Khazanah
Hilmi An Naufal

Tanpa Pompa Listrik, Sistem Air Ini Sudah Mengalirkan Air ke Makkah 1.200 Tahun Lalu

Tanpa Pompa Listrik, Sistem Air Ini Sudah Mengalirkan Air ke Makkah 1.200 Tahun Lalu

12 Agustus 2026 | 05:32

KebonCinta.com – Membawa air melintasi daerah berbatu dan tandus menuju Makkah bukan persoalan sederhana. Apalagi jika pekerjaan itu dilakukan lebih dari seribu tahun lalu, ketika pompa listrik, mesin berat, dan teknologi pemetaan modern belum dikenal.

Namun pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, sebuah jaringan air berhasil dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan penduduk Makkah dan jemaah haji.

Sistem itu dikenal sebagai Ain Zubaydah, jaringan saluran air yang jejaknya masih dapat ditemukan hingga sekarang. Portal resmi Discover Makkah menyebut saluran tersebut membentang dari kawasan Jabal Kara, melewati lembah dan medan berbatu, serta membantu memasok air menuju Makkah dan kawasan suci selama lebih dari 1.200 tahun.

Jika dilihat dari zamannya, tantangan pembangunannya sulit dibayangkan.

Para pekerja harus memahami dari mana air berasal, menentukan jalur yang memungkinkan air terus bergerak, membangun saluran di antara pegunungan, dan menjaga pasokan tetap tersedia di tengah iklim yang sangat kering.

Air Bisa Mengalir Tanpa Mesin Modern

Salah satu bagian yang membuat teknologi pengelolaan air kuno menarik adalah pemanfaatan gravitasi.

Air tidak harus selalu didorong menggunakan mesin. Dengan membuat saluran pada kemiringan yang sangat terukur, air dari tempat yang lebih tinggi dapat terus bergerak menuju wilayah yang lebih rendah.

Prinsip yang sama juga dikenal dalam sistem qanat, yakni jaringan terowongan bawah tanah yang mengalirkan air dari sumber atau lapisan air tanah menuju permukiman dan lahan pertanian dengan memanfaatkan gravitasi. UNESCO mencatat sistem qanat mampu mengalirkan air melalui terowongan bawah tanah hingga berkilo-kilometer.

Ain Zubaydah menggunakan konsep pengelolaan air yang menyesuaikan bentuk alam.

Sebagian jalurnya melewati permukaan, sebagian lainnya memanfaatkan saluran tertutup dan konstruksi yang mengikuti kontur kawasan sekitar Makkah.

Inilah alasan menyebutnya sekadar "parit panjang" tidak cukup menggambarkan kompleksitas sistem tersebut.

Harus Menghitung Kemiringan dengan Tepat

Persoalan terbesar dalam jaringan semacam ini bukan hanya menggali tanah.

Kemiringan jalur harus diperhitungkan.

Apabila terlalu datar, air akan sulit bergerak. Sebaliknya, kemiringan yang terlalu besar dapat membuat aliran terlalu cepat dan meningkatkan risiko kerusakan pada saluran.

UNESCO menjelaskan bahwa pada sistem qanat tradisional, ketinggian, kemiringan, dan panjang terowongan dihitung menggunakan keterampilan khusus yang diwariskan selama beberapa generasi. Air kemudian bergerak karena perbedaan ketinggian hingga keluar menuju kawasan yang akan dilayani.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan air di kawasan kering sudah membutuhkan pengetahuan mengenai topografi, konstruksi, dan perilaku aliran air jauh sebelum teknologi digital digunakan.

UNESCO bahkan menilai teknologi pengelolaan air kuno di Jazirah Arab membutuhkan pemahaman terhadap topografi setempat, material bangunan, hidrologi, serta sistem distribusi air.

Tidak Hanya Satu Saluran Panjang

Ain Zubaydah pada praktiknya merupakan sebuah jaringan.

Sumber sejarah dan kajian mengenai kanal tersebut menggambarkan adanya saluran tertutup, bagian yang berada di permukaan, titik akses, tempat penyimpanan air, serta fasilitas yang memungkinkan air digunakan sepanjang rute.

Beberapa bagian jaringan memanfaatkan jalur air dari Wadi Nu'man menuju Arafah dan kawasan sekitar Makkah.

Hal ini sangat penting karena Arafah menjadi salah satu lokasi utama dalam rangkaian ibadah haji. Kebutuhan air di kawasan tersebut dapat meningkat drastis ketika jemaah berkumpul.

Portal resmi Discover Makkah juga mendokumentasikan sisa struktur Ain Zubaydah berupa saluran, kolam penyimpanan, bendungan kecil, ruang pemeriksaan, serta jembatan yang menjadi bagian dari sistem pengairan bersejarah tersebut.

Jadi, yang dibangun bukan hanya jalur untuk membuat air bergerak dari titik A menuju titik B.

Ada infrastruktur pendukung agar air dapat dikumpulkan, diarahkan, diperiksa, dan digunakan.

