Pendidikan
Hilmi An Naufal

Dosen Pasang Instruksi Tersembunyi, 32 Mahasiswa Ketahuan Mengandalkan AI saat Ujian

Dosen Pasang Instruksi Tersembunyi, 32 Mahasiswa Ketahuan Mengandalkan AI saat Ujian

06 Agustus 2026 | 06:32

MISSISSIPPI — Seorang dosen sejarah di Amerika Serikat menggunakan cara tidak biasa untuk mengetahui apakah mahasiswanya mengerjakan ujian menggunakan kecerdasan buatan tanpa membaca kembali hasilnya.

Jason Gibson, dosen di Alcorn State University, memasukkan sebuah perintah tersembunyi ke dalam soal esai digital. Instruksi itu ditulis menggunakan huruf putih sehingga tidak terlihat pada latar belakang dokumen berwarna putih.

Perintah tersebut meminta sistem AI memasukkan kata “Madagascar” ke dalam jawaban dengan cara yang tidak masuk akal. Hasilnya, 32 dari 35 mahasiswa di dua kelas mencantumkan kata tersebut dalam tulisan mereka. Mereka kemudian dinyatakan gagal pada bagian ujian yang berkaitan dengan tugas tersebut.

Soal membahas Revolusi Industri

Mahasiswa sebenarnya diminta menulis pembahasan yang membandingkan Revolusi Industri dengan perubahan pada era digital.

Topik itu seharusnya membahas perkembangan teknologi, perubahan jenis pekerjaan, otomatisasi, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Madagascar tidak memiliki hubungan langsung dengan konteks pertanyaan tersebut.

Namun, sebagian besar jawaban memuat kata itu dalam kalimat yang aneh. Beberapa tulisan membicarakan Revolusi Industri dan teknologi modern, lalu tiba-tiba menyisipkan kalimat tidak relevan mengenai Madagascar.

Kemunculan kata yang sama dalam 32 jawaban membuat Gibson menduga para mahasiswa menyalin seluruh soal ke dalam chatbot AI, kemudian menyerahkan hasilnya tanpa pemeriksaan yang memadai.

Cara kerja instruksi tersembunyi

Huruf putih pada latar belakang putih biasanya tidak terlihat ketika dokumen dibaca secara normal. Namun, teks tersebut tetap menjadi bagian dari isi digital.

Ketika seluruh soal disalin dan ditempelkan ke chatbot, sistem dapat membaca perintah tersembunyi tersebut. AI kemudian mengikuti instruksinya dengan memasukkan kata Madagascar ke dalam jawaban.

Metode ini sering disebut sebagai hidden prompt atau instruksi tersembunyi. Dalam kasus tersebut, instruksi digunakan bukan untuk mendeteksi gaya bahasa AI, melainkan untuk melihat apakah mahasiswa menyalin soal secara utuh ke dalam sistem generatif.

Hal yang paling disoroti Gibson bukan hanya penggunaan AI, tetapi kenyataan bahwa sebagian besar mahasiswa tampaknya tidak membaca ulang jawaban sebelum mengirimkannya.

Apabila tulisan diperiksa kembali, kata yang tidak relevan itu seharusnya mudah ditemukan dan dipertanyakan.

Mahasiswa diberi kesempatan mengajukan keberatan

Setelah memberikan nilai, Gibson menjelaskan metode yang digunakannya dan membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengajukan keberatan.

Dari 32 mahasiswa yang terkena penalti, hanya dua orang yang mengajukan peninjauan. Salah satu mahasiswa berhasil memperoleh perubahan nilai setelah menjelaskan bahwa perangkatnya menggunakan mode gelap.

Dalam mode tersebut, teks putih justru dapat terlihat. Mahasiswa itu memasukkan kata Madagascar karena menganggapnya sebagai bagian dari instruksi resmi, bukan karena menyalin soal ke chatbot tanpa membaca.

Pengecualian tersebut menunjukkan bahwa instruksi tersembunyi tidak selalu menjadi bukti mutlak penggunaan AI. Kondisi layar, format dokumen, aplikasi pembaca, dan cara mahasiswa memahami perintah juga perlu diperiksa sebelum hukuman diberikan.

Profesor tidak bermaksud mempermalukan mahasiswa

Gibson menyatakan tujuannya bukan mempermalukan atau menikmati kegagalan mahasiswa. Ia menggunakan metode tersebut setelah melihat pola tulisan mahasiswa yang semakin seragam dan berbeda dari kemampuan komunikasi mereka sehari-hari.

Ia juga menilai perangkat pendeteksi tulisan AI belum selalu dapat memberikan hasil yang dapat diandalkan. Karena itu, ia mencoba metode lain yang dapat menunjukkan apakah soal dimasukkan secara langsung ke dalam chatbot.

Gibson tercatat sebagai pengajar sejarah di Alcorn State University. Kampus tersebut juga melibatkannya dalam kegiatan pengembangan kepemimpinan mahasiswa dan diskusi mengenai pendidikan serta kehidupan masyarakat.

Penggunaan AI tidak selalu termasuk kecurangan

Kecerdasan buatan dapat digunakan secara sah untuk membantu pembelajaran, misalnya menjelaskan konsep, membuat soal latihan, menyusun kerangka awal, menerjemahkan istilah, atau memberikan umpan balik terhadap tulisan.

Masalah muncul ketika mahasiswa menyerahkan hasil AI sebagai pekerjaan pribadi pada tugas atau ujian yang melarang bantuan tersebut.

Batas penggunaan AI dapat berbeda dalam setiap mata kuliah. Ada dosen yang mengizinkan AI untuk mencari ide, tetapi melarangnya menulis jawaban akhir. Ada pula ujian yang sama sekali tidak memperbolehkan penggunaan chatbot.

Karena itu, perguruan tinggi dan dosen perlu menyampaikan aturan secara jelas sebelum tugas diberikan. Mahasiswa harus mengetahui penggunaan seperti apa yang diperbolehkan, bagian mana yang harus dikerjakan sendiri, serta bagaimana penggunaan AI perlu dicantumkan.

Kasus ini memunculkan perdebatan

Tindakan Gibson mendapatkan tanggapan beragam di media sosial.

Sebagian pengguna menilai strategi tersebut kreatif karena dapat menunjukkan mahasiswa yang menyalin hasil AI tanpa membacanya. Kelompok lain berpendapat bahwa pendidikan sebaiknya lebih banyak mengajarkan penggunaan AI secara benar daripada hanya mencari cara menghukum mahasiswa.

Ada pula yang menyarankan ujian dikembalikan ke bentuk tulisan tangan dan dilaksanakan secara langsung. Namun, cara tersebut tidak selalu cocok untuk seluruh mata kuliah, terutama pembelajaran yang memang membutuhkan komputer, pemrograman, analisis data, atau riset digital.

Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi belum mempunyai satu metode yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan penggunaan AI dalam pendidikan.

Detektor AI juga memiliki keterbatasan

Mengandalkan perangkat lunak pendeteksi AI sebagai satu-satunya bukti dapat menimbulkan masalah.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna