Luka yang Tak Terlihat: Ketika Perselingkuhan Membuat Perempuan Meragukan Dirinya Sendiri

Luka yang Tak Terlihat: Ketika Perselingkuhan Membuat Perempuan Meragukan Dirinya Sendiri

17 Januari 2026 | 20:24

Keboncinta.com-- Perselingkuhan bukan sekadar pelanggaran dalam sebuah hubungan, melainkan luka emosional yang membekas lama. Ia merusak fondasi paling mendasar dalam relasi manusia, yaitu kepercayaan. Ketika kepercayaan runtuh, yang tertinggal bukan hanya rasa sakit, tetapi juga kebingungan, ketakutan, dan keraguan terhadap diri sendiri.

Bagi banyak perempuan, pengalaman diselingkuhi sering kali tidak berhenti pada perpisahan atau konflik. Luka itu justru berlanjut dalam bentuk overthinking yang tak berujung. Pikiran mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan: Apa yang salah denganku? Mengapa dia memilih orang lain? Perlahan, fokus bergeser bukan lagi pada kesalahan pasangan, melainkan pada penilaian terhadap diri sendiri.

Tidak jarang, perempuan yang terluka mulai membandingkan dirinya dengan sosok orang ketiga. Ia mempertanyakan penampilannya, kepribadiannya, bahkan kelayakannya untuk dicintai. Apakah perempuan lain itu lebih menarik? Lebih menyenangkan? Atau lebih pantas untuk dipilih? Dari perbandingan inilah rasa percaya diri mulai terkikis, digantikan oleh perasaan tidak cukup dan tidak berharga.

Trauma akibat perselingkuhan juga membuat rasa aman dalam hubungan menghilang. Perempuan menjadi lebih waspada, mudah curiga, dan sulit mempercayai orang lain. Hal-hal kecil dapat memicu kecemasan: pesan yang dibalas lama, perubahan sikap, atau sikap dingin yang sebenarnya belum tentu bermakna apa-apa. Bahkan, tanpa disadari, muncul keyakinan bahwa semua laki-laki pada akhirnya akan berbuat hal yang sama.

Namun, sikap hati-hati dan tidak mudah percaya bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk mekanisme bertahan. Luka mengajarkan tubuh dan pikiran untuk lebih siaga agar rasa sakit yang sama tidak terulang. Ketakutan, kecurigaan, dan jarak emosional bukan muncul untuk menyakiti orang lain, melainkan untuk melindungi diri sendiri.

Sayangnya, dalam proses ini, banyak perempuan yang tanpa sadar memenjarakan dirinya dalam rasa bersalah dan perasaan tidak pantas bahagia. Trauma membuatnya merasa harus selalu waspada, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang rapuh dan mudah direnggut kapan saja.

Padahal, penting untuk diingat bahwa trauma bukanlah identitas. Ia bukan label yang melekat selamanya, melainkan luka yang bisa dipahami, diterima, dan perlahan dipulihkan. Perempuan yang terluka bukan berarti lemah. Ia hanya sedang berada dalam proses belajar belajar mempercayai kembali, bukan hanya pada orang lain, tetapi juga pada dirinya sendiri.

Pemulihan memang tidak instan.

Tags:
Kesehatan Mental Refleksi Diri Overthinking Opini Trauma Emosional Perselingkuhan

Komentar Pengguna