Keboncinta.com-- Penentuan awal puasa Ramadhan bukanlah proses yang dilakukan secara sederhana. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) kembali menyiapkan mekanisme resmi untuk menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah yang akan menjadi rujukan utama bagi jutaan umat Islam di Indonesia dalam memulai ibadah puasa.
Penetapan awal Ramadhan memiliki makna yang sangat penting, tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga bernilai religius dan spiritual.
Oleh karena itu, pemerintah secara konsisten menggelar sidang isbat sebagai forum resmi untuk menentukan awal bulan-bulan strategis dalam kalender Islam, yakni Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Baca Juga: Kabar Baik Guru Honorer, Insentif Bulanan Rp400 Ribu Cair Langsung ke Rekening
Dalam pelaksanaannya, sidang isbat melibatkan berbagai unsur penting. Kementerian Agama menghadirkan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), para pakar astronomi dan ilmu falak, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), DPR RI, Mahkamah Agung, hingga perwakilan negara sahabat dari dunia Islam.
Keterlibatan lintas lembaga ini bertujuan memastikan keputusan yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah yang kuat sekaligus sejalan dengan kaidah syariat Islam.
Secara umum, sidang isbat dilaksanakan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pemaparan data hisab atau perhitungan astronomi mengenai posisi bulan.
Tahap kedua berupa verifikasi hasil rukyatul hilal yang dilakukan di puluhan titik pemantauan di berbagai wilayah Indonesia.
Tahap terakhir adalah musyawarah penetapan yang hasilnya diumumkan secara resmi kepada masyarakat. Seluruh proses tersebut merujuk pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 sebagai landasan hukum penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah di Indonesia.
Kementerian Agama memastikan bahwa sidang isbat awal Ramadhan 1447 H akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026.
Sidang ini rencananya berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Abu Rokhmad, menegaskan bahwa pemerintah tetap konsisten menggunakan pendekatan kombinasi antara metode hisab dan rukyat.
Baca Juga: TPG Tak Lagi Cair Tiap 3 Bulan! Skema Bulanan Berlaku 2026, Guru Wajib Cek Info GTK Sekarang
Untuk mendukung proses tersebut, Kemenag akan menurunkan tim pemantau hilal ke lebih dari 30 titik strategis di seluruh Indonesia.
Di Indonesia, perbedaan metode penentuan awal Ramadhan bukanlah hal baru. Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi murni tanpa menunggu hasil pengamatan visual.
Berdasarkan metode tersebut, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sebagaimana tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Sementara itu, pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode gabungan antara hisab dan rukyatul hilal.
Baca Juga: Anggaran Guru Non-ASN Tembus Rp14 Triliun! TPG & TKG Naik Mulai 2026, Ini Rincian Lengkapnya
Dengan pendekatan ini, keputusan resmi awal Ramadhan baru dapat ditetapkan setelah proses pengamatan hilal selesai dilaksanakan.
Perbedaan pandangan tersebut merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam yang telah lama berkembang dan perlu disikapi dengan sikap saling menghormati.
Sidang isbat biasanya dimulai pada sore hari dan berlanjut hingga malam, bertepatan dengan waktu terbenamnya matahari yang menjadi momen krusial dalam pengamatan hilal.
Hasil sidang umumnya diumumkan pada malam yang sama dan sangat dinantikan masyarakat karena menentukan pelaksanaan salat tarawih serta dimulainya ibadah puasa.
Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi serupa juga tercantum dalam Almanak NU 2026 yang disusun oleh Lembaga Falakiyah PBNU.
Baca Juga: Lolos PPPK Tapi Masih Bisa CPNS! Skema Rekrutmen SMA Garuda Baru 2026 Buka Jalan ASN Lebih Fleksibel
Secara astronomis, ijtimak atau konjungsi bulan dan matahari diperkirakan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pada siang hari.
Namun, saat matahari terbenam, posisi hilal diprediksi belum memenuhi kriteria visibilitas. Kondisi ini memperkuat peluang bahwa awal Ramadhan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026.***