Viral di Media Sosial, Apa Sebenarnya Gentle Parenting? Yuk Simak Bareng-bareng!

Viral di Media Sosial, Apa Sebenarnya Gentle Parenting? Yuk Simak Bareng-bareng!

09 Desember 2025 | 19:16

Keboncinta.com-- Kata gentle parenting semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan orang tua Milenial yang mencari pendekatan pengasuhan yang lebih manusiawi.

Pola asuh ini menekankan empati, komunikasi, dan rasa hormat, bukan teriakan atau hukuman. Menurut Parents, gentle parenting adalah cara mengasuh anak secara lembut dengan mengajak mereka berdiskusi, memahami kebutuhannya, dan tetap menetapkan batasan yang jelas.

Danielle Sullivan, seorang pelatih parenting dari Colorado, menyebut pendekatan ini sebagai pola asuh kolaboratif. Artinya, anak tidak diperlakukan sebagai objek yang harus patuh, tetapi sebagai individu yang memiliki perasaan dan pandangan yang perlu dihargai.

Sebagai hasilnya, anak yang dibesarkan dengan cara ini cenderung lebih percaya diri, mampu menyampaikan pendapat, sekaligus tetap memahami batasan tanpa kehilangan rasa hormat.

Baca Juga: Tahun 2026 Hadirkan 9 Long Weekend: Pemerintah Tetapkan 17 Hari Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama

Popularitas gentle parenting semakin meningkat berkat berbagai konten kreator TikTok, salah satunya Taylor Wolfe. Ia sering membuat perbandingan lucu antara pola asuh tradisional dan gaya gentle parenting.

Misalnya, ketika ibunya memuji cucunya dengan kalimat “I’m so proud of you”, Wolfe mengoreksi dengan ungkapan “Good choice” agar fokus apresiasi tetap pada pilihan anak, bukan pada penilaian orang dewasa.

Namun di balik citranya yang positif, gentle parenting bukan tanpa tantangan. Lauren Barth, penulis di The Bump, mengaku sering gagal menerapkan pola asuh ini.

Saat anak sedang rewel, ia kadang kembali ke gaya pengasuhan tegas bahkan keras. Ia menegaskan bahwa orang tua juga manusia yang memiliki batas kesabaran, sehingga wajar jika tidak selalu bisa konsisten bersikap lembut.

Sejumlah psikolog juga menilai gentle parenting berpotensi terlalu lunak jika tidak dibarengi dengan batasan jelas. Ada yang menilai pendekatan ini serupa dengan authoritative parenting atau emotional coaching, hanya berbeda label.

Baca Juga: Guru harus Tahu Ini! PP 17/2020 Tegaskan Guru Berhak atas Cuti Tahunan Resmi, Bukan Sekadar Libur Sekolah

Selain itu, efektivitas gentle parenting juga belum sepenuhnya diperkuat oleh penelitian ilmiah.

Data dari Pew Research Center (2023) mengungkapkan bahwa 44% orang tua ingin menerapkan pola asuh yang berbeda dari generasi sebelumnya. Inilah salah satu alasan mengapa gentle parenting menjadi pilihan populer sebagai bentuk peralihan dari gaya pengasuhan keras yang dianggap tidak lagi relevan.

Menurut Aninda, M.Psi., praktisi psikologi anak, gentle parenting bisa dimulai dari hal sederhana, yakni memvalidasi perasaan anak.

Saat anak marah atau sedih, orang tua dianjurkan untuk mendampingi, mendengarkan, dan mengarahkan emosi mereka, bukan langsung menghukum.

“Gentle parenting bukan berarti memanjakan, melainkan membantu anak belajar mengelola emosinya,” ujarnya. Namun demikian, batasan tetap diperlukan agar anak belajar memahami tanggung jawab.

Baca Juga: Palung vs Selat: Mengenal Perbedaan Besar Dua Fitur Penting di Lautan

Pada akhirnya, tidak ada pola asuh yang sempurna. Gentle parenting hanyalah salah satu pendekatan yang bisa dijadikan inspirasi.

Yang terpenting adalah konsistensi, komunikasi, dan kemauan orang tua untuk terus belajar memahami karakter anak.***

 

Tags:
Tren Anak Muda Pola Asuh Anak Parenting

Komentar Pengguna