Pendidikan
Rahman Abdullah

Anak Tak Boleh Dibiarkan Bebas, Ini Panduan Mendidik dan Menegur Anak Menurut Islam

Anak Tak Boleh Dibiarkan Bebas, Ini Panduan Mendidik dan Menegur Anak Menurut Islam

09 Agustus 2026 | 20:53

Keboncinta.com-- Mendidik anak bukan perkara mudah. Ada kalanya orang tua atau guru harus menghadapi anak yang sulit dinasihati, menolak aturan, bahkan memprotes ketika mendapatkan teguran karena melakukan kesalahan.

Tidak sedikit anak yang merasa hukuman atau konsekuensi yang diberikan guru tidak adil karena di rumah mereka terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan. Kondisi seperti ini tentu dapat menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua maupun pendidik.

Di satu sisi, orang tua ingin memberikan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan anak. Namun di sisi lain, terlalu sering menuruti semua keinginan anak tanpa memberikan batasan dapat membuat mereka kesulitan memahami aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi dari setiap tindakan.

Dalam perspektif pendidikan Islam, kasih sayang kepada anak tidak berarti membiarkan mereka melakukan apa saja. Anak juga membutuhkan arahan, keteladanan, batasan, dan konsekuensi yang diberikan secara proporsional.

Lantas, bagaimana Islam mengajarkan orang tua dan guru ketika menghadapi anak yang melakukan kesalahan?

Baca Juga: TPG 2026 Bisa Terkendala? Guru Sertifikasi Non-ASN Wajib Cek Data MKG Sebelum Terlambat

Kasih Sayang Tidak Berarti Selalu Menuruti Anak

Orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh bahagia. Karena itu, sebagian orang tua berusaha memenuhi berbagai keinginan anak, mulai dari membelikan gadget, memberikan uang, hingga memenuhi permintaan lainnya.

Memberikan sesuatu kepada anak sebagai bentuk kasih sayang tentu tidak salah. Namun, masalah dapat muncul ketika orang tua tidak pernah mengatakan "tidak" meskipun permintaan anak sudah melewati batas kewajaran.

Anak akhirnya dapat terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa memahami bahwa setiap tindakan memiliki batas dan konsekuensi.

Padahal, salah satu bagian penting dalam pendidikan adalah mengajarkan anak memahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, sekaligus belajar bertanggung jawab atas perilakunya.

Hukuman dalam Islam Bertujuan Mendidik

Dalam pendidikan Islam, konsekuensi atas kesalahan bukan semata-mata bertujuan memberikan penderitaan kepada anak.

Jika suatu bentuk hukuman atau konsekuensi digunakan, tujuannya harus jelas, yaitu membantu anak memahami kesalahannya dan memperbaiki perilakunya.

Konsep pendidikan dengan pemberian konsekuensi perlu dilakukan secara bertahap dan penuh pertimbangan. Orang tua maupun guru perlu melihat usia anak, tingkat pemahamannya, penyebab kesalahan, serta kondisi ketika pelanggaran terjadi.

Dengan demikian, disiplin tidak berubah menjadi tindakan yang lahir dari kemarahan.

Baca Juga: SKTP Tak Kunjung Terbit? Jangan Panik, Cek 3 Hal Ini di Dapodik dan Info GTK

Tidak Semua Kesalahan Harus Dihukum

Sebelum memberikan hukuman, orang tua dan guru perlu memahami terlebih dahulu mengapa anak melakukan kesalahan.

Setidaknya, kesalahan anak dapat dilihat dari beberapa kondisi.

1. Anak Belum Memahami Aturan

Anak terkadang melakukan sesuatu yang sebenarnya salah karena belum mengetahui bahwa tindakan tersebut melanggar aturan.

Dalam kondisi seperti ini, penjelasan dan pembelajaran justru lebih penting daripada hukuman.

Orang tua dapat menjelaskan apa yang salah, mengapa tindakan tersebut tidak boleh dilakukan, serta bagaimana seharusnya anak bertindak.

2. Anak Belum Memiliki Keterampilan

Kesalahan juga dapat terjadi karena anak belum memiliki pengalaman atau kemampuan yang cukup.

Misalnya, anak gagal menyelesaikan tugas karena belum memahami caranya. Memberikan hukuman dalam situasi seperti ini tentu bukan pilihan pertama.

Pendampingan, contoh, latihan, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dapat menjadi pendekatan yang lebih efektif.

