Sejarah
Admin

Dari Wallachia ke Legenda Dunia: Fakta Sejarah Vlad Tepes yang Jarang Diketahui

Dari Wallachia ke Legenda Dunia: Fakta Sejarah Vlad Tepes yang Jarang Diketahui

11 Februari 2026 | 11:41

Keboncinta.com-- Nama Vlad Tepes kerap dikaitkan dengan sosok Dracula yang melegenda dalam kisah horor Eropa.

Namun di balik bayang-bayang mitologi vampir, Vlad adalah tokoh sejarah nyata: seorang Pangeran Wallachia pada abad ke-15 yang dikenal dengan julukan Vlad the Impaler karena metode eksekusinya yang kejam.

Sosok inilah yang kemudian menginspirasi Bram Stoker saat menciptakan karakter Dracula pada abad ke-19.

Istilah “Dracula” sendiri berarti “anak dari Dracul” dalam bahasa Rumania. Julukan itu merujuk pada ayahnya, Vlad II Dracul, seorang penguasa yang tergabung dalam Ordo Naga—sebuah ordo ksatria Kristen.

Baca Juga: Wajib Punya! Cara Membuat dan Validasi Kode Otorisasi DJP di Coretax agar Layanan Pajak Digital Lancar

Meski tidak ada kaitan dengan vampir, nama tersebut berkembang dalam imajinasi Barat hingga melebur menjadi simbol kegelapan dan teror.

Di luar legenda, Vlad Tepes adalah figur politik dan militer yang hidup di masa penuh gejolak. Ia memimpin Wallachia, wilayah kecil yang terjepit di antara dua kekuatan besar: Kerajaan Hungaria di barat dan Kesultanan Ottoman di timur.

Letak strategis ini menjadikan Wallachia sebagai medan tarik-menarik pengaruh dan perebutan dominasi.

Pada pertengahan abad ke-15, Kesultanan Ottoman tengah berada dalam fase ekspansi besar. Setelah menaklukkan Konstantinopel pada 1453 di bawah Sultan Mehmed II, pasukan Ottoman bergerak memperluas wilayah ke Balkan.

Baca Juga: Info GTK Masih Merah Meski Dapodik Sudah Sinkron? Ini Penjelasan Resmi Mekanisme Validasi Bulanan yang Wajib Dipahami Guru

Wallachia menjadi salah satu target penting karena posisinya yang strategis sebagai gerbang menuju Eropa Tengah.

Menariknya, Vlad pernah menghabiskan masa mudanya sebagai sandera politik di istana Ottoman bersama adiknya, Radu. Penahanan itu merupakan jaminan kesetiaan ayah mereka kepada Sultan.

Pengalaman tersebut diyakini membentuk karakter Vlad—keras, penuh perhitungan, dan menyimpan kebencian mendalam terhadap dominasi Ottoman.

Setelah naik takhta, Vlad menghadapi dilema klasik penguasa kecil: tunduk dan membayar upeti, atau melawan dengan risiko kehancuran.

Pada 1461, ketika Sultan Mehmed II menuntut upeti dan bantuan militer, Vlad menolak mentah-mentah.

Baca Juga: NRG PPG Tahap Awal Mulai Terbit, Ini Cara Cek di Info GTK dan Syarat Agar TPG Cair Tanpa Kendala

Lebih jauh lagi, ia menghukum mati para utusan Ottoman yang datang menagih kewajiban tersebut—sebuah tindakan yang dianggap sebagai penghinaan terbuka.

Tak berhenti di situ, Vlad melancarkan serangan mendadak ke wilayah Ottoman di selatan Sungai Danube. Ribuan orang tewas dalam serangan itu.

Metode hukuman yang ia gunakan—menusuk korban hidup-hidup di atas tiang—menjadi ciri khas yang menebarkan ketakutan luas. Praktik inilah yang membuatnya dijuluki “The Impaler”.

Sultan Mehmed II merespons dengan memimpin langsung invasi besar ke Wallachia pada 1462. Pasukan Ottoman yang jumlahnya jauh lebih besar bergerak menuju ibu kota Târgoviște. Namun Vlad tidak memilih konfrontasi terbuka.

Ia menerapkan taktik bumi hangus, merusak logistik, meracuni sumber air, dan melancarkan serangan gerilya.

Baca Juga: Resmi! Bantuan PIP TK dan PAUD 2026 Segera Disalurkan, Orang Tua Wajib Tahu

Salah satu momen paling terkenal dalam konflik ini adalah “Serangan Malam di Târgoviște”. Dalam operasi berani itu, Vlad dan pasukan kecilnya menyusup ke perkemahan Ottoman dengan tujuan membunuh Sultan secara langsung.

Meski target utama tidak tercapai, serangan tersebut menimbulkan kekacauan besar di kubu lawan.

Ketika pasukan Ottoman mendekati Târgoviște, mereka disambut pemandangan yang mengguncang mental: ribuan mayat tertusuk berjajar membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai “hutan orang tertusuk”.

Gambaran mengerikan ini diyakini menjadi salah satu faktor yang melemahkan moral pasukan penyerang.

Meski berhasil memperlambat laju Ottoman, nasib Vlad akhirnya ditentukan oleh intrik politik internal. Adiknya, Radu cel Frumos, yang memiliki hubungan baik dengan Sultan, didukung untuk menggantikannya.

Baca Juga: Resmi! Bantuan PIP TK dan PAUD 2026 Segera Disalurkan, Orang Tua Wajib Tahu

Vlad kehilangan dukungan sebagian bangsawan dan terpaksa melarikan diri ke Hungaria, di mana ia sempat dipenjara.

Ia kembali berkuasa singkat pada 1476, namun tidak lama kemudian tewas dalam pertempuran. Detail kematiannya masih diperdebatkan, tetapi diyakini ia gugur di tengah konflik politik dan militer yang terus berkecamuk.

Vlad Tepes pada akhirnya bukan sekadar inspirasi tokoh fiksi horor. Ia adalah figur sejarah yang hidup di persimpangan kekuasaan, agama, dan perang.

Di satu sisi, ia dipandang sebagai pembela kemerdekaan Wallachia dari ekspansi Ottoman. Di sisi lain, kekejamannya meninggalkan jejak kontroversial yang melampaui zamannya.***

Tags:
Sejarah Khazanah sejarah dunia

Komentar Pengguna