Berita
SUWANDI

Jeritan Pengrajin Gerabah Sitiwinangun Cirebon: Terhimpit Biaya Pembakaran, Terancam Punah Ditelan Zaman

Jeritan Pengrajin Gerabah Sitiwinangun Cirebon: Terhimpit Biaya Pembakaran, Terancam Punah Ditelan Zaman

31 Juli 2026 | 19:05

Keboncinta.com — Denyut nadi industri kerajinan gerabah tradisional di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, kini berada di titik nadir yang sangat memprihatinkan.

Kriya tanah liat legendaris yang selama puluhan tahun menjadi kebanggaan daerah sekaligus pilar penopang ekonomi masyarakat setempat tersebut, kini berada di ambang kepunahan akibat himpitan biaya operasional yang melonjak tajam, kerusakan sarana produksi, serta hilangnya minat generasi penerus.

Kondisi merana dan penuh keputusasaan ini salah satunya dialami oleh pasangan suami istri (pasutri) pengrajin senior, Dirja dan Marini. Saat ditemui di kediamannya di Desa Sitiwinangun, raut wajah lesu tak mampu disembunyikan oleh Dirja tatkala ia mengenang kembali masa-masa kejayaan yang kini tinggal kenangan.

Dahulu, Dirja merupakan salah satu produsen gerabah yang sangat produktif. Secara berkala, ia mampu menyetor puluhan hingga ratusan produk gerabah khas Cirebon—seperti gentong tanah liat khusus untuk memasak kuliner empal gentong hingga wadah penyimpanan beras tradisional (pedaringan)—kepada para penampung dan bandar besar di kawasan Plered.

Namun, roda nasib berputar drastis. Sejak rentang tahun 2020 hingga 2022, hantaman krisis dan lonjakan biaya produksi memaksa Dirja menghentikan total seluruh aktivitas pembuatannya.

Kini, sisa-sisa produk gerabah buatan tangannya hanya bisa menumpuk pasrah dan diselimuti debu tebal di sudut-sudut rumahnya—menjadi saksi bisu atas kejayaan masa lalu yang kini kian pudar.

"Dahulu ada pendampingan dari instansi pemerintah daerah, lembaga akademis seperti ITB, hingga dinas pariwisata. Tapi sejak tahun 2020, perhatian dan pendampingan itu sudah tidak lagi berjalan," tutur Dirja penuh nada keprihatinan.

Tiga Faktor Utama Pemicu Gulung Tikar

Berdasarkan penuturan Dirja, setidaknya terdapat tiga faktor mendasar yang saling berkait dan menjadi pemicu utama ambruknya usaha kerajinan gerabah yang ia kelola, sekaligus menyeret puluhan pengrajin lokal lainnya ke jurang kebangkrutan:

Lonjakan Harga dan Kelangkaan Bahan Bakar

Proses pembakaran kini menjadi kendala paling berat bagi para pengrajin. Dahulu, mereka mengandalkan limbah karet ban bekas sebagai bahan bakar yang murah dan efektif. Namun saat ini, harga limbah ban melonjak drastis dan pasokannya banyak dialihkan ke luar daerah, seperti Jawa Timur. Pilihan beralih ke kayu bakar pun dinilai tidak efisien secara kalkulasi bisnis karena biayanya yang sangat membengkak.

Kerusakan Fasilitas Produksi (Pengobongan)

Fasilitas tungku pembakaran atau pengobongan milik Dirja telah mengalami kerusakan parah. Dari kapasitas ideal yang mampu menampung hingga 70 buah gerabah dalam sekali bakar, kini tungku tersebut hanya sanggup memuat 30 hingga 50 buah saja. Efisiensi yang merosot tajam ini membuat biaya produksi tidak sebanding dengan hasil penjualan, sehingga memicu kerugian mendalam.

Krisis Regenerasi dan Kelangkaan Tenaga Kerja

Satu per satu karyawan yang membantu Dirja memilih berhenti karena pendapatan yang tak lagi memadai. Di sisi lain, generasi muda di Desa Sitiwinangun—termasuk anak-anak dari para pengrajin itu sendiri—enggan meneruskan jejak orang tua mereka. Mereka lebih memilih beralih mencari pekerjaan di sektor industri manufaktur atau jasa yang dinilai memiliki prospek finansial lebih menjanjikan.

Harapan di Tengah Dinginnya Tungku Pembakaran

Kendati tempat pembakarannya kini terasa dingin dan tak lagi mengepulkan asap, Dirja meyakini bahwa napas industri gerabah Sitiwinangun sebenarnya belum sepenuhnya mati. Potensi untuk bangkit kembali masih terbuka lebar jika ada perhatian, pendampingan, serta intervensi nyata dari pemerintah dan pihak-pihak terkait.

"Usaha ini sebenarnya masih punya potensi untuk bangkit, asalkan ada pembenahan pada fasilitas tempat pembakaran (pengobongan) serta bantuan dalam pembinaan dan perekrutan tenaga kerja," ungkap Dirja penuh harap.

Kini, masa depan kerajinan gerabah tradisional Sitiwinangun berada di persimpangan jalan yang krusial. Tanpa adanya solusi konkret terhadap tingginya harga bahan baku, mahalnya bahan bakar, serta revitalisasi fasilitas produksi, tradisi pembuatan gerabah yang telah diwariskan secara turun-temurun di Kabupaten Cirebon ini dipastikan bakal punah tergerus arus modernisasi. (swd)

 

 

Tags:

Komentar Pengguna