Mengapa Banyak Bagian Dibuat di Bawah Tanah?

Saluran bawah tanah memiliki keuntungan besar di daerah panas dan kering.

Air yang mengalir di bawah permukaan lebih terlindung dari paparan matahari secara langsung. Sistem seperti qanat juga membantu membawa air dalam jarak jauh tanpa membutuhkan pompa mekanis.

Lubang atau poros vertikal dibuat pada titik-titik tertentu untuk membantu proses pembangunan dan perawatan terowongan.

Dari permukaan, deretan lubang tersebut dapat terlihat sederhana. Padahal di bawahnya terdapat jalur panjang yang telah dirancang agar air terus bergerak mengikuti kemiringan tanah.

Prinsip seperti ini bukan ditemukan pertama kali pada masa Abbasiyah. Teknologi qanat sendiri memiliki sejarah jauh lebih tua dan berkembang di Persia sebelum kemudian menyebar ke berbagai kawasan kering.

Yang menarik dari Ain Zubaydah adalah bagaimana teknologi pengelolaan air tersebut diterapkan dalam skala besar pada masa peradaban Islam untuk mendukung kebutuhan Makkah dan perjalanan haji.

Tantangan Medan Makkah Bukan Main-main

Melihat foto sisa Ain Zubaydah hari ini memberikan gambaran tentang medan yang harus dilewati pembangunnya.

Pegunungan berbatu, lembah, dan permukaan tanah yang tidak rata membuat jalur air tidak dapat dibangun lurus begitu saja.

Para pembangun harus menyesuaikan jalur dengan kondisi geografis.

Pada teknologi pengelolaan air kuno di Jazirah Arab, penempatan saluran, bendungan, dan fasilitas air memang sangat bergantung pada pemahaman medan. UNESCO mencatat masyarakat masa lalu memilih lokasi secara hati-hati untuk mengumpulkan dan mengarahkan air di wilayah dengan curah hujan terbatas.

Keterampilan tersebut sangat berharga karena kesalahan kecil dapat menyebabkan air tidak sampai ke tujuan.

Dibangun pada Awal Abad ke-9

Ain Zubaydah dikaitkan dengan Zubaydah binti Ja'far, istri Khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid.

Sumber resmi Makkah mencatat pembangunan jaringan tersebut pada sekitar 194 Hijriah atau 809 Masehi. Sistem ini kemudian menjadi salah satu peninggalan terkenal dalam sejarah pelayanan air bagi Makkah dan jemaah haji.

Nama Zubaydah sendiri melekat begitu kuat sehingga jaringan air tersebut akhirnya dikenal dengan namanya.

Meski telah mengalami berbagai perbaikan dan perubahan selama berabad-abad, keberadaannya menunjukkan bahwa persoalan pelayanan air bagi jemaah sudah menjadi perhatian serius sejak masa lalu.

Bertahan Melintasi Banyak Generasi

Hal lain yang membuat Ain Zubaydah menarik bukan hanya umur pembangunannya.

Jaringan ini digunakan dan dirawat selama berabad-abad.

Discover Makkah menyebut sistem tersebut memasok Makkah dan kawasan suci selama lebih dari 1.200 tahun. Saudi Press Agency juga kembali mengangkat Ain Zubaydah sebagai warisan pengelolaan air bersejarah yang mencerminkan perhatian panjang terhadap kebutuhan jemaah.

Tentu kondisi jaringan berubah seiring waktu.

Makkah kemudian berkembang pesat dan beralih menggunakan jaringan air modern. Namun sebagian struktur lama masih tersisa sebagai peninggalan arkeologis.

Foto-foto yang tersimpan di Wikimedia Commons memperlihatkan tembok, saluran, dan bagian akuaduk yang masih berdiri di sekitar Makkah.

Teknologi Canggih Tidak Selalu Harus Memakai Listrik

Hari ini, kata "teknologi" sering langsung diasosiasikan dengan komputer, kecerdasan buatan, mesin otomatis, atau perangkat elektronik.

Padahal teknologi pada dasarnya adalah cara manusia menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan.

Bagi masyarakat yang hidup di daerah kering lebih dari seribu tahun lalu, membawa air dari sumber yang jauh menuju wilayah yang ramai merupakan persoalan teknologi yang sangat besar.

Mereka memanfaatkan gravitasi, menghitung kemiringan, membaca kondisi medan, membuat terowongan, membangun reservoir, serta memikirkan cara agar jaringan tersebut dapat dirawat.

Karena itu, peninggalan seperti Ain Zubaydah bukan hanya cerita mengenai saluran air tua.

Jejaknya memperlihatkan bagaimana ilmu, rekayasa, kebutuhan manusia, dan pelayanan kepada jemaah bertemu dalam satu proyek.

Lebih dari 1.200 tahun kemudian, sebagian bangunannya mungkin sudah menjadi reruntuhan.

Namun gagasan di baliknya masih terasa modern: mencari cara paling efektif untuk membawa sumber daya yang terbatas kepada orang-orang yang paling membutuhkannya.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna