Mengapa Gus Dur Layak Menjadi Pahlawan Nasional? Simak Kiprah dan Warisannya

Mengapa Gus Dur Layak Menjadi Pahlawan Nasional? Simak Kiprah dan Warisannya

12 November 2025 | 13:06

Keboncinta.com- Pada hari Senin, 10 November 2025, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur bersama sembilan tokoh lainnya. Gelar ini diserahkan langsung oleh Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, sebagai penghormatan atas peran Gus Dur dalam perjuangan politik dan pendidikan Islam di Indonesia.

Dalam artikel ini akan dibahas secara komprehensif mulai dari latar belakang keluarga dan masa kecil, pendidikan dan perjalanan intelektual, kiprah di dunia pesantren dan organisasi Islam, masa kepresidenan, hingga warisan yang membuatnya pantas memperoleh gelar pahlawan nasional.

Kelahiran dan Latar Keluarga

Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, sebagai bagian dari keluarga ulama besar. 

  • Nama lahir: Abdurrahman ad-Dakhil; kemudian dikenal sebagai Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

  • Tanggal lahir: ada sedikit perbedaan sumber, tetapi secara umum disebut 7 September 1940. 

  • Ayah: KH Wahid Hasyim, seorang tokoh nasional yang pernah menjabat Menteri Agama pada era pertama RI. 

  • Ibu: Nyai Sholehah, berasal dari keluarga pesantren dan ulama. Kekayaan tradisi keagamaan sangat kuat dalam keluarga.

  • Kakek dari pihak ayah: KH Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

  • Kakek dari pihak ibu: KH Bisri Syansuri, juga dikenal sebagai ulama penting dalam tradisi pesantren

Lingkungan keluarga yang sangat berakar di dunia pesantren dan keulamaan memberikan fondasi yang kuat bagi Gus Dur dalam pembentukan pribadi, pemikiran, dan kiprahnya kemudian.

Masa Kecil dan Pendidikan

Dari masa kecil hingga masa remaja, Gus Dur menunjukkan kecerdasan, ketertarikan yang besar pada ilmu agama, sekaligus wawasan luas. Beberapa poin penting:

  • Sejak usia muda, Gus Dur sudah bisa membaca Al-Qur’an—misalnya disebut telah mahir membaca pada usia 5 tahun. 

  • Masa kecilnya sempat berpindah-pindah: ketika usianya masih kecil, ia mengikuti ayahnya ke Jakarta, kemudian tinggal di Jombang, kemudian kembali ke Jakarta ketika ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama.

  • Pendidikan pesantren: Ia nyantri di beberapa pesantren ternama seperti Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, dan Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang.

  • Studi luar negeri: Gus Dur berkesempatan belajar di luar negeri—seperti di Al‑Azhar University Kairo, Mesir; kemudian di Universitas Baghdad, Irak; dan juga sempat ke Belanda, Jerman, hingga Prancis.

  • Selain pendidikan formal agama dan klasik, ia juga menunjukkan minat luas: membaca karya sastra dunia, aktif dalam organisasi pelajar.

Dari semua ini, bisa dilihat bahwa Gus Dur bukan hanya ulama tradisional pesantren semata, tetapi juga memiliki pengalaman global dan wawasan yang luas mengenai Islam, sosial, dan dunia.

Kiprah di Dunia Pesantren dan Organisasi Islam

Gus Dur menjembatani dunia pesantren tradisional dengan ruang publik yang lebih luas—baik dalam bidang pendidikan, penelitian, jurnalistik, maupun organisasi Islam. Berikut beberapa catatan penting:

  • Ia mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy’ari (Jombang) dan menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, salah satu pesantren besar di Jombang.

  • Ia juga aktif dalam dunia jurnalisme dan intelektual: bergabung dengan lembaga seperti LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) pada awal 1970-an, menulis artikel dan makalah ilmiah, majalah. 

  • Di organisasi Nahdlatul Ulama (NU), ia menjabat sebagai Ketua Umum selama beberapa periode (sekitar 1984 hingga 1999) sebelum memasuki kancah politik nasional.

  • Melalui posisinya di NU dan pesantren, Gus Dur berupaya menyuarakan bahwa dunia pesantren dan tradisi ulama tidak tertutup terhadap pemikiran baru dan perubahan sosial, namun tetap berakar pada tradisi keislaman.

Dengan demikian, Gus Dur menjadi figur jembatan antara tradisi pesantren dan dinamika modernitas—yang kemudian membawanya ke panggung nasional.

Masa Kepresidenan

Pada 20 Oktober 1999, Gus Dur secara resmi menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4, menggantikan B.J. Habibie.  Masa kepresidenannya berlangsung hingga 23 Juli 2001, ketika ia diberhentikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Meskipun masa jabatannya relatif singkat, ada beberapa kebijakan dan karakter yang menonjol:

  • Gus Dur dikenal sebagai “Bapak Pluralisme Indonesia” karena keberpihakannya terhadap minoritas, keberagaman, serta kebebasan beragama dan berekspresi.

  • Ia mengambil langkah-langkah simbolik seperti mengakui keberagaman budaya, membuka ruang bagi kelompok yang sebelumnya terpinggirkan. Seperti pengakuan terhadap perayaan Imlek dan komunitas Tionghoa.

  • Ia menerapkan reformasi struktural pada institusi negara: misalnya pemisahan antara TNI dan Polri, mendorong otonomi daerah, membentuk kebijakan penguatan demokrasi dan kebebasan pers.

  • Tantangan besar melingkupi masa jabatannya: konflik politik, konflik dengan legislatif, serta krisis internal yang akhirnya mengarah ke pemakzulan.

Masa kepresidenan Gus Dur memang berliku, namun warisan gagasan reformasi dan pluralisme tetap menjadi bagian penting dari sejarah demokrasi Indonesia.

Anugerah Gelar Pahlawan Nasional

Pada 10 November 2025, Gus Dur resmi mendapatkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI Nomor 116/TK/Tahun 2025. Pemerintah menyatakan bahwa penghargaan ini diberikan karena jasa Gus Dur dalam bidang perjuangan politik dan pendidikan Islam, serta sebagai tokoh kemanusiaan dan pluralisme. Beberapa catatan penting terkait anugerah ini:

  • Penyerahan dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada ahli waris Gus Dur di Istana Negara. Penganugerahan ini sudah melalui proses panjang — nama Gus Dur sebelumnya telah diusulkan berulang kali sebelum akhirnya ditetapkan.

  • Penghargaan menegaskan bahwa kontribusi Gus Dur tidak sekadar sebagai presiden, namun lebih luas dalam pendidikan keislaman, pluralisme, dan demokrasi.

Warisan Pemikiran dan Kontribusi

Kontribusi Gus Dur sangat luas dan meliputi berbagai bidang. Beberapa warisan penting yang patut diingat:

  1. Pendidikan Islam dan pesantren
    Gus Dur sangat memperhatikan dunia pesantren sebagai bagian vital dari sistem pendidikan di Indonesia. Ia berupaya memodernisasi pesantren tetapi tetap mempertahankan tradisi.
    Ia juga menghasilkan banyak tulisan mulai dari dari buku, artikel, dan makalah. Menurut beberapa penelitian terdapat sekitar 493 tulisan sejak awal 1970-an hingga 2000-an.

  2. Pluralisme dan Kebebasan Beragama
    Sebagai Presiden dan ulama, Gus Dur menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk yang harus menghormati keberagaman agama, suku, budaya. Ia sering disebut sebagai “Bapak Pluralisme”. 
    Sikapnya terhadap komunitas minoritas, termasuk etnis Tionghoa, serta pengakuannya terhadap agama Konghucu, adalah contoh nyata dari kebijakan pluralisme.

  3. Politik dan Demokrasi
    Kepemimpinannya menandai era transisi reformasi—dengan pemisahan TNI/Polri, otonomi daerah, kebebasan pers, dan upaya rekonsiliasi nasional. Ia berani mengambil langkah yang berbeda dari tradisi politik sebelumnya.
    Meski masa jabatan tidak panjang, ide dan semangatnya tetap hidup sebagai bagian dari demokrasi Indonesia.

  4. Citra dan Gaya Kepemimpinan
    Gus Dur dikenal dengan gaya santai, humoris, tetapi tegas dalam prinsip. Ia mampu menjangkau berbagai kalangan, baik dari pesantren maupun dunia akademik, bahkan kelompok sekuler atau non-muslim.
    Dengan demikian ia menjadi tokoh yang cukup unik, ulama sekaligus negarawan, tradisional namun progresif.***

Tags:
Gelar Pahlawan Nasional Gus Dur Pahlawan Nasional Bapak Pluralisme Indonesia Perjuangan dan Pemikiran Gus Dur Abdurrahman Wahid Presiden Keempat RI

Komentar Pengguna