Keboncinta.com-- Kombucha sering disebut sebagai minuman herbal yang kaya akan bakteri baik. Di dalam cairan asam segar ini, terdapat koloni mikroorganisme yang aktif bekerja, tumbuh, dan berfermentasi. Jika dirawat dengan benar, kombucha bisa terus diproduksi berulang kali dari satu kultur yang sama. Tapi kalau perawatannya asal-asalan, jangan kaget kalau rasanya berubah aneh, berjamur, atau bahkan pahit.
Kunci utama merawat kombucha sebenarnya sederhana: kebersihan, konsistensi, dan perhatian. Kultur kombucha yang sering disebut SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) adalah koloni simbiosis bakteri dan ragi. Mikroorganisme ini bekerja mengubah gula menjadi asam organik, sedikit karbonasi, dan berbagai senyawa yang membuat rasa kombucha khas. Karena ia makhluk hidup, ia sensitif terhadap lingkungan.
Hal pertama yang perlu dijaga adalah kebersihan alat. Stoples kaca adalah pilihan terbaik karena tidak bereaksi dengan asam hasil fermentasi. Hindari wadah logam atau plastik yang tidak food grade. Sendok pengaduk sebaiknya dari kayu atau silikon. Tangan pun harus bersih saat menyentuh SCOBY. Kontaminasi kecil saja bisa memicu tumbuhnya jamur, dan kalau sudah berjamur, kultur harus dibuang demi keamanan.
Suhu juga memegang peran penting. Kombucha idealnya difermentasi di suhu ruangan hangat, sekitar 24–28 derajat Celsius. Terlalu dingin membuat fermentasi melambat dan rasa jadi hambar. Terlalu panas justru bisa membuat kultur stres dan menghasilkan rasa terlalu asam. Menaruhnya di tempat teduh, jauh dari sinar matahari langsung, adalah keputusan bijak. Kombucha tidak suka “berjemur”.
Pakan utama SCOBY adalah teh dan gula. Gunakan teh hitam atau teh hijau murni tanpa tambahan perisa. Gula putih biasa justru paling aman karena mudah diurai oleh ragi. Banyak yang tergoda mengganti gula dengan madu atau gula aren demi kesan lebih sehat, tapi perubahan ini bisa mengganggu keseimbangan mikroorganisme, terutama jika belum berpengalaman.