Mengapa Kita Takut Terlihat Biasa di Media Sosial?

Mengapa Kita Takut Terlihat Biasa di Media Sosial?

18 Januari 2026 | 19:05

Keboncinta.com-- Fenomena media sosial kini menjadi ajang pamer kehidupan bagi banyak orang. Tak heran jika kebiasaan membandingkan diri dengan unggahan orang lain semakin sering terjadi. Dari sinilah muncul pertanyaan: mengapa terlihat “biasa” terasa seperti kegagalan di media sosial?

Media Sosial dan Standar Kehidupan Ideal

Media sosial menampilkan versi terbaik, bukan versi yang sepenuhnya nyata. Hal ini membuat banyak orang merasa tertipu oleh gambaran kebahagiaan yang terlihat sempurna. Kebahagiaan tersebut bisa berupa pencapaian, jalan-jalan, nongkrong di kafe, berbelanja, dan berbagai aktivitas lainnya.

Unggahan-unggahan ini seolah membentuk standar kehidupan ideal yang harus diikuti. Padahal, apa yang diposting belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Bisa jadi, di balik unggahan tersebut terdapat kerja keras, lelah, bahkan kegagalan yang tidak ditampilkan.

Rasa Takut Dinilai dan Kebutuhan Akan Validasi

Ketika seseorang memposting hal yang berbeda dari kebanyakan orang, sering kali muncul rasa takut dianggap membosankan, tertinggal, atau tidak berada di titik pencapaian yang sama.
Selain itu, jumlah pengikut, like, view, dan komentar kerap dijadikan tolok ukur nilai diri. Dukungan digital tersebut dianggap sebagai validasi bahwa seseorang hebat dan layak diperhatikan. Tanpa disadari, hal ini membuat kepercayaan diri bergantung pada penilaian orang lain.

Budaya Perbandingan yang Tidak Sehat

Kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain dapat memicu overthinking, rasa rendah diri, dan kecemasan emosional. Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Namun, rasa tidak pernah puas sering kali mendorong seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, seolah ingin menentukan siapa yang lebih unggul dan siapa yang berada di bawah. Padahal, hidup bukan tentang perbandingan, melainkan tentang bagaimana kita memberi kebahagiaan pada diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain.
Ketika terus membandingkan diri, kita akan selalu merasa orang lain lebih baik. Padahal, kita juga memiliki kelebihan yang sering tertutupi oleh overthinking berlebihan.

Menjadi Berbeda dan Tetap Menjadi Diri Sendiri

Berbeda dengan orang lain bukan berarti kita kurang, tetapi justru menunjukkan keunikan. Setiap orang memiliki standar hidup dan cara menikmati hidup yang berbeda. Inilah seni menjalani kehidupan tanpa harus selalu sama dengan orang lain. Dengan demikian, kita dapat menjaga identitas diri di dunia digital tanpa harus mengikuti semua tren, tetapi tetap menjadi diri sendiri apa adanya.

Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan cermin nilai diri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Menyadari hal tersebut adalah langkah penting untuk berdamai dengan diri sendiri. Pada akhirnya, menjadi diri sendiri jauh lebih bermakna daripada terlihat sempurna hanya demi mengikuti standar orang lain.

Tags:
Media Sosial Refleksi Diri Gaya Hidup Digital Opini Anak Muda

Komentar Pengguna