Keboncinta.com-- Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional resmi menyesuaikan pola penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai tahun 2026.
Dalam kebijakan terbaru, distribusi makanan bergizi bagi siswa dilakukan selama lima hari dalam sepekan, mengikuti mayoritas jadwal sekolah yang menerapkan sistem lima hari belajar.
Meski demikian, aturan ini tidak berlaku seragam di seluruh wilayah. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan adanya perlakuan khusus bagi daerah tertentu yang membutuhkan perhatian lebih.
Baca Juga: Haji 2026 Siaga! Pemerintah Siapkan Skenario Darurat hingga Skema Baru untuk Jemaah
Wilayah Prioritas Tetap 6 Hari
Untuk daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) serta wilayah dengan angka stunting tinggi, program MBG tetap dijalankan selama enam hari dalam seminggu, termasuk pada hari Sabtu.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan anak-anak di wilayah rentan tetap mendapatkan asupan gizi secara optimal.
Penambahan hari distribusi dinilai penting agar kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi, terutama di daerah dengan risiko kekurangan gizi yang tinggi.
Secara umum, pelaksanaan MBG kini mengikuti jadwal kegiatan belajar di sekolah. Jika sekolah menerapkan lima hari belajar, maka program MBG diberikan lima kali dalam seminggu.
Sementara itu, sekolah dengan jadwal enam hari tetap akan menerima distribusi MBG selama enam hari.
Namun karena sebagian besar sekolah di Indonesia telah menerapkan sistem lima hari, kebijakan nasional difokuskan pada pola tersebut sebagai standar utama.
Berbasis Data dan Wilayah Rawan
Penentuan daerah prioritas tidak dilakukan secara sembarangan. Pemerintah mengacu pada data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Data ini digunakan untuk mengidentifikasi wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, yang mayoritas berada di kawasan Indonesia bagian timur.
Selain itu, BGN juga bekerja sama dengan dinas pendidikan dan kesehatan daerah untuk memastikan penyaluran program tepat sasaran.
Baca Juga: Daftar LPDP 2026 Tanpa LoA Apakah Bisa? Ini Aturan Resmi, Jenis LoA, dan Dampaknya pada Seleksi
Pendataan mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, serta kondisi gizi di masing-masing wilayah.
Efisiensi Anggaran Tanpa Mengorbankan Program
Penyesuaian jadwal MBG sempat dikaitkan dengan upaya efisiensi anggaran negara. Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa perubahan dari enam hari menjadi lima hari berpotensi menghemat anggaran hingga puluhan triliun rupiah per tahun.
Meski begitu, Prabowo Subianto menegaskan bahwa program MBG tetap menjadi prioritas nasional.
Pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan program ini karena dampaknya yang besar terhadap masa depan generasi muda.
Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi siswa. Lebih dari itu, program ini berperan penting dalam menekan angka stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong perputaran ekonomi melalui sektor pangan lokal.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan 1 April Tak Ada Kenaikan BBM, Masyarakat Diminta Tetap Tenang
Dengan kebijakan terbaru ini, pemerintah berusaha menjaga keseimbangan antara efisiensi anggaran dan pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Khusus untuk wilayah yang rentan, keberlanjutan MBG tetap menjadi prioritas utama demi memastikan generasi muda tumbuh sehat dan optimal.***