KHAZANAH – Tanggal 26 Agustus 1071 menjadi salah satu hari yang paling dikenang dalam sejarah Anatolia.
Di dekat kota Manzikert, yang sekarang dikenal sebagai Malazgirt di Türkiye timur, pasukan Kesultanan Seljuk Raya pimpinan Sultan Alp Arslan bertemu dengan tentara Kekaisaran Bizantium yang dipimpin langsung Kaisar Romanos IV Diogenes.
Pertempuran tersebut berakhir dengan kemenangan Seljuk.
Tetapi ada satu kejadian yang membuat hasil pertempuran semakin mengejutkan:
Romanos IV ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Alp Arslan.
Penangkapan seorang kaisar di medan perang memberikan pukulan psikologis dan politik yang sangat besar kepada Konstantinopel.
Manzikert kemudian sering disebut sebagai salah satu titik balik terbesar dalam hubungan Bizantium dengan bangsa Turk.
Namun ada cerita lain yang sering menyertai pertempuran ini.
Kemenangan Alp Arslan kerap dikatakan sebagai peristiwa yang membuat Eropa langsung mengobarkan Perang Salib.
Hubungan tersebut memang ada, tetapi sejarahnya jauh lebih panjang.
Perang Salib Pertama baru diserukan pada 1095, sekitar 24 tahun setelah Manzikert.
Lalu apa sebenarnya yang terjadi?
Jauh sebelum 1071, kelompok-kelompok Turk sudah melakukan serangan dan memasuki wilayah perbatasan Kekaisaran Bizantium.
Karena itu, Manzikert bukanlah hari pertama bangsa Turk muncul di Anatolia.
Cambridge mencatat konflik dan pergerakan Turk di kawasan tersebut sudah berlangsung sebelum pertempuran besar antara Romanos dan Alp Arslan.
Masalahnya bagi Bizantium, Anatolia merupakan wilayah yang sangat penting.
Kawasan tersebut menyediakan penduduk, pajak, pertanian sekaligus tenaga untuk kebutuhan militer kekaisaran.
Jika kontrol atas Anatolia melemah, kemampuan Konstantinopel mempertahankan dirinya juga ikut terganggu.
Romanos IV kemudian berusaha memperbaiki kondisi tersebut.
Romanos naik menjadi kaisar pada 1068.
Salah satu prioritas pemerintahannya adalah memperkuat kembali posisi militer Bizantium menghadapi tekanan Turk di kawasan timur.
Ia melakukan beberapa kampanye sebelum akhirnya pada 1071 membawa pasukan menuju kawasan Manzikert. Cambridge mencatat Romanos membutuhkan keberhasilan militer yang besar untuk memperkuat posisi pemerintahannya sekaligus mengatasi ancaman dari timur.
Pasukannya terdiri atas unsur yang beragam.
Tidak semuanya merupakan tentara Bizantium dari satu latar belakang.
Ada prajurit reguler, pasukan daerah dan kelompok tentara bayaran.
Komposisi semacam ini membuat jumlah tentara terlihat besar, tetapi tidak otomatis berarti seluruh pasukan mempunyai kesetiaan, pengalaman dan koordinasi yang sama.
Dalam banyak artikel populer, Romanos terkadang disebut membawa hingga 200 ribu atau bahkan 300 ribu tentara, sementara Alp Arslan hanya mempunyai belasan ribu prajurit.
Angka seperti itu sebaiknya tidak digunakan sebagai fakta pasti.
Sumber abad pertengahan sering memberikan jumlah yang sangat berbeda dan terkadang sangat besar.
Kajian modern umumnya memperkirakan jumlah pasukan Bizantium dan Seljuk jauh lebih rendah daripada angka fantastis yang beredar di internet.
Karena itu, hal yang lebih penting bukan sekadar jumlah.
Yang menentukan adalah kemampuan menggunakan pasukan di medan perang.
Dan dalam hal tersebut, tentara Alp Arslan mempunyai keunggulan penting.
Pasukan Seljuk terkenal mempunyai kekuatan besar pada kavaleri ringan dan pemanah berkuda.
Mereka dapat:
mendekat → melepaskan panah → menjaga jarak → berpindah posisi → menyerang kembali dari arah berbeda.
Bagi pasukan Bizantium yang harus menjaga formasi besar, pola pertempuran seperti ini sangat menyulitkan.
Romanos tidak hanya harus mengejar musuh.
Ia juga harus memastikan barisan pasukannya tidak pecah ketika bergerak di medan terbuka.
Pada 26 Agustus 1071, kedua kekuatan akhirnya benar-benar berhadapan.
Romanos menempatkan dirinya di bagian tengah pasukan.
Pasukan Bizantium kemudian bergerak maju menghadapi posisi Seljuk.
Alp Arslan tidak selalu menghadapi lawannya dalam pertempuran jarak dekat secara terus-menerus.
Pasukannya memanfaatkan mobilitas untuk menyerang dan menjauh kembali.
Hal tersebut membuat Bizantium terus bergerak sambil menerima tekanan dari pemanah berkuda.
Pertempuran berlangsung hingga sore.
Ketika hari semakin gelap, Romanos kemudian memutuskan pasukannya perlu kembali menuju kamp.
Di sinilah keadaan mulai berubah drastis.
Dalam pasukan besar, perubahan arah membutuhkan koordinasi yang sangat baik.
Ketika bagian depan berusaha berbalik, bagian belakang harus memahami apa yang sedang terjadi.
Masalah muncul ketika informasi tidak sampai secara seragam.
Sebagian pasukan mengira Romanos telah mengalami kekalahan.
Formasi pun mulai kehilangan keteraturan.
Pasukan Seljuk melihat kesempatan tersebut dan meningkatkan tekanan terhadap barisan Bizantium. Rekonstruksi modern terhadap pertempuran menempatkan runtuhnya koordinasi pada fase ini sebagai salah satu titik penting kemenangan Seljuk.
Situasinya menjadi semakin buruk karena tindakan salah satu kelompok pasukan cadangan.
Bagian cadangan Bizantium dipimpin Andronikos Doukas.
Keluarga Doukas mempunyai persaingan politik dengan Romanos.
Saat situasi mulai memburuk, pasukan cadangan di bawah Andronikos tidak memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan Romanos dan justru meninggalkan medan.
Peristiwa ini kemudian sering diceritakan sebagai “pengkhianatan Doukas.”
Namun sejarawan berhati-hati menggunakan istilah tersebut karena detail motifnya masih menjadi perdebatan.
Yang lebih pasti adalah mundurnya unsur cadangan tersebut membuat posisi Romanos semakin sulit.
Pasukan Seljuk kemudian mampu menekan bagian utama tentara Bizantium.
Romanos tetap berada di medan pertempuran.
Pada akhirnya pasukan di sekelilingnya runtuh dan sang kaisar ditangkap.
Bayangkan betapa luar biasanya kejadian tersebut pada abad ke-11.
Kaisar Romawi Timur yang sebelumnya memimpin salah satu kekuatan terbesar kawasan kini berada di hadapan Sultan Seljuk sebagai tawanan perang.
Cambridge mencatat kekalahan Bizantium berakhir dengan Romanos ditangkap dan dibawa menghadap Alp Arslan pada 26 Agustus 1071.
Namun apa yang dilakukan Alp Arslan berikutnya cukup menarik.
Romanos tidak langsung dieksekusi.
Setelah negosiasi, Alp Arslan akhirnya membebaskannya dengan suatu kesepakatan yang antara lain melibatkan pembayaran dan pengaturan politik antara kedua pihak.
Detail angka tebusan berbeda antara sumber, sehingga nominal fantastis yang beredar sebaiknya tidak langsung dianggap pasti.
