Khazanah
Hilmi An Naufal

Tipu Sultan, Harimau Mysore yang Menantang Inggris: Roket Perang hingga Pertempuran Terakhir 1799

Tipu Sultan, Harimau Mysore yang Menantang Inggris: Roket Perang hingga Pertempuran Terakhir 1799

10 Agustus 2026 | 06:56

KHAZANAH – Jauh sebelum sebagian besar India berada di bawah dominasi Inggris, sebuah kerajaan di India selatan mampu memberikan perlawanan sengit terhadap British East India Company.

Pemimpinnya bernama Tipu Sultan, penguasa Mysore yang memerintah sejak 1782 hingga kematiannya pada 1799.

Ia kemudian dikenal dengan julukan Tiger of Mysore atau Harimau Mysore.

Julukan tersebut bukan sekadar kiasan. Motif harimau muncul berulang kali pada benda-benda milik Tipu, mulai dari senjata, takhta, simbol kerajaan hingga sebuah automaton terkenal yang sekarang disimpan Victoria and Albert Museum di London.

Namun di balik simbol harimau tersebut terdapat kisah yang jauh lebih besar: persaingan kekuasaan di India selatan, perkembangan teknologi roket, hubungan diplomatik dengan Prancis, empat Perang Anglo-Mysore, serta upaya British East India Company menghancurkan salah satu lawan terkuatnya.

Siapa Sebenarnya Tipu Sultan?

Tipu Sultan adalah putra Hyder Ali, panglima yang berkembang menjadi penguasa de facto Mysore.

Tipu sudah terlibat dalam kegiatan militer sejak muda dan ikut dalam peperangan ayahnya menghadapi berbagai kekuatan regional, termasuk British East India Company. Setelah Hyder Ali meninggal pada 1782, Tipu mengambil alih kekuasaan Mysore.

Masa pemerintahannya berlangsung sekitar 17 tahun, dari 1782 sampai 1799.

Saat itu Mysore merupakan salah satu negara regional paling kuat di India selatan dan berada di tengah persaingan antara British East India Company, Maratha, Hyderabad, serta kepentingan Prancis.

Tipu memahami bahwa Inggris bukan lagi sekadar kelompok pedagang asing.

East India Company telah berubah menjadi kekuatan politik dan militer yang terus memperluas pengaruhnya di anak benua India. V&A mencatat Tipu merupakan salah satu penguasa yang dengan kuat menentang serangan tentara perusahaan tersebut terhadap kerajaannya.

East India Company Bukan Sekadar Perusahaan Dagang

British East India Company pada awalnya memang didirikan untuk berdagang.

Tetapi menjelang akhir abad ke-18, perusahaan tersebut sudah memiliki pasukan sendiri dan memperluas kekuasaan teritorial di India.

Inilah pihak yang dihadapi Hyder Ali dan kemudian Tipu Sultan.

Perseteruan Mysore dengan Inggris berkembang menjadi rangkaian empat Perang Anglo-Mysore pada paruh kedua abad ke-18.

Tipu terlibat dalam beberapa di antaranya sebelum menjadi sultan dan kemudian memimpin Mysore secara langsung.

Situasi tersebut menjadikan India selatan bukan hanya medan konflik lokal, tetapi bagian dari persaingan kekuatan internasional, terutama antara Inggris dan Prancis.

Salah Satu Kekalahan Inggris Terjadi di Pollilur

Salah satu pertempuran yang paling sering dikaitkan dengan kekuatan militer Mysore adalah Battle of Pollilur pada 1780.

Saat itu Tipu masih berperang bersama kekuatan ayahnya, Hyder Ali.

Pasukan Mysore berhasil memberikan kekalahan besar kepada pasukan East India Company yang dipimpin Kolonel William Baillie.

Pertempuran ini juga terkenal karena penggunaan teknologi roket Mysore.

Roket tersebut mempunyai tabung besi sebagai tempat bahan pendorong. Penggunaan besi memungkinkan tekanan lebih tinggi dibanding banyak roket sebelumnya yang menggunakan wadah lebih lemah, sehingga meningkatkan kemampuan senjata tersebut.

Dalam peperangan, roket dapat diluncurkan secara massal untuk menciptakan kerusakan sekaligus kekacauan di antara pasukan lawan.

Teknologi inilah yang kemudian menarik perhatian Inggris.

Tipu Sultan Mengembangkan Pasukan Roket

Sering muncul klaim bahwa Tipu Sultan adalah “penemu roket pertama di dunia”.

Kalimat tersebut terlalu berlebihan.

Roket sudah dikenal jauh sebelum zaman Tipu.

Yang lebih tepat adalah bahwa Mysore di bawah Hyder Ali dan Tipu Sultan mengembangkan serta menggunakan roket berlapis besi secara efektif sebagai senjata militer.

Tipu kemudian memperluas penggunaannya.

Pasukan roket ditempatkan dalam unit-unit tentara Mysore dan digunakan dalam Perang Anglo-Mysore. V&A bahkan mencatat para prajurit yang menembakkan roket berlapis besi tersebut mengenakan pakaian dengan motif garis harimau.

Setelah Mysore dikalahkan pada 1799, Inggris memperoleh contoh teknologi roket tersebut.

Pengalaman menghadapi roket Mysore kemudian ikut memengaruhi pengembangan roket Inggris yang dikenal sebagai Congreve rocket pada awal abad ke-19.

Dengan demikian, warisan militer Tipu tidak berhenti ketika kerajaannya jatuh.

Teknologi yang digunakan untuk melawan Inggris justru kemudian dipelajari dan dikembangkan lebih lanjut oleh Inggris sendiri.

Menjadi Sultan di Tengah Perang

Tipu naik menjadi penguasa Mysore ketika Perang Anglo-Mysore Kedua masih berlangsung.

Ayahnya meninggal pada 1782, tetapi perang belum selesai.

Tipu kemudian melanjutkan pertempuran sampai akhirnya tercapai Treaty of Mangalore pada 1784. Perjanjian tersebut pada dasarnya mengembalikan keadaan teritorial mendekati kondisi sebelum perang.

Keberhasilan mencapai perjanjian dengan East India Company menunjukkan bahwa Mysore saat itu bukan lawan kecil yang dapat dengan mudah ditaklukkan.

Namun perdamaian tersebut tidak bertahan selamanya.

Hubungan Tipu dengan Inggris kembali memburuk pada akhir dekade 1780-an.

Serangan ke Travancore Memicu Perang Berikutnya

Pada 1789, Tipu menyerang Travancore, sebuah kerajaan yang mempunyai hubungan dengan British East India Company.

Peristiwa tersebut menjadi pemicu utama Perang Anglo-Mysore Ketiga.

Kali ini posisi Tipu jauh lebih sulit.

Ia tidak hanya berhadapan dengan Inggris.

Pasukan British East India Company membangun koalisi bersama kekuatan Maratha dan Hyderabad, sehingga Mysore harus menghadapi tekanan dari berbagai arah.

Perang berlangsung sampai 1792.

Pasukan koalisi akhirnya mampu mengepung Seringapatam atau Srirangapatna, ibu kota Tipu.

Tipu dipaksa menyetujui Treaty of Seringapatam dan kehilangan sebagian besar wilayahnya kepada pihak pemenang.

Dua Putranya Sampai Dijadikan Sandera

Salah satu bagian paling dramatis dari perjanjian tersebut adalah penyerahan dua putra Tipu sebagai sandera sementara untuk menjamin pemenuhan kewajiban pembayaran kepada pihak pemenang.

Bagi Tipu, kekalahan 1792 merupakan pukulan politik yang berat.

Tetapi ia tidak menyerah menjadi penguasa bawahan yang pasif.

Selama beberapa tahun berikutnya, Tipu berupaya membangun kembali kekuatan kerajaan dan mencari jalan untuk menghadapi ancaman Inggris.

Salah satu strateginya adalah mencari dukungan luar negeri.

Tipu Mencari Bantuan Prancis

Hubungan Tipu dengan Prancis merupakan bagian penting dari kisahnya.

Inggris dan Prancis pada abad ke-18 merupakan dua kekuatan Eropa yang bersaing secara global, termasuk di India.

Karena Inggris menjadi lawan utama Mysore, Prancis secara alami menjadi calon sekutu penting.

V&A mencatat pasukan Prancis pernah memberi dukungan kepada Tipu dalam konflik melawan Inggris. Setelah Perjanjian Paris 1783 mengurangi kemampuan Prancis menantang kepentingan Inggris secara langsung di India, Tipu tetap berusaha memperoleh dukungan Prancis.

Pada 1788, Tipu mengirim tiga utusan ke Paris untuk bertemu Raja Louis XVI.

Mereka datang membawa hadiah dan berusaha mendapatkan sebuah aliansi resmi.

Usaha diplomasi itu menunjukkan Tipu memahami bahwa perang melawan Inggris tidak hanya dapat dimainkan di tingkat regional.

