Beasiswa
Hilmi An Naufal

Sumsel Siapkan Kampus Sekolah Ekspor Gratis, Mahasiswa Akan Bertemu Buyer Internasional

Sumsel Siapkan Kampus Sekolah Ekspor Gratis, Mahasiswa Akan Bertemu Buyer Internasional

06 Agustus 2026 | 06:07

PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menggagas pembentukan Kampus Sekolah Ekspor untuk membantu mahasiswa dan generasi muda mengembangkan usaha yang mampu bersaing di pasar internasional.

Gagasan tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dalam kegiatan Sultan Muda Campuspreneur yang diselenggarakan bersamaan dengan pelantikan pengurus HIPMI Perguruan Tinggi se-Palembang Raya.

Program ini direncanakan dapat diikuti secara gratis dan menggunakan konsep pembelajaran luar ruang. Pemprov Sumsel menyebutnya sebagai calon kampus sekolah ekspor outdoor pertama di Indonesia.

Tidak hanya belajar teori ekspor

Kampus Sekolah Ekspor dirancang bukan sekadar menyediakan pembelajaran mengenai perdagangan internasional.

Peserta juga direncanakan memperoleh pendampingan dari tutor serta diperkenalkan langsung kepada calon pembeli atau buyer dari luar negeri. Pendekatan tersebut diharapkan membantu mahasiswa memahami kebutuhan pasar secara nyata.

Melalui interaksi dengan calon pembeli, peserta dapat mempelajari standar produk, kualitas kemasan, kapasitas produksi, harga, cara berkomunikasi, serta persyaratan memasuki pasar tujuan.

Menurut Herman Deru, peluang ekspor masih terbuka luas. Namun, generasi muda membutuhkan pengetahuan dan kompetensi yang cukup agar dapat memanfaatkan kesempatan tersebut.

Ditargetkan mulai bergerak pada September

Pemprov Sumsel berencana menindaklanjuti gagasan tersebut melalui penandatanganan nota kesepahaman pada Agustus 2026.

Kerja sama akan melibatkan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Sultan Muda Sumsel, perguruan tinggi, dan Otoritas Jasa Keuangan.

Setelah penandatanganan kerja sama, pelaksanaan awal program ditargetkan mulai menunjukkan kegiatan nyata pada September 2026.

Tahap awal tersebut akan menjadi bagian penting untuk menjelaskan mekanisme pendaftaran, kurikulum, tempat kegiatan, pendamping, serta kriteria usaha mahasiswa yang dapat mengikuti program.

Libatkan sepuluh perguruan tinggi

Program Sultan Muda Campuspreneur melibatkan sembilan perguruan tinggi di Palembang dan satu perguruan tinggi di Prabumulih.

Kolaborasi tersebut ditargetkan dapat menghasilkan sekitar 10.000 wirausaha baru dari lingkungan kampus. Para mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk membangun usaha di pasar lokal, tetapi juga dipersiapkan agar memiliki orientasi ekspor.

Keterlibatan perguruan tinggi dinilai penting karena kampus memiliki mahasiswa, dosen, pusat penelitian, laboratorium, serta jaringan kemitraan yang dapat mendukung pengembangan produk.

Produk hasil riset maupun usaha mahasiswa berpotensi dikembangkan menjadi komoditas bernilai jual apabila memperoleh pendampingan bisnis yang tepat.

Membentuk pengusaha sejak masih kuliah

Mahasiswa biasanya mulai memikirkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan. Program Campuspreneur mencoba menawarkan jalur yang berbeda dengan memperkenalkan kewirausahaan sejak mereka masih berada di kampus.

Mahasiswa dapat mulai menguji ide bisnis, melakukan riset pasar, membuat produk, menyusun strategi pemasaran, dan membangun jaringan tanpa harus menunggu kelulusan.

Pendekatan tersebut juga dapat membantu mahasiswa memahami bahwa kegiatan ekspor tidak hanya dilakukan oleh perusahaan berskala besar.

Usaha kecil dapat memasuki pasar internasional selama memiliki produk yang sesuai, legalitas yang lengkap, kualitas yang konsisten, serta kemampuan memenuhi permintaan pembeli.

Kementerian Perdagangan mendukung inisiatif Sumsel

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi menyambut baik program yang digagas Pemprov Sumsel.

Ia berharap kegiatan Sultan Muda Campuspreneur dapat melahirkan pengusaha muda yang inovatif, memiliki komitmen, dan mampu membawa produknya ke pasar dunia.

Pengembangan eksportir muda dari perguruan tinggi juga sejalan dengan program Campuspreneur Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional.

Program tersebut berfokus pada penguatan fondasi usaha, kesiapan komersial produk mahasiswa, penetrasi pasar, serta peningkatan skala bisnis agar wirausaha kampus tidak hanya berhasil di dalam negeri.

Materi ekspor membutuhkan pembelajaran praktis

Menjadi eksportir tidak cukup hanya dengan memiliki produk yang menarik.

Pelaku usaha perlu memahami dokumen, kepabeanan, sistem pembayaran, pengiriman, kontrak dagang, penentuan harga, dan ketentuan negara tujuan.

Kementerian Perdagangan melalui pusat pelatihan ekspornya menyediakan berbagai program seperti prosedur ekspor, riset pasar internasional, bisnis ekspor secara daring, serta manajemen ekspor-impor.

Kampus Sekolah Ekspor dapat menjadi penghubung antara pengetahuan tersebut dengan usaha yang sedang dikembangkan mahasiswa.

Pembelajaran akan lebih bermanfaat apabila disertai praktik membuat katalog, menghitung harga ekspor, menyiapkan presentasi produk, serta mengikuti simulasi negosiasi dengan pembeli.

Pertemuan dengan buyer menjadi daya tarik utama

Salah satu hal yang membedakan rencana program ini adalah kesempatan peserta berinteraksi dengan calon pembeli dari luar negeri.

Pertemuan dengan buyer dapat membantu mahasiswa mengetahui apakah produknya telah sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pembeli internasional biasanya mempertimbangkan kualitas, desain, keamanan, sertifikasi, ketepatan pengiriman, dan kemampuan produsen menjaga pasokan.

Masukan dari buyer dapat digunakan peserta untuk memperbaiki produk sebelum benar-benar melakukan transaksi ekspor.

Namun, pertemuan tersebut belum tentu langsung menghasilkan penjualan. Peserta tetap membutuhkan kesiapan produksi, dokumen, modal kerja, dan kemampuan memenuhi kesepakatan.

OJK dapat mendukung pemahaman pembiayaan

Keterlibatan Otoritas Jasa Keuangan dalam rencana kerja sama juga penting karena pengembangan usaha membutuhkan pemahaman mengenai pembiayaan.

Pengusaha muda perlu mengetahui cara menyusun arus kas, memisahkan uang pribadi dan usaha, menghitung kebutuhan modal, serta memilih layanan keuangan yang legal.

Literasi keuangan dapat membantu peserta menghindari pinjaman ilegal dan keputusan pembiayaan yang tidak sesuai kemampuan usaha.

Selain itu, eksportir perlu memahami risiko pembayaran dari pembeli, perbedaan mata uang, kebutuhan asuransi, serta penggunaan layanan perbankan dalam perdagangan internasional.

Produk unggulan Sumsel berpeluang dikembangkan

Sumatera Selatan mempunyai berbagai produk yang berpotensi dipasarkan ke luar negeri, mulai dari komoditas pertanian hingga produk olahan dan kerajinan.

Mahasiswa dapat berperan mengembangkan produk tersebut melalui inovasi kemasan, pemasaran digital, pengolahan lanjutan, dan penciptaan merek.

Kampus juga dapat membantu melakukan penelitian mengenai kualitas, daya tahan, desain, dan preferensi konsumen di negara tujuan.

Melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM, mahasiswa tidak harus selalu membuat produk dari awal. Mereka dapat membantu usaha yang telah berjalan agar lebih siap memasuki pasar internasional.

Program harus menghasilkan usaha yang berkelanjutan

Keberhasilan Kampus Sekolah Ekspor nantinya tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang diterbitkan.

Program perlu menunjukkan hasil berupa usaha mahasiswa yang aktif, produk yang meningkat kualitasnya, transaksi dengan buyer, dan lapangan kerja baru.

Pendampingan sebaiknya tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai. Peserta membutuhkan konsultasi ketika mengurus legalitas, memperbaiki produk, menghadapi calon pembeli, atau menyiapkan pengiriman pertama.

Evaluasi juga perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah peserta yang berhasil mempertahankan usahanya setelah program berakhir.

Tantangan yang perlu dipersiapkan

Rencana sekolah ekspor gratis ini menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaannya.

Peserta dapat memiliki tingkat kesiapan usaha yang berbeda. Sebagian mungkin baru mempunyai ide, sedangkan yang lain sudah memiliki produk dan penjualan.

Karena itu, program dapat membagi peserta berdasarkan tahap perkembangan usaha. Materi untuk mahasiswa yang baru memulai tentu berbeda dengan peserta yang telah siap bertemu buyer.

Pemerintah dan perguruan tinggi juga perlu memastikan tutor memiliki pengalaman praktis, bukan hanya pengetahuan teoritis.

Selain itu, proses seleksi perlu dilakukan secara terbuka agar program dapat menjangkau mahasiswa yang serius mengembangkan usaha.

Diharapkan memperkuat ekonomi Sumatera Selatan

Kampus Sekolah Ekspor diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat di Sumatera Selatan.

Apabila dilaksanakan secara konsisten, program tersebut dapat mempertemukan mahasiswa, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan pembeli internasional dalam satu ekosistem.

Mahasiswa memperoleh pengetahuan serta jaringan, sedangkan daerah berpeluang melahirkan produk baru dan memperluas pasar komoditas lokal.

Pelaksanaan yang transparan, pendampingan berkelanjutan, dan akses nyata kepada buyer akan menjadi faktor penting agar gagasan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Sumber informasi: detikNews dan Kementerian Perdagangan. Artikel ini ditulis menggunakan judul, struktur, pembahasan, dan susunan kalimat baru.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna