YOGYAKARTA — Ujian proposal tesis biasanya identik dengan pakaian formal, presentasi akademik, dan sesi tanya jawab bersama dosen penguji. Namun, suasana berbeda terlihat di Program Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Seorang mahasiswa bernama Yogi Fajar Darmawan mengikuti ujian proposal tesis dengan mengenakan kostum lengkap Kamen Rider Black. Penampilannya kemudian menarik perhatian dan menyebar luas di media sosial.
Kostum tersebut bukan sekadar cara untuk menciptakan sensasi. Pilihan Yogi berkaitan langsung dengan topik penelitiannya mengenai stigma masyarakat terhadap cosplayer.
Yogi merupakan mahasiswa Program Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma. Ia mengikuti ujian proposal tesis pada Senin, 20 Juli 2026, dengan datang ke ruang ujian menggunakan kostum Kamen Rider Black.
Kehadirannya sempat mengejutkan dosen penguji. Namun, setelah mengetahui hubungan kostum tersebut dengan penelitian yang dipresentasikan, para dosen memberikan tanggapan positif dan mengajaknya berfoto bersama.
Karakter Kamen Rider Black dipilih karena memiliki nilai nostalgia bagi Yogi. Menurut penjelasannya, serial tersebut merupakan salah satu tayangan tokusatsu yang membekas bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an.
Topik penelitian Yogi berangkat dari pengalamannya sendiri sebagai pelaku cosplay.
Ia mengaku pernah memperoleh berbagai penilaian negatif ketika tampil mengenakan kostum karakter. Aktivitas cosplay terkadang dianggap kekanak-kanakan, terlalu banyak berkhayal, atau tidak sesuai dengan gambaran masyarakat mengenai perilaku orang dewasa.
Yogi juga pernah disalahpahami sebagai pengamen ketika tampil menggunakan kostum Kamen Rider di ruang publik.
Pengalaman lain muncul ketika ia memerankan Kiryu Kazuma dari seri permainan Yakuza. Koreografi karakter tersebut membuatnya perlu membuka bagian atas pakaian untuk memperlihatkan gambar tato naga sebagai bagian dari kostum. Orang yang tidak memahami konteks cosplay kemudian menilainya sebagai tindakan tidak sopan.
Pengalaman tersebut membuatnya tertarik meneliti cara masyarakat memandang cosplayer dan bagaimana stigma terbentuk ketika ekspresi suatu komunitas dilihat tanpa memahami konteks budayanya.
Persoalan yang diangkat Yogi tidak hanya berasal dari pengalaman pribadinya.
Ia menemukan sejumlah anggota komunitas cosplay di Bandar Lampung pernah mengalami perlakuan serupa. Stigma dapat muncul kepada pelaku cosplay anime, tokusatsu, maupun crossplay.
Istilah crossplay umumnya digunakan untuk aktivitas cosplay ketika seseorang membawakan karakter dengan ekspresi gender yang berbeda dari dirinya. Dalam lingkungan komunitas, tindakan itu menjadi bagian dari seni peran dan interpretasi karakter.
Namun, masyarakat yang belum mengenal budaya cosplay dapat melihatnya menggunakan ukuran sosial sehari-hari. Akibatnya, kostum, pose, riasan, atau gerakan yang sebenarnya mengikuti karakter dapat dianggap aneh maupun tidak pantas.
Penelitian Yogi berusaha melihat persoalan tersebut sebagai fenomena budaya, bukan hanya perdebatan mengenai hobi atau pakaian.
Melalui penelitian tersebut, Yogi ingin menunjukkan bahwa cosplay merupakan salah satu bentuk ekspresi diri.
Seorang cosplayer biasanya berangkat dari ketertarikan terhadap karakter tertentu. Ketertarikan itu kemudian diwujudkan melalui kostum, riasan, properti, gestur, dan kemampuan membawakan karakter.
Prosesnya dapat membutuhkan riset, keterampilan membuat kostum, fotografi, seni peran, tata rias, serta kerja sama dengan anggota komunitas lainnya.
Karena itu, aktivitas cosplay tidak selalu dapat disederhanakan sebagai seseorang yang hanya mengenakan pakaian unik.
Bagi sebagian pelakunya, cosplay menjadi cara untuk mengembangkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, menemukan komunitas, dan mengekspresikan hubungan pribadi dengan budaya populer.
Gagasan mengenakan kostum saat ujian proposal ternyata bermula dari percakapan bersama dosen pembimbing.
Ketika Yogi mengajukan topik penelitian mengenai cosplay, dosennya menilai tema tersebut menarik dan sempat menyarankan agar ia datang ke kelas menggunakan kostum. Saran itu kemudian mendapat dukungan dari teman-temannya.
Yogi akhirnya memutuskan melakukan hal serupa ketika mengikuti ujian proposal.
Keputusan tersebut dapat dibaca sebagai cara menghubungkan objek penelitian dengan presentasi akademik. Ia tidak hanya menjelaskan fenomena cosplay melalui tulisan dan slide, tetapi juga menghadirkannya secara visual di ruang ujian.
Meski demikian, kostum tetap tidak menggantikan unsur utama sebuah ujian proposal. Mahasiswa masih harus menjelaskan masalah penelitian, metode, teori, sumber data, dan rencana penyusunan tesis kepada dosen penguji.
Yogi mempunyai beberapa alasan memilih Kamen Rider Black daripada karakter lain yang pernah dimainkannya.
Selain menjadi bagian dari pengalaman pribadinya sebagai cosplayer, karakter tersebut mempunyai hubungan dengan ingatan masa kecil dan budaya populer generasi 1990-an.
Menurut Yogi, Kamen Rider Black merupakan serial era Showa pertama yang pernah ia tonton. Tayangan itu juga dianggap mempunyai tempat khusus bagi penonton Indonesia yang mengenal tokusatsu melalui televisi.
Pemilihan karakter bernilai nostalgia tersebut membuat penampilannya dapat dipahami oleh dosen yang pernah menyaksikan serial yang sama.
Respons para penguji menunjukkan bahwa objek budaya populer dapat menjadi penghubung antara pengalaman pribadi, ingatan generasi, dan pembahasan akademik.
Film, komik, permainan, musik, anime, tokusatsu, tren media sosial, dan komunitas penggemar dapat diteliti sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Objek penelitian tidak harus selalu berupa kebudayaan tradisional atau karya yang telah berusia puluhan tahun. Kebiasaan sehari-hari dan budaya populer juga dapat menunjukkan cara masyarakat membangun identitas, memberi penilaian, serta menentukan apa yang dianggap normal.
Program Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma sendiri mempunyai pendekatan lintas disiplin. Latar belakang keilmuan mahasiswa dapat beragam, sedangkan fenomena budaya dikaji menggunakan berbagai sudut pandang kritis.
Program tersebut juga memperoleh peringkat akreditasi Unggul berdasarkan keputusan BAN-PT yang diumumkan pada November 2024.
Penampilan tidak biasa dapat membuat sebuah penelitian mendapatkan perhatian.