Keboncinta.com-- Revolusi Iran merupakan salah satu peristiwa politik dan sosial paling berpengaruh pada abad ke-20 yang tidak hanya mengubah wajah Iran, tetapi juga berdampak luas terhadap peta geopolitik Timur Tengah.
Revolusi ini mencapai puncaknya pada tahun 1979 dan menandai runtuhnya kekuasaan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi, sekaligus lahirnya Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sebelum revolusi terjadi, Iran berada di bawah sistem monarki yang dikenal dekat dengan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat.
Shah Pahlavi menjalankan program modernisasi besar-besaran melalui Revolusi Putih, yang bertujuan mendorong industrialisasi, reformasi tanah, dan sekularisasi.
Baca Juga: Panduan Lengkap Pembaruan Dapodik Semester Genap 2026, Operator Sekolah harus Paham!
Namun, di balik kemajuan ekonomi dan infrastruktur, kebijakan tersebut memicu ketimpangan sosial, penindasan politik, serta ketidakpuasan di kalangan ulama, mahasiswa, dan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ketidakstabilan semakin meningkat ketika kebebasan berekspresi dibatasi dan oposisi politik ditekan melalui aparat keamanan. Kondisi ini memicu gelombang protes besar di berbagai kota.
Demonstrasi yang awalnya bersifat sporadis berkembang menjadi gerakan nasional yang melibatkan jutaan rakyat Iran dari berbagai lapisan sosial.
Tokoh sentral Revolusi Iran adalah Ayatollah Ruhollah Khomeini, seorang ulama Syiah yang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Shah. Meski sempat diasingkan ke luar negeri, gagasan Khomeini tentang pemerintahan Islam terus menyebar dan mendapatkan dukungan luas.
Baca Juga: Kemenag Salurkan BSU 2025 untuk Guru dan Tendik Madrasah Non ASN, Hampir 212 Ribu Penerima
Seruan untuk menumbangkan monarki dan membangun negara berdasarkan nilai-nilai Islam semakin menguat seiring memburuknya situasi politik dan ekonomi.
Pada awal 1979, tekanan publik yang masif memaksa Shah Mohammad Reza Pahlavi meninggalkan Iran. Tak lama kemudian, Khomeini kembali ke Teheran dan disambut oleh jutaan pendukung.
Melalui referendum nasional, rakyat Iran memilih bentuk pemerintahan Republik Islam, yang menempatkan ulama sebagai otoritas tertinggi negara.
Sejak saat itu, Iran memasuki babak baru dalam sejarahnya dengan sistem politik yang menggabungkan unsur agama dan negara.
Dengan demikian, Revolusi Iran tidak hanya mengubah struktur pemerintahan, tetapi juga membentuk identitas nasional dan kebijakan luar negeri Iran hingga saat ini.
Baca Juga: Ini Daftar Persyaratan Guru untuk Daftar PPG Daljab Batch IV Kemenag, Yuk Disimak!
Peristiwa ini menjadi simbol kebangkitan politik Islam dan memberikan pengaruh besar terhadap dinamika sosial-politik di kawasan Timur Tengah dan bahkan dunia.***