Kevlboncinta.com - Praktisi pengasuhan anak dan pakar neurosains, dr. Aisah Dahlan, CHt., membagikan sejumlah tips parenting penting dalam menyikapi berbagai tantangan tumbuh kembang anak.
Dalam pemaparannya, dr Aisah menyoroti panduan khusus bagi para orang tua, terutama mengenai penanganan anak berwatak introvert, strategi meredakan ketakutan pada anak, serta pentingnya menjaga stabilitas emosi orang tua saat mendampingi buah hati.
Pendekatan Membangun Komunikasi dengan Anak Introvert
Bagi orang tua yang memiliki anak berwatak introvert, dr. Aisah Dahlan menekankan pentingnya kesabaran dan kontak mata secara langsung. Anak perempuan maupun anak berkarakter introvert pada umumnya cenderung tidak banyak bicara dan membutuhkan waktu untuk merasa aman serta percaya sebelum mulai terbuka.
Ketika anak introvert ingin berbicara, orang tua diimbau untuk segera melepaskan kesibukan, seperti menaruh gawai, dan menatap wajah anak secara langsung.
Karena sifat dasar anak introvert yang penuh pertimbangan dan berhati-hati, orang tua perlu meluangkan waktu khusus serta tidak terburu-buru memotong pembicaraan agar anak yakin bahwa mereka benar-benar diperhatikan dan didengarkan.
Memvalidasi Emosi dan Mengatasi Ketakutan Anak
Menanggapi pertanyaan mengenai anak yang takut tidur sendiri akibat menonton tayangan horor, dr. Aisah mengimbau agar orang tua tidak memberikan label negatif atau menjuluki anak sebagai pengecut. Sebaliknya, langkah awal yang paling krusial adalah memvalidasi emosi ketakutan anak.
Setelah mengakui perasaan anak, orang tua dapat membimbing anak secara bertahap melalui teknik pernapasan, mengajarkan bacaan doa perlindungan (taawuz dan basmalah), serta membimbing anak untuk berserah diri kepada Tuhan.
Metode ini melatih anak untuk mengendalikan perasaan dan mengatasi rasa cemasnya secara mandiri secara perlahan.
Pentingnya Kelembutan dan Stabilitas Emosi Orang Tua
Dalam hal pola asuh sehari-hari maupun pendampingan belajar, dr. Aisah Dahlan mengingatkan pentingnya kelembutan. Mengutip prinsip ajaran Islam, beliau menegaskan bahwa kedisiplinan tidak dilakukan dengan kekerasan fisik, melainkan dengan pendekatan kasih sayang dan rangkulan.
Selain itu, emosi orang tua sangat memengaruhi kondisi mental anak. Kondisi emosional ibu dapat tertular hingga tiga kali lipat kepada anak. Apabila ibu berada dalam kondisi tenang, senang, dan bersemangat, maka anak juga akan menyerap energi positif tersebut.
Oleh karena itu, menjaga kestabilan emosi orang tua menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan tumbuh kembang anak yang sehat dan gembira. (swd)