KHAZANAH – Selama berabad-abad, mereka menjadi salah satu simbol kekuatan militer Kesultanan Utsmani.
Mereka bukan pasukan berkuda yang berpindah cepat di padang terbuka.
Mereka adalah infanteri tetap yang berada langsung dalam lingkungan militer Sultan.
Namanya Janissari atau Yeniçeri.
Dalam bahasa Turki Utsmani, yeniçeri secara sederhana berarti “prajurit baru” atau “pasukan baru”.
Korps tersebut berkembang pada abad ke-14 dan kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam transformasi Utsmani dari sebuah kekuatan perbatasan di Anatolia menjadi kerajaan yang menguasai wilayah luas di Eropa Tenggara, Asia Barat dan Afrika Utara. Kajian Cambridge menempatkan Janissari sebagai salah satu unsur penting dalam perkembangan kekuatan militer Utsmani sejak periode awal ekspansinya.
Namun sejarah mereka tidak hanya berisi peperangan dan kemenangan.
Janissari juga mempunyai sejarah tentang pengambilan anak-anak Kristen melalui devşirme, disiplin keras, mobilitas sosial, penggunaan senjata api, perebutan pengaruh politik, pemberontakan terhadap Sultan hingga penghancuran korps tersebut oleh Sultan Mahmud II pada 1826.
Karena itu, sejarah Janissari jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita tentang “pasukan paling ditakuti Eropa”.
Tidak ada satu tanggal pendirian yang sepenuhnya disepakati semua sejarawan.
Secara umum, korps Janissari berkembang pada abad ke-14, ketika negara Utsmani membutuhkan pasukan yang mempunyai hubungan langsung dan loyalitas kepada Sultan.
Kajian Cambridge mengenai Janissari menjelaskan bahwa sejak awal korps tersebut merupakan infanteri dan tentara tetap, berbeda dari berbagai unsur militer lain yang dapat dimobilisasi hanya ketika perang terjadi.
Model ini penting bagi kekuasaan Sultan.
Penguasa tidak harus sepenuhnya bergantung pada bangsawan daerah atau kelompok prajurit yang mempunyai loyalitas kepada pemimpin lokal.
Janissari menjadi bagian dari kapıkulu, yakni kelompok pelayan atau prajurit rumah tangga Sultan.
Hubungan tersebut membuat pusat pemerintahan memiliki kekuatan bersenjata yang semakin langsung berada di bawah kendalinya.
Kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah anggapan bahwa sejak hari pertama Janissari seluruhnya berasal dari anak-anak Balkan yang diambil melalui devşirme.
Kenyataannya lebih rumit.
Pembentukan awal pasukan berkaitan dengan tawanan perang dan budak yang menjadi bagian dari hak Sultan, kemudian sistem perekrutan berkembang semakin terorganisasi.
Devşirme akhirnya menjadi salah satu sumber utama tenaga manusia bagi aparatur militer dan administrasi Utsmani pada periode klasik.
Jadi devşirme dan Janissari memang sangat berkaitan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya identik sepanjang sejarahnya.
Devşirme merupakan sistem pengambilan anak laki-laki dari keluarga Kristen di wilayah Utsmani, terutama kawasan Balkan.
Kajian sejarah yang diterbitkan Belleten menjelaskan petugas Utsmani mengambil anak laki-laki dari komunitas Kristen—termasuk Yunani, Serbia, Bulgaria dan Albania—untuk memenuhi kebutuhan administrasi dan militer negara.
Anak-anak tersebut kemudian melalui proses seleksi.
Mereka dibawa masuk ke dalam sistem negara, dididik dalam lingkungan Islam dan Utsmani serta dipersiapkan untuk menjalankan berbagai tugas.
Bagian inilah yang kadang dibuat terlalu romantis dalam cerita populer.
Devşirme bukan sekadar:
“sekolah gratis bagi anak-anak miskin yang ingin menjadi tentara.”
Sistem tersebut mempunyai unsur pemaksaan dan perbudakan negara, termasuk pengambilan anak dari keluarga Kristen serta konversi ke Islam. Kajian Cambridge mengenai hubungan perbudakan dan pembentukan negara secara eksplisit menggambarkan banyak pejabat dan prajurit tersebut sebagai mantan Kristen yang diperbudak, dikonversi secara paksa dan kemudian dimasukkan ke pelayanan Utsmani.
Karena itu, sisi tersebut tidak boleh dihapus ketika menceritakan kehebatan militer Janissari.
Ini fakta lain yang sering disalahpahami.
Setelah sampai di pusat pemerintahan, para rekrutan menjalani proses seleksi kembali.
Anak-anak yang dinilai sangat potensial dapat diarahkan menuju pendidikan istana dan kemudian mempunyai peluang masuk ke jalur pemerintahan.
