Keblncinta.com-- Ketika membahas faktor yang dapat membantu seseorang meraih keberhasilan dan menjalani kehidupan dengan baik, kecerdasan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kemampuan untuk terus berusaha ketika menghadapi kesulitan juga memiliki peran penting.
Kegigihan merupakan kemampuan seseorang untuk tetap bertahan dan mencoba kembali ketika menghadapi hambatan, tantangan, maupun kegagalan. Sikap ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dapat dibangun melalui pengalaman dan pola pikir yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak.
Cara anak memandang kemampuan dirinya turut memengaruhi seberapa kuat mereka menghadapi kesulitan. Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir yang mendorong anak untuk terus belajar.
Baca Juga: Jangan Larang Anak Marah, Begini Cara Mengajarkan Emosi dengan Aman
Salah satu konsep yang berkaitan dengan kegigihan adalah growth mindset. Anak dengan pola pikir berkembang meyakini bahwa kemampuan, keterampilan, dan kecerdasan dapat meningkat melalui latihan, usaha, serta proses belajar.
Sebaliknya, fixed mindset membuat seseorang memandang kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap. Anak dengan pola pikir seperti ini cenderung percaya bahwa seseorang memang sudah berbakat sejak awal atau tidak akan mampu melakukan sesuatu karena merasa dirinya tidak memiliki kemampuan tersebut.
Perbedaan cara berpikir ini dapat terlihat ketika anak menghadapi orang lain yang lebih unggul dalam bidang tertentu.
Anak dengan growth mindset mungkin berpikir bahwa kemampuan temannya terbentuk karena latihan dan kerja keras. Mereka kemudian terdorong untuk belajar agar bisa meningkatkan kemampuannya sendiri.
Sementara itu, anak dengan fixed mindset dapat menganggap keunggulan tersebut sebagai bakat bawaan yang tidak mungkin mereka miliki. Akibatnya, mereka lebih mudah menghindari tantangan karena takut gagal.
Anak yang terbiasa berpikir bahwa kemampuan dapat berkembang cenderung melihat kegagalan secara berbeda. Kesalahan tidak selalu dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak mampu.
Sebaliknya, kegagalan dapat menjadi pengalaman yang memberikan informasi tentang apa yang perlu diperbaiki. Anak dapat belajar mengevaluasi cara yang sudah dilakukan kemudian mencoba pendekatan lain.
Sementara anak yang memiliki pola pikir kaku mungkin lebih mudah kecewa ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Mereka bahkan dapat memilih berhenti karena menganggap kegagalan sebagai bukti bahwa dirinya memang tidak berbakat.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak memahami bahwa kemampuan tidak selalu langsung terlihat dari percobaan pertama.
Baca Juga: Anak Sering Lupa Instruksi? Ini Cara Melatih Memori Kerja agar Lebih Mudah Mengingat
Kemampuan untuk terus berjuang mungkin semakin terlihat ketika seseorang memasuki masa remaja dan menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Namun, fondasinya dapat dibentuk jauh sebelumnya.
Kebiasaan sederhana seperti menyelesaikan permainan yang sulit, mencoba kembali setelah gagal, atau mencari cara lain ketika menghadapi masalah dapat menjadi latihan bagi anak.
Orang tua tidak perlu membuat tantangan yang terlalu berat. Berikan kesempatan kepada anak untuk menghadapi kesulitan yang sesuai dengan usianya dan biarkan mereka merasakan proses menemukan solusi.
Ketika anak mengalami kesulitan dalam melakukan sesuatu yang baru, orang tua sebaiknya tidak langsung mengambil alih atau membiarkannya berhenti.
Berikan dorongan agar anak mencoba kembali. Jika diperlukan, bantu mereka menemukan langkah pertama, tetapi tetap berikan kesempatan untuk menyelesaikan prosesnya sendiri.
Cara ini membantu anak memahami bahwa kesulitan bukan tanda bahwa mereka harus berhenti.
Ketika anak benar-benar mengalami kebuntuan, orang tua dapat menjadi teman untuk mencari jalan keluar. Ajak anak berdiskusi mengenai apa yang membuat tugas tersebut sulit.
Daripada langsung memberikan jawaban, berikan pertanyaan sederhana yang dapat membantu anak berpikir. Dengan demikian, mereka belajar bahwa masalah dapat dipecahkan melalui proses, bukan selalu dengan mendapatkan jawaban instan.
Baca Juga: Cara Melatih Kesabaran Anak agar Tidak Impulsif dan Lebih Mampu Mengendalikan Diri
Pada kondisi tertentu, anak memang membutuhkan dukungan lebih banyak. Orang tua dapat mendampingi mereka ketika semangat mulai menurun.
Namun, pendampingan bukan berarti mengerjakan semuanya untuk anak. Setelah anak kembali percaya diri, secara bertahap berikan ruang agar mereka melanjutkan usahanya sendiri.
Kebiasaan tersebut membantu membangun rasa percaya diri sekaligus kemandirian.
Salah satu cara penting untuk menumbuhkan kegigihan adalah memberikan apresiasi terhadap proses yang dilakukan anak.
Jangan hanya memuji ketika anak memperoleh nilai bagus atau berhasil menjadi juara. Berikan penghargaan ketika mereka mau mencoba, berlatih, memperbaiki kesalahan, dan tidak menyerah setelah mengalami kegagalan.
Pujian terhadap usaha membantu anak memahami bahwa proses belajar juga memiliki nilai penting.
Kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir