Cara Berbeda Negara-Negara Dunia Menyambut Ramadan, Berikut ini Tradisi Unik Sambut Puasa dari Berbagai Negara

Cara Berbeda Negara-Negara Dunia Menyambut Ramadan, Berikut ini Tradisi Unik Sambut Puasa dari Berbagai Negara

15 Februari 2026 | 16:02

Keboncinta.com-- Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana istimewa bagi umat Islam di berbagai belahan dunia.

Tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kedekatan spiritual kepada Tuhan, Ramadan juga dirayakan melalui tradisi-tradisi khas yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.

Walau memiliki tujuan dan nilai yang sama, setiap negara menyambut Ramadan dengan cara unik yang diwariskan secara turun-temurun.

Di Indonesia, kedatangan Ramadan kerap ditandai dengan semarak pawai obor yang menerangi malam-malam menjelang puasa. Warga juga bergotong royong membersihkan lingkungan, masjid, dan makam keluarga sebagai simbol penyucian diri.

Baca Juga: Menyambut Ramadan dengan Cara Berbeda: Tradisi Unik dari Berbagai Penjuru Dunia

Pengajian, ziarah kubur, serta tradisi makan bersama menjadi bagian penting dari persiapan lahir dan batin. Nuansa kebersamaan terasa begitu kuat, mencerminkan nilai solidaritas sosial yang masih terjaga di tengah masyarakat.

Sementara itu, suasana Ramadan di Turki terasa kental dengan jejak sejarah. Dentuman genderang sahur yang dimainkan oleh petugas keliling menjadi ciri khas yang telah ada sejak masa Kekaisaran Ottoman.

Ketika malam tiba, masjid-masjid dihiasi lampu dengan tulisan pesan moral Ramadan yang dibentangkan di antara menara, menciptakan panorama religius yang menyejukkan hati dan mengundang kekhusyukan.

Di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir, Ramadan identik dengan lentera warna-warni yang dikenal sebagai fanous. Lentera ini menghiasi rumah, jalanan, hingga pusat perbelanjaan, menghadirkan suasana hangat dan penuh kegembiraan.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Masuki Masa Evaluasi 2026, Ini Peluang dan Syarat Jadi PPPK Penuh Waktu

Selain menjadi elemen dekoratif, fanous juga melambangkan harapan, kebahagiaan, dan semangat kebersamaan selama menjalani ibadah puasa.

Tradisi menyambut Ramadan yang tak kalah unik juga ditemukan di Maroko. Menjelang bulan puasa, seorang petugas khusus bernama nafar berkeliling kota sambil meniup terompet tradisional sebagai penanda datangnya Ramadan.

Selama bulan suci berlangsung, ritme kehidupan masyarakat diatur agar selaras dengan waktu ibadah dan momen berkumpul bersama keluarga, menjadikan Ramadan sebagai pusat aktivitas sosial dan spiritual.

Keberagaman tradisi Ramadan di berbagai negara menunjukkan bahwa bulan suci ini tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi budaya dan identitas kolektif.

Baca Juga: Persoalkan Alokasi Dana Pendidikan, Guru Honorer Jabar Tempuh Uji Materi ke MK

Meski berbeda dalam bentuk perayaan, nilai yang dijunjung tetap sama, yakni mempererat persaudaraan, menumbuhkan empati, serta memperkuat nilai kemanusiaan.

Melalui tradisi-tradisi tersebut, Ramadan menjelma sebagai momentum global yang menyatukan umat Islam lintas bangsa dan budaya.

Perbedaan cara menyambutnya justru memperkaya makna Ramadan sebagai bulan penuh berkah, refleksi diri, dan kebersamaan yang mendalam.***

Tags:
Internasional Khazanah Islam Puasa Ramadhan

Komentar Pengguna