etika dari penggunaannya.
Isu kedua adalah Employability in the Age of Automation.
Otomatisasi membuat sebagian jenis pekerjaan berubah dan sejumlah aktivitas rutin dapat dilakukan menggunakan sistem digital.
Mahasiswa karena itu harus memikirkan kemampuan apa yang tetap dibutuhkan ketika mereka memasuki pasar kerja.
Kemampuan beradaptasi, komunikasi, pemecahan masalah dan penggunaan teknologi menjadi beberapa aspek yang semakin relevan.
Topik ketiga berkaitan dengan Cross-Cultural Competence for Global Careers.
ASEAN terdiri dari negara dengan bahasa, budaya dan karakter masyarakat berbeda.
Ketika mobilitas tenaga kerja dan kerja sama internasional semakin luas, lulusan perguruan tinggi dapat bekerja bersama orang dari berbagai latar belakang.
Kemampuan memahami perbedaan budaya kemudian menjadi modal profesional.
Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai bahasa asing.
Mereka juga perlu mengetahui bagaimana berkomunikasi dan bekerja secara efektif dengan orang yang mempunyai kebiasaan maupun perspektif berbeda.
Isu keempat membahas Digital Technology as a Catalyst for Social Impact.
Teknologi tidak hanya dipandang sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan.
Mahasiswa juga diajak melihat bagaimana inovasi digital dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan sosial.
Aplikasi, analisis data dan berbagai platform digital mempunyai potensi membantu bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan maupun pelayanan masyarakat.
Namun inovasi harus berangkat dari kebutuhan nyata agar memberikan dampak yang berarti.
Topik kelima adalah Global Mobility and Borderless Learning.
Pendidikan tinggi kini semakin tidak terbatas oleh batas negara.
Mahasiswa mempunyai kesempatan mengikuti pertukaran, program jangka pendek, penelitian bersama maupun berbagai aktivitas akademik internasional.
Teknologi juga memungkinkan pembelajaran dilakukan lintas negara tanpa seluruh peserta berada dalam satu lokasi.
Forum ASEAN dapat membantu membuka jaringan yang nantinya mendukung mobilitas tersebut.
Keterampilan hijau atau Green Skills and Sustainable Innovation menjadi isu keenam.
Perubahan iklim dan tuntutan pembangunan berkelanjutan membuat dunia kerja membutuhkan lulusan yang memahami aspek lingkungan.
Hal tersebut tidak hanya berlaku untuk mahasiswa bidang lingkungan.
Ekonomi, teknologi, bisnis, teknik maupun bidang sosial juga mempunyai hubungan dengan keberlanjutan.
Mahasiswa perlu memahami bagaimana keputusan profesional dapat memberikan dampak terhadap lingkungan.
Isu ketujuh membahas Student Networks as Engines of Innovation.
Jaringan mahasiswa lintas kampus dianggap dapat menjadi kekuatan untuk menghasilkan gagasan dan kolaborasi.
Pertemuan seperti AUN-SAN dan VOX memberikan kesempatan peserta membangun hubungan yang mungkin berlanjut setelah kegiatan selesai.
Mahasiswa dari Indonesia dapat bekerja sama dengan rekan dari Malaysia, Brunei, Singapura maupun negara ASEAN lainnya dalam proyek, penelitian dan kegiatan sosial.
Isu kedelapan adalah Ethics, Inclusion, and Responsible Use of AI.
Topik ini menegaskan bahwa pembicaraan mengenai AI tidak cukup hanya berkaitan dengan kemampuan teknis.
Penggunaan teknologi juga membawa pertanyaan mengenai keadilan, privasi, bias dan tanggung jawab.
Mahasiswa perlu memahami bahwa teknologi dapat memberikan dampak berbeda kepada kelompok masyarakat.
Sistem yang tidak dirancang secara inklusif berpotensi memperbesar kesenjangan.