Baca Juga: Jangan Tunggu Tanggal 15! Ini Strategi Agar Data Dapodik Guru Tidak Tertunda dan SKTP Lebih Lancar

3. Anak Sengaja Melanggar Aturan

Berbeda ketika anak sudah memahami aturan tetapi dengan sengaja memilih melanggarnya.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua atau guru dapat memberikan konsekuensi yang masuk akal dan sesuai dengan tingkat kesalahan.

Tujuannya bukan untuk mempermalukan atau menyakiti anak, melainkan membantu mereka memahami bahwa setiap tindakan memiliki akibat.

Konsekuensi Harus Sesuai dengan Kesalahan

Salah satu prinsip penting dalam mendidik anak adalah proporsionalitas.

Kesalahan kecil tidak seharusnya mendapatkan hukuman yang berlebihan. Begitu pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan tidak seharusnya diperlakukan sama dengan pelanggaran yang dilakukan secara sengaja.

Konsekuensi dapat diberikan dalam bentuk yang mendidik, seperti meminta anak memperbaiki kesalahan, mengembalikan sesuatu yang dirusak, menyelesaikan tanggung jawab yang ditinggalkan, atau mengurangi sementara hak istimewa yang berkaitan dengan pelanggaran.

Pendekatan tersebut membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi tanpa membuat mereka merasa tidak dicintai.

Baca Juga: Cara Ajukan Tunsus Guru Madrasah 2026 Lewat EMIS GTK, Jangan Sampai Gagal Saat Verval!

Hukuman Tidak Boleh Diberikan Saat Emosi

Hal yang sangat penting bagi orang tua maupun guru adalah mengendalikan emosi sebelum memberikan konsekuensi.

Ketika sedang marah, seseorang dapat kehilangan pertimbangan dan memberikan hukuman secara berlebihan.

Pendidikan yang baik seharusnya dilakukan dengan kepala dingin. Anak perlu mengetahui bahwa dirinya tetap disayangi meskipun perilakunya sedang dikoreksi.

Karena itu, teguran sebaiknya diarahkan kepada perilaku yang salah, bukan merendahkan harga diri anak.

Alih-alih mengatakan anak sebagai "anak nakal", misalnya, orang tua dapat menjelaskan bahwa tindakan tertentu tidak dapat dibenarkan dan perlu diperbaiki.

Keteladanan Menjadi Bagian Penting Pendidikan

Mendidik anak tidak cukup hanya dengan memberikan aturan.

Anak juga belajar melalui apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, orang tua dan guru harus memberikan contoh dalam hal kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kesabaran, serta cara menyelesaikan masalah.

Sulit mengajarkan anak agar tidak mudah marah apabila orang dewasa di sekitarnya justru sering menyelesaikan persoalan dengan kemarahan.

Keteladanan menjadi salah satu cara paling kuat untuk membantu membentuk karakter anak.

Baca Juga: Jangan Tunggu Tanggal 15! Ini Strategi Agar Data Dapodik Guru Tidak Tertunda dan SKTP Lebih Lancar

Bagaimana Jika Anak Menolak Hukuman dari Guru?

Ketika anak pulang dan mengatakan bahwa hukuman dari guru tidak adil, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan guru maupun membela anak.

Langkah pertama adalah mendengarkan penjelasan anak secara utuh.

Orang tua dapat menanyakan apa yang terjadi, aturan apa yang dilanggar, dan mengapa guru memberikan konsekuensi tersebut.

Setelah memahami situasinya, orang tua dapat berkomunikasi dengan guru untuk mendapatkan informasi dari kedua sisi.

Pendekatan seperti ini mengajarkan anak bahwa orang tua selalu mendukungnya, tetapi bukan berarti akan membenarkan setiap kesalahan yang dilakukan.

Hindari Hukuman yang Menyakiti Anak

Dalam konteks pendidikan modern, bentuk disiplin yang menyebabkan luka, rasa takut berlebihan, penghinaan, atau trauma tidak seharusnya dijadikan metode pendidikan.

Orang tua dan guru dapat memilih konsekuensi yang bersifat mendidik dan tetap menjaga martabat anak.

Jika merujuk pada pembahasan fikih klasik mengenai hukuman fisik, terdapat batasan dan syarat yang sangat ketat dalam literatur tersebut. Karena itu, pembahasannya tidak tepat jika dipahami sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan terhadap anak.

Prinsip yang harus dikedepankan adalah keselamatan, kemaslahatan, kasih sayang, dan tujuan pendidikan.

Baca Juga: Dapodik Telat Sinkronisasi, TPG Guru Kapan Cair?

Tags:
Islam Pendidikan Anak Mendidik Anak

Komentar Pengguna