Ia mencoba memasukkan Mysore ke dalam jaringan persaingan geopolitik internasional.

Napoleon Membuat Inggris Semakin Khawatir

Situasi menjadi semakin sensitif ketika Napoleon Bonaparte menyerbu Mesir pada 1798.

Bagi Inggris, ekspansi Prancis ke Mesir menimbulkan kekhawatiran terhadap jalur menuju India.

Pada saat bersamaan, hubungan Tipu dengan pihak Prancis membuat Mysore kembali dipandang sebagai ancaman strategis. Sumber sejarah mengenai kebijakan Richard Wellesley mencatat hubungan Tipu dengan Prancis menjadi salah satu faktor penting dalam kekhawatiran Inggris terhadap Mysore.

British East India Company kemudian bergerak untuk mengakhiri ancaman tersebut.

Perang terakhir pun dimulai.

1799, Inggris Menyerang Mysore

Pada Perang Anglo-Mysore Keempat, posisi Tipu jauh lebih buruk dibanding masa awal kariernya.

Inggris datang bersama kekuatan sekutu dan mengepung pusat pertahanan Mysore di Seringapatam.

Pada akhirnya pasukan gabungan berhasil menembus benteng pada 4 Mei 1799.

Pertempuran berlangsung di dalam dan sekitar pertahanan kota.

Tipu tidak melarikan diri.

Ia ditemukan tewas setelah bertempur mempertahankan ibu kotanya. Oxford Reference mencatat 1799 sebagai tahun ketika penguasa Mysore tersebut terbunuh saat melawan Inggris di Seringapatam.

Kematiannya praktis mengakhiri kekuasaan dinasti yang dibangun Hyder Ali dan Tipu.

Inggris Menjarah Istana Setelah Kemenangan

Setelah Seringapatam jatuh, pasukan pemenang memasuki kota dan mengambil berbagai benda dari lingkungan istana.

V&A mencatat rumah-rumah penduduk juga dijarah setelah serangan terakhir, hingga kemudian dilakukan tindakan untuk memulihkan ketertiban.

Barang-barang milik Tipu kemudian tersebar.

Sebagian dibagikan sebagai rampasan kepada tentara dan pejabat.

Salah satu benda yang kemudian dibawa ke Inggris adalah sebuah karya yang kini menjadi sangat terkenal:

Tipu's Tiger.

Tipu's Tiger Menampilkan Harimau Menerkam Orang Eropa

Tipu's Tiger merupakan automaton kayu berukuran hampir seperti harimau asli.

Benda tersebut menggambarkan seekor harimau sedang menerkam seorang pria Eropa yang terbaring.

Di dalam tubuh harimau terdapat mekanisme organ. Ketika pegangan diputar, lengan korbannya bergerak dan alat tersebut menghasilkan suara yang dibuat menyerupai erangan manusia.

Setelah Tipu meninggal, benda itu dikirim ke London dan dipamerkan di museum milik East India Company.

Kini Tipu's Tiger menjadi salah satu koleksi terkenal Victoria and Albert Museum.

Benda tersebut memberikan gambaran jelas mengenai betapa kuatnya simbol harimau dalam identitas Tipu.

Mengapa Dijuluki Harimau Mysore?

Tipu tidak hanya memiliki satu benda berbentuk harimau.

V&A mencatat simbol dan pola harimau digunakan secara luas dalam lingkungan kerajaannya.

Motif tersebut terdapat pada:

takhta → koin → pedang → senapan → meriam → pakaian pasukan.

Bahkan beberapa ujung dekoratif takhtanya berbentuk kepala harimau.

Karena penggunaannya begitu luas, harimau berkembang menjadi bagian dari citra kekuasaan Tipu.

Julukan Tiger of Mysore yang kemudian melekat kepadanya menjadi sangat masuk akal dalam konteks simbol tersebut.

Setelah Tipu Tewas, Mysore Berubah Total

Kematian Tipu pada 1799 memberikan keuntungan besar kepada British East India Company.

Sebagian wilayah Mysore dibagi antara pihak-pihak pemenang, sedangkan keluarga Wadiyar, yang sebelumnya memerintah sebelum kebangkitan Hyder Ali, kembali ditempatkan sebagai penguasa pada wilayah Mysore yang tersisa.

Namun struktur kekuasaan sekarang sangat berbeda.

Pengaruh British East India Company menjadi jauh lebih besar.

Jatuhnya Mysore menghilangkan salah satu kekuatan regional yang selama beberapa dekade mampu memberikan perlawanan serius terhadap ekspansi Inggris di India selatan.

Apakah Tipu Sultan Benar-Benar Pahlawan?

Di sinilah sejarah Tipu menjadi lebih rumit.

Dalam narasi tertentu, ia dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme Inggris.

Fakta bahwa ia berulang kali berperang melawan British East India Company dan akhirnya meninggal ketika mempertahankan Seringapatam memang menjadi dasar kuat bagi citra tersebut.

Namun menggambarkan seluruh pemerintahannya sebagai kisah pahlawan tanpa kontroversi juga kurang tepat.

Tipu adalah penguasa abad ke-18 yang membangun negara militer kuat dan berusaha memperluas serta mengonsolidasikan kekuasaannya. Kajian Cambridge mengenai struktur negara Mysore mencatat pemerintahannya meningkatkan kontrol langsung negara, sementara studi mengenai tenaga militer India selatan juga membahas penggunaan metode koersif dalam konsolidasi wilayah.

Pemerintahannya juga masih menjadi perdebatan dalam historiografi modern, terutama mengenai kebijakannya terhadap sejumlah kelompok di wilayah yang ditaklukkannya.

Karena itu, Tipu lebih tepat dipahami sebagai tokoh sejarah yang kompleks daripada sekadar pahlawan sempurna atau tiran semata.

Propaganda Inggris Juga Membentuk Citra Tipu

Citra Tipu setelah kematiannya tidak dibentuk hanya oleh peristiwa yang benar-benar terjadi.

British East India Company juga mempunyai kepentingan untuk menggambarkan lawannya sebagai ancaman besar.

Semakin mengerikan sosok Tipu di mata publik Inggris, semakin mudah kemenangan atas Mysore dipresentasikan sebagai prestasi besar imperial. Studi mengenai representasi kolonial Tipu menunjukkan bagaimana sosok “Tiger of Mysore” kemudian memperoleh makna politik dalam wacana Inggris.

Tipu's Tiger bahkan memiliki kehidupan baru di London.

Benda yang awalnya melambangkan harimau menyerang orang Eropa justru dipamerkan kepada masyarakat Inggris setelah pemiliknya dikalahkan.

Ironisnya, salah satu simbol kebenciannya terhadap lawan kemudian menjadi barang museum paling terkenal milik negara yang mengalahkannya.

Warisan Tipu Tidak Berakhir pada 1799

Lebih dari dua abad setelah kematiannya, nama Tipu Sultan masih terus dibicarakan.

Di satu sisi, ia dikenang karena perlawanan terhadap East India Company, reformasi negara, diplomasi internasional dan penggunaan teknologi roket.

Di sisi lain, kebijakan perang serta perlakuannya terhadap sejumlah penduduk di wilayah yang ditaklukkan masih menjadi objek perdebatan sejarah dan politik.

Yang sulit dibantah adalah posisi Mysore pada zamannya.

Tipu memimpin salah satu negara regional yang cukup kuat untuk membuat British East India Company harus menjalankan beberapa perang besar sebelum akhirnya dapat menghancurkan pemerintahannya.

Sang Harimau Akhirnya Tumbang, tetapi Inggris Tidak Melupakan Senjatanya

Ada sebuah ironi menarik dari cerita ini.

Tipu Sultan tewas ketika mempertahankan Seringapatam pada 1799.

Kerajaannya dikalahkan.

Sebagian hartanya dijadikan rampasan.

Simbol harimaunya dibawa ke Inggris.

Namun teknologi roket yang digunakan pasukannya justru menarik perhatian pihak pemenang dan ikut memberi inspirasi bagi pengembangan roket militer Inggris pada awal abad ke-19.

Dengan demikian, kekalahan tidak menghapus seluruh pengaruh Mysore.

Dalam sejarah persenjataan, simbol kekuasaan, hingga perjalanan kolonial Inggris di India, nama Tipu tetap muncul.

Kisah Tipu Sultan akhirnya bukan hanya tentang seorang raja yang berperang melawan Inggris.

Ini adalah cerita tentang teknologi, perdagangan, imperialisme, aliansi internasional, ambisi kerajaan, propaganda dan perjuangan mempertahankan kekuasaan pada masa ketika peta India sedang berubah dengan cepat.

Dan di tengah perubahan tersebut berdiri seorang sultan dengan lambang harimau yang selama hampir dua dekade membuat East India Company harus memperhitungkan Mysore sebagai salah satu lawan terberatnya.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna