Media Sosial
Azzahra Esa Nabila

Jangan Asal Percaya, Masyarakat Perlu Lebih Kritis Memilih Konten Religi

Jangan Asal Percaya, Masyarakat Perlu Lebih Kritis Memilih Konten Religi

13 Agustus 2026 | 09:31

Keboncinta.com-- Di era media sosial, belajar agama menjadi jauh lebih mudah dibandingkan beberapa tahun lalu.

Cukup membuka ponsel, kita bisa menemukan ribuan video ceramah, potongan kajian, kutipan ayat, hingga nasihat singkat yang tersebar di berbagai platform.

Semua terasa praktis, cepat, dan bisa dinikmati kapan saja.

Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan baru.

Tidak semua konten religi dibuat oleh orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

Tidak sedikit pula informasi yang dipotong dari konteks aslinya, diberi judul sensasional, atau bahkan sengaja dikemas untuk menarik perhatian tanpa mempertimbangkan kebenaran isinya.

Akibatnya, masyarakat sering kali menerima informasi agama secara instan tanpa sempat memeriksa apakah pesan tersebut benar-benar dapat dipercaya.

Masalahnya bukan karena masyarakat kurang peduli terhadap agama, tetapi karena arus informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kebiasaan untuk melakukan verifikasi.

Banyak orang menganggap bahwa konten dengan jutaan tayangan atau ribuan komentar positif pasti benar.

Padahal, popularitas tidak selalu berjalan seiring dengan kualitas.

Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang mampu menarik emosi, memancing perdebatan, atau membuat orang bertahan lebih lama di layar.

Dalam situasi seperti ini, pesan agama yang tenang dan penuh penjelasan sering kalah bersaing dengan potongan video yang provokatif.

Jika tidak berhati-hati, seseorang bisa membangun pemahaman agama hanya dari cuplikan berdurasi singkat yang belum tentu menggambarkan persoalan secara utuh.

Karena itu, sikap kritis menjadi bagian penting dalam kehidupan digital.

Bersikap kritis bukan berarti selalu curiga atau gemar menyalahkan, melainkan membiasakan diri untuk bertanya sebelum mempercayai.

Siapa yang menyampaikan pesan tersebut? Apakah sumbernya jelas? Apakah penjelasannya sesuai dengan konteks? Apakah ada rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat membantu kita terhindar dari informasi yang menyesatkan.

Di sisi lain, kebiasaan memeriksa kembali isi konten juga membuat kita lebih bijak sebelum membagikannya kepada orang lain.

Sebab, satu tombol "bagikan" bisa menjadi jalan menyebarnya ilmu yang bermanfaat, tetapi juga bisa memperluas kesalahpahaman jika dilakukan tanpa pertimbangan.

Tags:
Bijak Bermain Media Sosial Konten Edukasi Fenomena Remaja

Komentar Pengguna