Keboncinta.com-- Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto di Jawa Timur memasuki hari kedua dengan menghadiri Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada Minggu, 8 Februari 2026.
Kehadiran Kepala Negara dalam agenda keagamaan berskala besar ini menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah dan ulama dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Sejak pagi hari, ratusan ribu jemaah Nahdlatul Ulama telah memadati area stadion. Presiden Prabowo tiba di lokasi sekitar pukul 06.50 WIB dan langsung disambut antusiasme para peserta yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Banyak jemaah bahkan telah hadir sejak malam sebelumnya demi mengikuti rangkaian mujahadah yang sarat makna spiritual dan historis tersebut.
Baca Juga: Terlalu Lama Main Gadget Bisa Merusak Otak, Ini Dampak Serius yang Sering Diabaikan
Setibanya di arena, Presiden tampak menyapa para jemaah, menciptakan suasana hangat dan penuh keakraban.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang semakin menambah kekhidmatan suasana.
Presiden Prabowo memberikan apresiasi atas lantunan ayat suci tersebut, yang menghadirkan nuansa sejuk dan menenteramkan di tengah lautan jemaah.
Momentum ini menjadi pembuka refleksi atas perjalanan panjang Nahdlatul Ulama selama satu abad dalam mengabdi kepada umat dan bangsa.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas sambutan hangat dari keluarga besar NU.
Ia mengungkapkan bahwa berada di tengah-tengah warga Nahdlatul Ulama selalu memberinya kebahagiaan dan semangat.
Presiden merasakan kesejukan batin, getaran kebersamaan, serta kuatnya semangat persatuan dan keguyuban yang menjadi ciri khas NU.
Menurutnya, energi tersebut mencerminkan harapan besar akan terwujudnya bangsa dan negara yang adil serta damai.
Presiden juga menegaskan bahwa NU memiliki peran historis yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Refleksi satu abad NU bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan moral dan spiritual untuk melangkah ke masa depan.
Ia menilai nilai-nilai keislaman yang moderat, toleran, dan cinta tanah air yang dijaga NU merupakan kekuatan besar bagi persatuan nasional.
Kehadiran Presiden Prabowo dalam Mujahadah Kubro ini dinilai bukan sekadar simbolik. Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, menegaskan bahwa momen tersebut menunjukkan bersatunya ulama dan umara dalam satu visi kebangsaan.
Hubungan erat antara NU dan negara disebut sebagai modal strategis untuk membawa Indonesia menuju kejayaan di masa depan, dengan tetap berpijak pada nilai keadilan, persatuan, dan kedaulatan.
Suasana acara semakin khidmat saat taujihat dan doa bersama dipanjatkan. Doa-doa tersebut menggema sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan, kedamaian, dan kekuatan bagi bangsa Indonesia.
Mujahadah Kubro Satu Abad NU pun menjadi momentum reflektif sekaligus harapan bersama agar Indonesia terus melangkah sebagai negara yang adil, makmur, dan berdaulat di tengah perubahan zaman.***