Berita
Rahman Abdullah

Mengapa Banyak Anak Kurang Aktif? BRIN Sebut Ini Ancaman Serius bagi Masa Depan Indonesia

Mengapa Banyak Anak Kurang Aktif? BRIN Sebut Ini Ancaman Serius bagi Masa Depan Indonesia

01 Agustus 2026 | 12:18

Keboncinta.com-- Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan peserta didik yang unggul dalam bidang akademik. Dibutuhkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara mental, memiliki kemampuan motorik yang baik, serta mampu berpikir kritis dan beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam diskusi bertajuk Sinergi Motorik, Kognitif, dan Pendidikan Jasmani Menuju Indonesia Emas 2045.

Para peneliti dan akademisi menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dilakukan melalui pendekatan pendidikan yang lebih menyeluruh, mengintegrasikan kesehatan, kemampuan gerak, perkembangan kognitif, dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik setiap anak.

Baca Juga: Bukan Sekadar Olahraga! Kemampuan Motorik Anak Ternyata Berpengaruh pada Kecerdasan dan Masa Depan

BRIN Dorong Pendidikan yang Lebih Holistik

Kepala Pusat Riset Pendidikan (PRP) BRIN, Trina Fizzanty, menilai bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan hasil belajar.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh kesehatan jasmani, kesejahteraan mental, kemampuan motorik, serta perkembangan kognitif peserta didik.

Ia menegaskan bahwa seluruh aspek tersebut saling berkaitan dan harus dikembangkan secara terpadu agar mampu menghasilkan generasi yang tangguh, produktif, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Kesehatan Mental dan Motorik Tak Bisa Dipisahkan

Trina menjelaskan bahwa kesehatan mental, kesejahteraan psikologis, pendidikan jasmani, serta kemampuan berpikir merupakan bagian penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas disiplin antara peneliti bidang pendidikan, kesehatan, dan ilmu sosial agar mampu menghasilkan inovasi pembelajaran dan kebijakan yang lebih komprehensif.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan pendidikan yang semakin kompleks di era modern.

Rendahnya Aktivitas Fisik Jadi Ancaman SDM Masa Depan

Dalam kesempatan yang sama, dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Malang, Ari Wibowo, mengingatkan bahwa rendahnya aktivitas fisik anak Indonesia telah menjadi persoalan serius.

Mengacu pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 58 persen anak usia 10 hingga 14 tahun serta lebih dari separuh remaja usia 15 hingga 19 tahun masih tergolong kurang aktif secara fisik.

Selain itu, sekitar 60 persen anak usia sekolah memiliki tingkat kebugaran yang rendah.

Menurut Ari, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya gaya hidup sedentari akibat penggunaan gawai, terbatasnya ruang bermain, padatnya aktivitas belajar, serta minimnya keterlibatan keluarga dalam membiasakan anak bergerak aktif.

Baca Juga: Resmi! Siswa Penerima PIP yang Berhalangan Hadir Tetap Bisa Aktivasi Rekening Lewat Kepala Sekolah

Aktivitas Fisik Berpengaruh pada Prestasi dan Kesehatan

Kurangnya aktivitas fisik tidak hanya meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan gangguan metabolisme.

Ari menjelaskan bahwa kondisi tersebut juga berdampak terhadap menurunnya konsentrasi belajar, kualitas tidur, hingga kesehatan mental anak.

Karena itu, pendidikan jasmani seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya membentuk kebiasaan hidup sehat, tetapi juga memperkuat karakter peserta didik.

Kompetensi Motorik Jadi Fondasi Perkembangan Anak

Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Pendidikan BRIN, Arisco Mardiansyah, menegaskan bahwa kemampuan motorik merupakan fondasi utama perkembangan anak.

Penguasaan gerak dasar tidak hanya menjadi bekal bagi calon atlet, tetapi juga berkontribusi terhadap perkembangan fungsi kognitif, rasa percaya diri, dan kebiasaan menjalani gaya hidup aktif hingga dewasa.

Menurutnya, setiap aktivitas gerak melibatkan proses berpikir yang kompleks, mulai dari menerima informasi, mengambil keputusan, hingga mengoordinasikan gerakan tubuh.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan motorik dan kognitif saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

TGMD Membantu Memetakan Kemampuan Anak

Untuk mendukung proses pembelajaran, Arisco memperkenalkan Test of Gross Motor Development (TGMD) sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan gerak dasar anak secara lebih objektif.

Melalui hasil pengukuran tersebut, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

Penelitiannya juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan kemampuan motorik sekaligus membuat anak lebih termotivasi mengikuti aktivitas fisik.

Baca Juga: Info GTK Berstatus Oren Setelah Sinkronisasi Ini yang Harus Dilakukan Guru Agar SKTP Segera Terbit

Strategi Pembelajaran Harus Dimulai dari Memahami Cara Berpikir Siswa

Dosen Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang, Anita Dewi Utami, menyoroti pentingnya memahami pola pikir peserta didik sebelum menentukan metode pembelajaran.

Menurutnya, rendahnya minat terhadap matematika sering kali disebabkan oleh persepsi negatif dan kecemasan belajar, bukan semata-mata karena materi pelajaran yang sulit.

Melalui penelitian mengenai mental model, Anita menemukan bahwa setiap siswa memiliki tingkat pemahaman awal yang berbeda sehingga guru perlu melakukan diagnosis terlebih dahulu sebelum menentukan strategi pembelajaran yang sesuai.

Teknologi Menjadi Pendukung, Guru Tetap Berperan Utama

Anita juga mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran berbasis teknologi, mulai dari platform belajar mandiri hingga sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu asesmen dan analisis pembelajaran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu.

Keputusan akademik serta proses pembelajaran tetap berada di tangan guru yang memahami karakteristik dan kebutuhan setiap peserta didik.

Baca Juga: Info GTK Berstatus Oren Setelah Sinkronisasi Ini yang Harus Dilakukan Guru Agar SKTP Segera Terbit

BRIN menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih holistik. Keberhasilan peserta didik tidak cukup diukur dari prestasi akademik, tetapi juga ditentukan oleh kesehatan fisik, kesejahteraan mental, kemampuan motorik, perkembangan kognitif, serta strategi pembelajaran yang tepat.

Melalui kolaborasi antara dunia pendidikan, kesehatan, penelitian, dan teknologi, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mencetak generasi yang sehat, tangguh, adaptif, serta mampu menghadapi tantangan global. Dengan fondasi tersebut, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 akan semakin realistis untuk dicapai.***

Tags:
berita nasional Indonesia BRIN

Komentar Pengguna