Sementara kelompok lainnya masuk ke sistem acemi oğlan, atau para pemuda calon anggota korps militer.
Sebagian terlebih dahulu ditempatkan bersama keluarga Muslim Turki di Anatolia selama beberapa tahun untuk mempelajari bahasa, kebiasaan dan kehidupan masyarakat Utsmani sebelum melanjutkan pendidikan militer.
Dengan demikian:
devşirme tidak otomatis berarti Janissari.
Sistem yang sama juga menghasilkan berbagai pejabat pemerintahan dan tokoh penting istana.
Inilah paradoks besar dalam sistem tersebut.
Pada satu sisi, proses perekrutannya bersifat koersif.
Pada sisi lain, sistem Utsmani memungkinkan sebagian orang yang masuk melalui jalur tersebut memperoleh mobilitas sosial sangat tinggi.
Kajian Cambridge mencatat sejumlah mantan Kristen yang masuk dalam sistem perbudakan negara kemudian dapat menduduki posisi penting hingga menjadi pejabat tingkat atas dan bahkan Grand Vizier, jabatan yang kira-kira merupakan kepala pemerintahan di bawah Sultan.
Karena itu, kisah devşirme tidak tepat jika hanya dilihat dari salah satu ujung.
Mengatakan:
“semuanya korban tanpa kesempatan apa pun”
terlalu sederhana.
Tetapi mengatakan:
“semua keluarga dengan senang hati menyerahkan anaknya karena pasti menjadi orang sukses”
juga menyesatkan.
Sejarahnya mengandung sekaligus paksaan, perbudakan, pendidikan negara dan peluang mobilitas sosial yang tidak biasa untuk zamannya.
Setelah melewati pendidikan awal, calon Janissari menjalani kehidupan yang sangat teratur.
Mereka dilatih dalam lingkungan militer dengan disiplin tinggi dan diarahkan menjadi prajurit profesional.
Pada masa awal, kehidupan mereka diatur cukup ketat.
Kajian Cambridge mencatat anggota Janissari pada awalnya tidak diperbolehkan menikah, meskipun aturan tersebut kemudian dilonggarkan pada periode berikutnya.
Tujuannya adalah membuat anggota korps mempunyai ikatan kuat terhadap institusi militer dan Sultan.
Tidak seperti pasukan yang hanya dipanggil ketika perang, Janissari merupakan standing army atau pasukan tetap.
Mereka menerima gaji dan mempunyai organisasi internal tersendiri.
Inilah yang membuat mereka menjadi instrumen penting dalam proses sentralisasi kekuasaan Utsmani.
Janissari memang mempunyai hubungan langsung dengan Sultan dan dapat menjalankan fungsi pengamanan.
Namun perannya jauh lebih luas.
Mereka merupakan infanteri tempur yang digunakan dalam berbagai kampanye militer Utsmani.
Metropolitan Museum of Art menggambarkan Janissari sebagai korps elite Sultan yang terorganisasi, berseragam dan kemudian dikenal menggunakan berbagai senjata termasuk musket, kapak dan granat.
Jadi mereka bukan pasukan seremonial yang hanya menjaga pintu istana.
Ketika perang terjadi, Janissari dapat ditempatkan pada bagian penting formasi tempur Utsmani.
Perkembangan Janissari juga berkaitan dengan revolusi teknologi militer.
Kajian Journal of Global History dari Cambridge mencatat pasukan Utsmani sudah menggunakan senjata api sejak sekitar 1380-an.
Sepanjang abad ke-15, Utsmani membangun jaringan produksi meriam dan meningkatkan penggunaan senjata api genggam dalam pasukannya, terutama di kalangan Janissari yang berada langsung di bawah Sultan.
Artinya Janissari tidak hanya terkenal karena disiplin.
Mereka juga menjadi bagian dari kemampuan Utsmani untuk mengadaptasi teknologi bubuk mesiu.
Namun jangan dibuat menjadi klaim:
“Janissari adalah penemu senapan.”
Senjata bubuk mesiu berasal dari sejarah teknologi yang jauh lebih luas dan berkembang lintas Asia, Timur Tengah dan Eropa.
Yang menonjol dari Utsmani adalah kemampuannya mengorganisasi penggunaan teknologi tersebut dalam sistem militer kerajaan.
Ketika Sultan Mehmed II mengepung Konstantinopel pada 1453, Janissari sudah menjadi bagian penting dari sistem militer Utsmani.
Pada 29 Mei 1453, pertahanan Bizantium akhirnya runtuh dan Mehmed II menguasai kota tersebut, mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur.
Janissari terlibat dalam operasi militer era tersebut.
Namun sekali lagi, jangan menulis seolah-olah:
“Konstantinopel jatuh hanya karena Janissari.”
Pasukan Utsmani merupakan sistem yang jauh lebih besar.
Keberhasilan 1453 melibatkan artileri berat, pasukan infanteri, pasukan berkuda, armada, teknik pengepungan, logistik serta kepemimpinan Mehmed II. Kajian Cambridge menempatkan kemenangan tersebut dalam perkembangan menyeluruh kekuatan militer Utsmani, bukan keberhasilan satu korps saja.
Janissari adalah bagian penting dari mesin perang tersebut, tetapi bukan satu-satunya komponennya.
Setelah 1453, ekspansi Utsmani terus berlangsung.
Cambridge mencatat kemenangan besar pada masa berikutnya termasuk melawan Safawi di Chaldiran pada 1514, Mamluk di Suriah dan Mesir pada 1516–1517, serta Hungaria di Mohács pada 1526.
Pada masa ini, Janissari berada di dalam struktur militer pusat yang semakin matang.
Mereka mempunyai kemampuan tempur, kedekatan dengan Sultan serta status yang membuat korps tersebut semakin berpengaruh.
Tetapi keberhasilan besar justru menanam benih masalah baru.
Ketika kelompok militer memperoleh prestise, penghasilan, jaringan sosial dan akses dekat ke pusat kekuasaan, pengaruhnya tidak lagi hanya berada di medan perang.
Seiring waktu, karakter korps berubah.
Aturan perekrutan yang sebelumnya ketat mulai dilonggarkan.
Anggota Janissari juga semakin terhubung dengan kehidupan ekonomi kota, termasuk aktivitas perdagangan dan kelompok pengrajin.
Penelitian Oxford terbaru mengenai kehidupan politik perkotaan Utsmani menekankan bahwa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, Janissari tidak hanya berfungsi sebagai prajurit.
Mereka telah menjadi aktor sosial, ekonomi dan politik di kota-kota Utsmani.
Bahkan banyak kedai kopi di Istanbul mempunyai hubungan dengan anggota Janissari.
Tempat-tempat tersebut menjadi ruang pertemuan, pertukaran informasi hingga pembentukan opini politik.
Jadi istilah:
“Janissari berubah menjadi tentara malas.”
terlalu sederhana.
Transformasinya jauh lebih kompleks.
Mereka mengalami proses integrasi dengan masyarakat kota dan memperoleh kepentingan ekonomi serta politik yang semakin besar.
Ironinya semakin terlihat.
Janissari awalnya dibentuk sebagai kekuatan yang loyal langsung kepada Sultan.
Namun berabad-abad kemudian, korps tersebut mempunyai kemampuan untuk ikut menentukan politik istana.
Mereka dapat memprotes kebijakan.
Mendukung atau menentang pejabat.
Melakukan pemberontakan.
Bahkan seorang Sultan dapat kehilangan takhta ketika konflik dengan Janissari menjadi terlalu besar.
Salah satu contoh paling dramatis terjadi pada 1622.
Sultan Osman II dibunuh dalam pergolakan politik yang melibatkan Janissari. Penelitian Cambridge mengenai kronik seorang mantan Janissari bernama Tûghî bahkan secara khusus membahas tanggung jawab kelompok militer tersebut dalam pembunuhan Osman II.
Pada titik ini terlihat perubahan luar biasa:
pasukan yang seharusnya melindungi kekuasaan Sultan telah mempunyai pengaruh cukup besar untuk menjadi ancaman terhadap Sultan sendiri.
Narasi lama sering menceritakan periode akhir Janissari dengan cara sangat sederhana.
Mereka disebut:
korup,
malas,
menolak teknologi,
dan menjadi penyebab seluruh kemunduran Utsmani.
Sejarah modern lebih berhati-hati.
Janissari telah berkembang menjadi kelompok sosial dengan kepentingan ekonomi dan politik sendiri. Mereka juga melihat partisipasi dalam urusan negara sebagai sesuatu yang dianggap bagian dari hak dan identitas politik mereka.
Dari perspektif Sultan dan kelompok reformis, perilaku tersebut tampak sebagai penghalang modernisasi.
Dari sisi Janissari, perubahan militer dapat berarti hilangnya:
pekerjaan, status, pendapatan, jaringan sosial dan kekuatan politik.
Itulah mengapa konflik reformasi menjadi begitu keras.
Pada akhir abad ke-18, Kesultanan Utsmani menghadapi tekanan militer berat dari kekuatan Eropa, terutama Rusia dan Austria.
Sultan Selim III kemudian menjalankan reformasi yang dikenal sebagai Nizam-i Cedid atau New Order.
Salah satu bagian terpentingnya adalah pembentukan pasukan baru yang menggunakan organisasi dan latihan bergaya Eropa.
Bagi Janissari, muncul pertanyaan besar:
jika tentara baru menjadi semakin kuat, apa yang akan terjadi dengan korps mereka?