Secara umum, Alp Arslan tampaknya lebih berkepentingan mendapatkan hubungan politik yang menguntungkan daripada menghancurkan seluruh Kekaisaran Bizantium saat itu. Cambridge bahkan mencatat setelah Manzikert, Romanos ditahan hanya sebentar kemudian dilepaskan berdasarkan perjanjian.
Jadi pada saat pertempuran selesai, belum ada situasi bahwa Alp Arslan langsung menguasai seluruh Anatolia.
Masalah terbesar justru muncul ketika Romanos pulang.
Selama kaisar menjadi tawanan, politik Konstantinopel berubah.
Lawan-lawannya bergerak mengambil alih pemerintahan.
Romanos kemudian harus menghadapi konflik internal ketika mencoba mendapatkan kembali posisinya.
Perang saudara dan perebutan kekuasaan ini sangat penting dalam memahami akibat Manzikert.
Kajian Cambridge menekankan bahwa kekalahan di medan perang memang penting, tetapi konflik sipil setelahnya memperburuk kemampuan Bizantium menjaga wilayah timurnya.
Dengan kata lain:
Seljuk memenangkan pertempuran, tetapi perpecahan Bizantium membantu memperbesar dampak kemenangan tersebut.
Ketika pemerintah pusat sibuk berkonflik, kelompok-kelompok Turk semakin bebas bergerak dan menetap di Anatolia.
Metropolitan Museum of Art mencatat serangan di perbatasan yang berpuncak pada kemenangan Manzikert membuka jalan bagi berkembangnya kekuasaan Seljuk di Anatolia.
Perubahan ini tidak terjadi dalam satu malam.
Tetapi dalam beberapa dekade, peta politik wilayah tersebut berubah dengan cepat.
Kekuasaan Bizantium menyusut.
Kelompok-kelompok Turk membangun pusat pemerintahan.
Salah satu hasil terbesar dari perkembangan itu adalah munculnya Kesultanan Seljuk Rum.
Seljuk Rum menjadi kekuatan baru di Anatolia.
Salah satu pusat awalnya berada di Nicaea atau İznik.
Lokasinya menarik karena jauh lebih dekat ke Konstantinopel dibanding medan Manzikert di bagian timur Anatolia.
Metropolitan Museum mencatat kekuasaan Seljuk di Anatolia berkembang sejak sekitar 1081 dan menghasilkan perubahan politik serta kebudayaan besar di kawasan tersebut.
Bagi Bizantium, perkembangan ini berarti ancaman tidak lagi berada jauh di timur.
Kekuatan Turk kini berada semakin dekat dengan pusat kekaisaran.
Dalam kondisi tersebut muncul Alexios I Komnenos.
Ia menjadi kaisar pada 1081.
Alexios kemudian berusaha memulihkan stabilitas kekaisaran setelah bertahun-tahun mengalami konflik dan kehilangan wilayah.
Bizantium masih merupakan negara besar.
Manzikert tidak menghancurkannya dalam satu hari.
Tetapi pemerintahan Alexios menghadapi terlalu banyak masalah sekaligus, mulai dari kekuatan Turk di Anatolia sampai ancaman lain di kawasan Balkan dan Mediterania.
Alexios kemudian mencari sumber bantuan baru.
Pandangan matanya beralih ke Eropa Barat.
Inilah bagian penting untuk memahami hubungan Manzikert dengan Perang Salib.
Pada Council of Piacenza, 1–7 Maret 1095, utusan Alexios datang dan meminta bantuan.
Sumber Cambridge menyebut Alexios menginginkan ksatria Barat untuk membantunya merebut kembali wilayah Anatolia yang hilang.
Jadi ada jarak sekitar:
1071 → 1095 = 24 tahun.
Selama 24 tahun tersebut terjadi begitu banyak hal:
Manzikert → perang saudara Bizantium → kehilangan wilayah → muncul Seljuk Rum → pemerintahan Alexios → kebutuhan pasukan baru → permintaan bantuan ke Barat.
Barulah kemudian muncul respons Paus Urban II.
Permintaan Alexios sebenarnya terutama berkaitan dengan kebutuhan militer Bizantium.
Namun Paus Urban II melihat persoalan tersebut dalam konteks yang lebih luas.
Eropa Barat sedang mengalami perkembangan politik dan agama tersendiri.
Hubungan Gereja Barat dengan Bizantium juga menjadi pertimbangan.
Cambridge menyebut 1095 sebagai titik ketika beberapa faktor bertemu sekaligus, termasuk ambisi dan agenda kepausan Urban serta kebutuhan Alexios mendapatkan bantuan Barat.
Urban kemudian mengadakan pertemuan besar lain.
Tempatnya adalah Clermont, Prancis.
Pada Council of Clermont, Urban II menyerukan sebuah ekspedisi besar ke Timur.
Gerakan inilah yang berkembang menjadi Perang Salib Pertama.
Tujuannya menjadi lebih luas daripada permintaan awal Bizantium.
Bukan sekadar mendapatkan kembali sebagian Anatolia.
Jerusalem dan Tanah Suci menjadi pusat mobilisasi gerakan tersebut. Perang Salib Pertama kemudian membawa pasukan dari berbagai bagian Eropa menuju Konstantinopel, Anatolia, Suriah dan akhirnya Jerusalem.
Karena itu mengatakan:
“Alp Arslan menang di Manzikert dan Eropa langsung mengobarkan Perang Salib.”
tidak tepat.
Yang terjadi adalah sebuah efek domino selama lebih dari dua dekade.
Ada fakta kronologis lain yang menarik.
Alp Arslan tidak pernah bertempur melawan pasukan Perang Salib Pertama.
Ia meninggal tidak lama setelah kemenangan Manzikert. Cambridge mencatat Alp Arslan wafat setelah terluka oleh seorang tawanan tidak lama setelah kemenangan 1071.
Sementara Perang Salib baru diserukan pada 1095.
Ketika pasukan Barat memasuki Anatolia, mereka menghadapi generasi dan kekuatan politik Turk yang berbeda.
Jadi jangan menggambarkan Alp Arslan dan pasukan Perang Salib Pertama seolah-olah hidup dalam satu pertempuran langsung.
Pasukan utama Perang Salib akhirnya tiba di Konstantinopel dan kemudian bergerak ke Anatolia.
Salah satu target pertamanya adalah Nicaea, pusat penting Seljuk Rum.
Kota tersebut jatuh pada 1097 dan dikembalikan ke bawah kekuasaan Bizantium.
Hal ini menunjukkan bahwa permintaan bantuan Alexios memang memberikan hasil nyata bagi pemerintahannya.
Tetapi Tentara Salib tidak berhenti di Nicaea.
Mereka terus bergerak menuju wilayah Suriah dan Jerusalem.
Setelah perjalanan panjang dan berbagai pengepungan, pasukan Perang Salib mencapai Jerusalem.
Pada 15 Juli 1099, kota tersebut direbut oleh pasukan Perang Salib Pertama.
Dari sana lahir sejumlah negara Tentara Salib di Timur Dekat.
Peristiwa tersebut kemudian memulai periode konflik panjang yang melibatkan berbagai kekuatan Muslim, Bizantium dan kerajaan-kerajaan Latin selama beberapa generasi.
Jika melihat hasil akhir tersebut, jelas bahwa apa yang dimulai sebagai permintaan bantuan Bizantium telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Jawaban yang paling aman:
Manzikert merupakan salah satu faktor penting, tetapi bukan penyebab tunggal.
Kemenangan Seljuk membantu melemahkan kontrol Bizantium atas Anatolia.
Konflik politik setelahnya memperburuk keadaan.
Kekuasaan Turk semakin berkembang.
Alexios kemudian meminta bantuan Barat.
Permintaan tersebut menjadi salah satu konteks penting ketika Urban II menyerukan Perang Salib.
Tetapi ada faktor lain yang sama pentingnya, seperti:
politik kepausan, hubungan Gereja Barat dan Timur, tradisi ziarah Kristen, kepentingan bangsawan Eropa, kondisi kawasan Timur Dekat serta pentingnya Jerusalem.
Jadi Manzikert adalah salah satu batu pertama dalam rangkaian panjang, bukan satu tombol yang langsung menyalakan Perang Salib.
Kekalahan Romanos sering digambarkan sebagai “akhir Kekaisaran Bizantium”.
Itu juga keliru.
Bizantium masih bertahan hampir empat abad setelah 1071.
Bahkan pemerintahan Alexios dan penerus Komnenos mampu memulihkan sebagian kekuatan kekaisaran.
Konstantinopel sendiri baru jatuh kepada Ottoman pada 1453, sekitar 382 tahun setelah Manzikert.
Dengan demikian, lebih tepat menyebut Manzikert sebagai titik balik besar dalam kemunduran kekuasaan Bizantium di Anatolia, bukan hari ketika seluruh kekaisaran langsung runtuh.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menyebut Alp Arslan sebagai Sultan Ottoman.
Ia bukan penguasa Ottoman.
Alp Arslan merupakan Sultan Seljuk Raya.
Kekaisaran Ottoman baru muncul jauh kemudian pada akhir abad ke-13.
Setelah Manzikert, Anatolia mengalami perjalanan panjang melalui Seljuk Rum, berbagai kerajaan atau beylik Turk dan pengaruh Mongol sebelum Ottoman berkembang menjadi kekuatan besar.
Karena itu, garis sejarahnya bukan:
Alp Arslan → langsung Ottoman.
Tetapi jauh lebih panjang dan rumit.
Hal yang membuat Manzikert sangat menarik adalah dampak terbesarnya tidak semuanya terjadi pada 26 Agustus.
Hari itu memang menghasilkan kemenangan Alp Arslan.
Romanos ditangkap.
Tentara Bizantium kalah.
Namun efek yang benar-benar mengubah sejarah berkembang sesudahnya.
Konstantinopel mengalami konflik internal.
Kontrol terhadap Anatolia semakin berkurang.
Pemukiman Turk berkembang.
Seljuk Rum muncul.
Alexios meminta bantuan Barat.
Urban II menyerukan Perang Salib.
Semua itu terjadi dalam rentang waktu puluhan tahun.
Maka jika ingin memahami arti Manzikert, jangan hanya melihat siapa yang menang dalam satu hari.
Lihatlah apa yang terjadi setelah debu pertempuran menghilang.
Rangkaian sejarah tersebut dapat diringkas:
26 Agustus 1071
Alp Arslan mengalahkan Romanos IV di Manzikert dan menangkap sang kaisar.
Dekade berikutnya
Bizantium mengalami konflik internal sementara kekuasaan Turk berkembang lebih jauh di Anatolia.
1081
Alexios I Komnenos menjadi kaisar dan berusaha memulihkan kekuatan Bizantium.
Maret 1095
Utusan Alexios meminta bantuan militer Barat di Council of Piacenza.
November 1095
Urban II menyerukan Perang Salib Pertama.
1097
Pasukan Perang Salib memasuki Anatolia dan membantu merebut Nicaea.
1099
Jerusalem jatuh ke tangan pasukan Perang Salib.
Karena itu, kemenangan Alp Arslan memang memiliki hubungan penting dengan munculnya Perang Salib.
Namun hubungan tersebut bukan hubungan langsung.
Manzikert menjadi awal sebuah efek domino politik dan militer yang membutuhkan sekitar seperempat abad sebelum akhirnya berujung pada kedatangan pasukan besar dari Eropa Barat ke Timur.
Itulah mengapa Pertempuran Manzikert terus dikenang sampai sekarang.
Bukan semata-mata karena seorang sultan berhasil mengalahkan seorang kaisar.
Tetapi karena satu kemenangan pada 1071 membantu mengubah arah sejarah Anatolia, Bizantium dan pada akhirnya hubungan panjang antara dunia Islam dengan Eropa pada masa Perang Salib.