Keboncinta.com-- Istilah “puber kedua” sering kali muncul dalam percakapan santai. Biasanya dilekatkan pada orang dewasa yang tiba-tiba berubah: jadi lebih perhatian pada penampilan, lebih emosional, mendadak ingin mencoba hal-hal baru, atau bahkan bersikap seperti remaja lagi. Tidak jarang pula istilah ini dipakai dengan nada bercanda atau sindiran. Tapi pertanyaannya, apakah puber kedua memang benar-benar ada secara medis? Atau sekadar istilah populer untuk menggambarkan fase tertentu dalam hidup?
Secara ilmiah, pubertas adalah proses biologis yang terjadi satu kali dalam kehidupan, biasanya di masa remaja. Pada fase ini, tubuh mengalami perubahan hormon besar-besaran, terutama peningkatan hormon testosteron pada laki-laki dan estrogen pada perempuan. Perubahan ini dipicu oleh kerja kompleks antara hipotalamus, kelenjar pituitari, dan organ reproduksi. Jadi, jika berbicara dalam konteks medis murni, pubertas memang tidak terjadi dua kali.
Namun, kehidupan manusia tidak hanya soal definisi medis. Ada fase-fase psikologis dan hormonal lain yang bisa terasa seperti “puber ulang”.
Pada perempuan, misalnya, menjelang usia 40–50 tahun, tubuh mulai memasuki masa perimenopause, yaitu masa transisi sebelum menopause. Di fase ini, kadar estrogen naik-turun secara tidak stabil. Perubahan ini bisa memengaruhi suasana hati, energi, pola tidur, bahkan kepercayaan diri. Banyak perempuan merasa lebih sensitif, lebih reflektif, atau justru lebih berani mengekspresikan diri. Fenomena ini sering disalahartikan sebagai puber kedua, padahal secara medis ia adalah bagian dari proses menuju menopause.
Pada laki-laki, ada istilah andropause, meski tidak sejelas menopause pada perempuan. Kadar testosteron memang bisa menurun perlahan setelah usia 30–40 tahun. Penurunan ini dapat berdampak pada energi, mood, dan minat terhadap berbagai hal. Dalam beberapa kasus, perubahan ini membuat seseorang lebih memperhatikan penampilan, kesehatan, atau pencapaian hidupnya. Dari luar, perubahan sikap ini bisa terlihat seperti “remaja lagi”, padahal sebenarnya tubuh sedang menyesuaikan diri dengan perubahan hormonal alami.
Selain faktor biologis, ada aspek psikologis yang tak kalah penting. Psikolog perkembangan seperti Erik Erikson menjelaskan bahwa manusia melewati tahapan perkembangan psikososial sepanjang hidupnya. Di usia dewasa tengah, seseorang sering memasuki fase refleksi besar: mempertanyakan makna hidup, pencapaian, relasi, dan tujuan. Jika merasa ada yang kurang, ia bisa terdorong melakukan perubahan drastis.