KEBONCINTA.COM – Hasil Programme for International Student Assessment atau PISA 2025 mengungkap potensi menarik dari peserta didik Indonesia.
Sebanyak 80 persen murid Indonesia menyatakan memiliki keingintahuan terhadap banyak hal. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD yang berada pada 73 persen.
Temuan tersebut dibahas dalam Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang diselenggarakan Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.
Selain rasa ingin tahu, sebanyak 74 persen murid Indonesia dilaporkan berusaha lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang. Angkanya juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata OECD yang tercatat 60 persen.
Indonesia juga menunjukkan kemampuan self-directed learning yang relatif baik, yakni kemampuan peserta didik untuk merencanakan dan mengelola proses belajarnya sendiri.
Meski demikian, hasil PISA juga memberikan sejumlah catatan bagi pendidikan Indonesia.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin menyampaikan bahwa peningkatan kemampuan membaca dan sains patut diapresiasi.
Sementara itu, penurunan kemampuan matematika menjadi bagian yang perlu memperoleh perhatian dan tindak lanjut melalui kebijakan pendidikan.
Pemerintah menilai hasil PISA tidak semestinya hanya digunakan sebagai laporan capaian maupun peringkat, tetapi dapat menjadi dasar dalam memperbaiki kualitas pembelajaran di ruang kelas.
Salah satu arah perbaikannya adalah memperkuat kemampuan bernalar, memecahkan masalah serta menggunakan pengetahuan dalam situasi kehidupan nyata.
Pendekatan Pembelajaran Mendalam juga didorong agar proses belajar tidak berhenti pada memahami atau menghafal materi.
Murid diarahkan untuk dapat menerapkan, mengevaluasi, merefleksikan dan memindahkan pengetahuan maupun keterampilan yang diperoleh ke dalam konteks baru.
Temuan tingginya rasa ingin tahu peserta didik Indonesia menjadi modal yang dapat dikembangkan. Tantangannya adalah memastikan sekolah dan guru mampu menyediakan pembelajaran yang memberikan ruang kepada murid untuk bertanya, mencoba, berpikir kritis dan menemukan solusi.
Dengan pendekatan tersebut, rasa ingin tahu tidak hanya menjadi karakter positif peserta didik, tetapi dapat berkembang menjadi kemampuan belajar yang bermanfaat hingga jenjang pendidikan maupun dunia kerja berikutnya.