Berita
Admin

BBM Terancam Naik, Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan Indonesia

BBM Terancam Naik, Lonjakan Harga Minyak Dunia Tekan Indonesia

31 Maret 2026 | 18:17

Keboncinta.com-- Ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap pasar energi global.

Lonjakan harga minyak mentah dunia kini berimbas langsung pada potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, khususnya untuk jenis non-subsidi seperti Pertamax yang diperkirakan mengalami penyesuaian mulai 1 April 2026.

Pengamat sektor energi, Hadi Ismoyo, menilai bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi hampir tidak dapat dihindari.

Menurutnya, fluktuasi harga minyak mentah global menjadi faktor utama yang memengaruhi kebijakan harga energi di dalam negeri.

Baca Juga: Persiapan Haji Indonesia 2026 Hampir Rampung, Pemerintah Fokus pada Layanan Jemaah dan Transparansi Dana

Ia menjelaskan, apabila harga minyak mentah naik dari kisaran USD 70 menjadi USD 90 per barel atau meningkat sekitar 28 persen, maka harga Pertamax berpotensi mengalami kenaikan dengan persentase yang sebanding.

Dengan asumsi harga awal Rp12.000 per liter, harga baru bisa mencapai sekitar Rp15.360 per liter.

Bahkan, jika harga minyak dunia menembus angka USD 100 per barel, lonjakan harga bisa lebih signifikan.

Dalam skenario tersebut, harga Pertamax berpotensi naik hingga sekitar Rp17.160 per liter, tergantung pada kebijakan yang diambil oleh Pertamina sebagai penyedia BBM nasional.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Keberangkatan Haji Indonesia 2026 dan Pentingnya Menjaga Kesehatan Jemaah Sebelum Berangkat

Meski demikian, Hadi mengingatkan agar pemerintah tetap menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi seperti Pertalite.

Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat kebijakan kenaikan harga BBM subsidi berisiko memperberat beban masyarakat.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh ekonom Hendry Cahyono yang menyoroti dampak kenaikan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurutnya, tekanan terhadap anggaran negara akan semakin besar seiring meningkatnya harga minyak global.

Ia memperkirakan, jika harga minyak berada di kisaran USD 85 hingga USD 92 per barel, maka harga Pertalite dapat mengalami kenaikan sekitar 5 hingga 10 persen.

Baca Juga: Visa Habis? Ini Kebijakan Terbaru Arab Saudi untuk Jemaah dan Pekerja

Dalam kondisi tersebut, harga bisa berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp11.000 per liter, sementara solar subsidi diprediksi naik menjadi sekitar Rp7.150 hingga Rp7.500 per liter.

Namun, apabila harga minyak bertahan di level USD 100 per barel dalam jangka waktu lama, dampaknya akan jauh lebih besar.

Harga Pertalite berpotensi naik hingga Rp11.500 sampai Rp12.000 per liter, sedangkan solar subsidi dapat mencapai kisaran Rp7.800 hingga Rp8.200 per liter.

Kenaikan harga minyak mentah juga berpengaruh langsung terhadap beban subsidi energi pemerintah.

Setiap kenaikan USD 1 per barel diperkirakan dapat menambah beban subsidi hingga Rp10,3 triliun, sekaligus memperlebar defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun.

Baca Juga: Jangan Lewatkan! KIP Kuliah 2026 Beri Peluang Kuliah Gratis untuk Siswa Berprestasi

Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, kondisi ini berpotensi memicu tekanan ekonomi berupa stagflasi, yaitu situasi ketika harga barang meningkat namun daya beli masyarakat tidak ikut tumbuh.

Karena itu, Hendry menekankan pentingnya langkah mitigasi dari pemerintah, seperti pemberian bantuan sosial dan perlindungan ekonomi bagi kelompok rentan.

Upaya ini dinilai penting agar dampak kenaikan harga energi tidak semakin menekan konsumsi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan situasi global yang masih tidak menentu, kebijakan energi yang adaptif dan tepat sasaran menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri di tengah tekanan harga minyak dunia yang terus meningkat.***

Tags:
berita nasional Harga BBM

Komentar Pengguna