Setelah melakukan diskusi pada Kamis, 3 September, para mahasiswa kemudian mempresentasikan hasil gagasannya kepada delegasi AUN-SAN pada Jumat.
Dengan mekanisme tersebut, suara mahasiswa masuk langsung ke dalam forum pengelola kemahasiswaan perguruan tinggi ASEAN.
AUN-SAN sendiri diisi delegasi unit student affairs dari universitas anggota.
Pembahasan mereka berfokus pada persoalan mahasiswa, termasuk program dan praktik baik yang dapat dikerjakan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik di perguruan tinggi.
Pertemuan di UNAIR juga menghasilkan keputusan mengenai tuan rumah sejumlah agenda AUN berikutnya.
The 9th ASEAN Student Leaders Forum atau ASLF dijadwalkan diselenggarakan Universiti Malaya.
Sementara 5th ASEAN Experiential Learning Program atau AELP akan berlangsung di Universiti Brunei Darussalam.
Adapun The 8th AUN-SAN Meeting dan 3rd VOX Meeting berikutnya akan diselenggarakan Nanyang Technological University atau NTU.
Penetapan tersebut menunjukkan kerja sama tidak berhenti setelah forum di Surabaya selesai.
Agenda pengembangan mahasiswa ASEAN akan berlanjut melalui universitas anggota lainnya.
Bagi UNAIR, menjadi tuan rumah forum memberikan kesempatan memperluas kolaborasi internasional sekaligus memperkenalkan program kemahasiswaan yang telah dikembangkan kampus.
Sebelumnya, UNAIR juga berbagi pengalaman mengenai program Belajar Bersama Komunitas yang dahulu dikenal sebagai Kuliah Kerja Nyata.
Program tersebut digunakan sebagai salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan masyarakat berbasis tujuan pembangunan berkelanjutan.
Forum AUN-SAN memperlihatkan bahwa tantangan perguruan tinggi di ASEAN mempunyai banyak kesamaan.
Mahasiswa di berbagai negara sama-sama menghadapi perubahan teknologi, dunia kerja, isu lingkungan dan kebutuhan membangun kemampuan global.
Karena itu, kerja sama regional dapat membantu kampus belajar satu sama lain.
Program yang berhasil di satu universitas dapat dipelajari dan disesuaikan di universitas lain.
Mahasiswa juga memperoleh keuntungan karena mempunyai jaringan yang semakin luas.
Bagi peserta, kemampuan membangun relasi lintas negara dapat menjadi pengalaman penting sebelum memasuki lingkungan profesional internasional.
Tema “Future Skills, Global Minds” kemudian mempunyai makna yang cukup jelas.
Perguruan tinggi tidak hanya perlu mempersiapkan mahasiswa dengan pengetahuan bidang studi.
Lulusan masa depan juga harus mempunyai kemampuan menggunakan teknologi, memahami budaya lain, beradaptasi terhadap dunia kerja yang berubah serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Delapan agenda yang dibahas mahasiswa menggambarkan perubahan tersebut.
AI dan otomatisasi memang mendapat perhatian besar, tetapi forum juga membicarakan etika, keberlanjutan, inklusi dan kolaborasi.
Teknologi tidak ditempatkan sebagai satu-satunya jawaban.
Kemampuan manusia tetap menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda ASEAN.
Dengan melibatkan 30 universitas anggota, AUN-SAN dan VOX Meeting 2026 menjadi salah satu ruang untuk menyatukan gagasan tersebut.
Rangkaian kegiatan di UNAIR berlangsung hingga Sabtu, 5 September 2026.
Setelah forum selesai, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana gagasan yang telah disusun mahasiswa dapat diterjemahkan menjadi program nyata di perguruan tinggi masing-masing.
Jika jejaring tersebut terus berjalan, kolaborasi antarkampus ASEAN dapat berkembang dari sekadar pertemuan tahunan menjadi kerja sama yang memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa.