KEBONCINTA.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memperkuat internasionalisasi pendidikan seni sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan arahan tersebut ketika mengunjungi ISI Surakarta pada Jumat, 18 September 2026.
Menurut Brian, seni merupakan salah satu kekayaan dan keunikan Indonesia yang perlu dikelola secara serius agar mampu memberikan manfaat lebih luas.
Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah membuka lebih banyak peluang bagi mahasiswa asing untuk menempuh pendidikan di ISI Surakarta.
Kampus dapat mengembangkan program yang menarik bagi mahasiswa internasional, menjajaki dukungan pembiayaan serta memperluas kerja sama dengan mitra luar negeri.
Internasionalisasi juga dapat dilakukan dengan menghadirkan seniman, akademisi dan dosen tamu dari luar negeri, termasuk diaspora Indonesia.
Kolaborasi tersebut diharapkan memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam kepada mahasiswa sekaligus membuka kesempatan pertukaran pengetahuan dan pengembangan karya.
Kegiatan seni seperti festival dan pertunjukan juga didorong agar dikembangkan dalam skala lebih luas dengan melibatkan industri, pemerintah daerah, komunitas maupun masyarakat.
Langkah tersebut dinilai dapat menghubungkan pendidikan seni dengan perkembangan industri kreatif.
Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi seni tidak hanya dipersiapkan untuk menguasai kemampuan akademik maupun penciptaan karya, tetapi juga memahami peluang ekonomi yang dapat berkembang dari sektor seni dan budaya.
Kemdiktisaintek juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan kuliah mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Kampus didorong memperkuat jejaring alumni, dana pendidikan serta berbagai skema dukungan agar mahasiswa tidak harus menghentikan pendidikan hanya karena persoalan biaya.
Pada 2026, ISI Surakarta tercatat menjalankan 123 penelitian dengan pendanaan internal. Jumlah penelitian dengan pendanaan eksternal juga meningkat dari 15 menjadi 20 judul.
Selain riset, kampus berencana memperkuat fasilitas pembelajaran, digitalisasi serta layanan akademik dan administrasi.
Penguatan internasionalisasi diharapkan membuat pendidikan seni Indonesia semakin dikenal dunia sekaligus memperluas kesempatan mahasiswa dan dosen untuk berkolaborasi di tingkat global.