Budaya
Admin

Sopan Santun yang Hampir Punah: Krisis Akhlak dalam Budaya Modern

Sopan Santun yang Hampir Punah: Krisis Akhlak dalam Budaya Modern

08 November 2025 | 13:03

Keboncinta.com--   Di era ketika segalanya serba cepat dan digital, kesantunan mulai terasa seperti peninggalan masa lalu. Kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” semakin jarang terdengar tulus. Ruang publik—baik nyata maupun virtual—dipenuhi komentar kasar, debat tanpa etika, dan sikap individualistik yang menyingkirkan empati. Kita sedang hidup di zaman kemajuan teknologi, tapi kemunduran akhlak.

Budaya Tanpa Budi

Bangsa Indonesia dahulu dikenal dengan kehalusan budi. Sopan santun bukan hanya norma sosial, tapi falsafah hidup—diajarkan sejak kecil lewat tutur kata, cara duduk, bahkan cara menatap orang lain. Namun, arus budaya global dan gaya hidup instan membuat nilai-nilai itu tergeser.
Anak muda kini lebih mengenal “trend” daripada “tata krama”, lebih peka terhadap notifikasi dibanding perasaan orang di sekitarnya.

Padahal, kesantunan bukan sekadar aturan formal. Ia adalah refleksi dari jiwa yang beradab—cara menghormati diri sendiri dengan menghargai orang lain.

Digitalisasi dan Lenyapnya Rasa Hormat

Media sosial memberi ruang berekspresi tanpa batas, tapi juga membuka jalan bagi hilangnya kontrol moral. Anonimitas membuat orang berani berkata kasar tanpa rasa bersalah. Kritik berubah jadi cacian, diskusi jadi pertempuran ego. Ironisnya, generasi yang mengaku “melek digital” justru sering buta etika digital.

Padahal, budaya maju tidak diukur dari kecanggihan teknologi, tapi dari tinggi rendahnya moral manusia yang menggunakannya.

Kembali ke Akar Akhlak

Kesantunan bukanlah simbol kuno yang harus ditinggalkan, tapi pondasi peradaban.
Rasulullah ļ·ŗ bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari no. 273, Ahmad no. 8595)

Itulah inti dari kebudayaan yang beradab: kemajuan yang berjalan seiring dengan akhlak.

Membangun Ulang Kehalusan Budi

Di tengah budaya yang bising dan serba cepat, mari kembali menanam nilai sederhana: sopan dalam tutur, santun dalam tindakan, lembut dalam perbedaan. Sebab bangsa yang kehilangan sopan santun, perlahan kehilangan jiwanya. Dan jika akhlak benar-benar punah, maka yang tersisa hanyalah kemajuan tanpa kemanusiaan.

Contributor: Tegar Bagus Pribadi

Tags:
Budaya Sopan Santun Moral Etika

Komentar Pengguna