Oxford mencatat Janissari menentang reformasi tersebut karena khawatir tentara baru akan menggantikan kedudukan mereka.
Konflik akhirnya meledak.
Pada 1807, Janissari di Istanbul melakukan pemberontakan.
Mereka memaksa pembubaran New Order dan Sultan Selim III kemudian kehilangan takhta.
Upaya mengembalikan Selim tidak berhasil.
Ia kemudian dibunuh ketika pendukung reformasi berusaha mengembalikannya ke kekuasaan.
Setelah pergolakan berikutnya, Mahmud II menjadi Sultan pada 1808.
Mahmud memahami satu pelajaran penting dari nasib pendahulunya:
menyingkirkan Janissari tidak dapat dilakukan tanpa persiapan politik dan militer yang matang.
Ia menunggu hampir dua dekade.
Konflik akhirnya mencapai puncak pada Juni 1826.
Ketika Sultan Mahmud II bergerak menuju pembentukan sistem militer baru, Janissari kembali melakukan pemberontakan.
Namun situasinya kini berbeda.
Mahmud sudah mempersiapkan respons.
Kajian akademik Cambridge mengenai sejarah Janissari mencatat Sultan kemudian menggunakan artileri untuk menghantam Janissari di barak mereka pada Juni 1826. Peristiwa tersebut dikenang dalam sejarah Utsmani sebagai Vak'a-i Hayriye, yang sering diterjemahkan sebagai Auspicious Incident atau “Peristiwa yang Menguntungkan”.
Banyak Janissari terbunuh.
Yang selamat menghadapi penangkapan, hukuman atau pengasingan.
Korps yang sudah bertahan selama berabad-abad akhirnya dihapus secara resmi.
Janissari mempunyai hubungan historis dengan tradisi Bektashi.
Metropolitan Museum of Art mencatat kaum Bektashi mempunyai keterkaitan politik dan keagamaan yang cukup kuat dengan Janissari.
Setelah penghancuran korps pada 1826, pemerintah Mahmud II juga bergerak terhadap jaringan Bektashi.
Penelitian Oxford mengenai Istanbul pada periode tersebut mencatat Mahmud II melarang Ordo Bektashi setelah penghancuran Janissari.
Dengan demikian, peristiwa 1826 tidak hanya mengubah struktur tentara.
Ia turut mengguncang jaringan sosial dan keagamaan yang selama bertahun-tahun terhubung dengan Janissari.
Penghapusan Janissari membuka jalan bagi pembentukan tentara baru yang lebih terpusat.
Cambridge menempatkan tindakan Mahmud II sebagai salah satu tonggak menuju era reformasi Utsmani abad ke-19.
Setelah menghilangkan kekuatan lama yang berulang kali menghalangi restrukturisasi militer, pemerintah mempunyai ruang lebih besar untuk membangun institusi baru.
Perubahan tersebut nantinya menjadi salah satu dasar menuju reformasi yang lebih luas pada masa Tanzimat.
Namun harga politik dan manusianya sangat besar.
Korps Janissari tidak dibubarkan melalui keputusan administrasi damai.
Pengakhirannya terjadi melalui konfrontasi bersenjata dan tindakan represif negara.
Tidak.
Janissari mempunyai reputasi militer yang besar, tetapi mereka bukan pasukan yang tidak pernah kalah.
Bahkan Metropolitan Museum mempunyai karya abad ke-15 yang menggambarkan pasukan Utsmani, termasuk Janissari dengan topi khas mereka, dalam konteks kekalahan pasukan Bayezid I dari Timur di Pertempuran Ankara 1402.
Sepanjang hampir lima abad keberadaannya, Janissari mengalami:
kemenangan, kekalahan, perubahan teknologi, reformasi organisasi dan konflik internal.
Karena itu, kalimat seperti:
“Tidak ada tentara Eropa yang mampu mengalahkan Janissari.”
lebih cocok untuk cerita legenda daripada tulisan sejarah.
Kesalahan lain adalah menyebut:
“tentara Utsmani = Janissari.”
Padahal kekuatan militer kerajaan terdiri dari banyak komponen.
Ada:
pasukan berkuda,
artileri,
pasukan provinsi,
angkatan laut,
pasukan pendukung,
insinyur,
serta berbagai jenis unit lainnya.
Kajian Cambridge mengenai peperangan Utsmani menunjukkan kemenangan kerajaan dari abad ke-15 hingga ke-16 berasal dari kemampuan menggabungkan berbagai unsur militer, logistik dan teknologi tersebut.
Janissari merupakan salah satu komponen paling terkenal.
Tetapi bukan keseluruhan mesin perang Utsmani.
Jika hanya melihat sisi peperangannya, mudah membuat Janissari menjadi legenda:
anak muda dilatih keras,
menjadi prajurit elite,
menggunakan senjata api,
mengawal Sultan,
dan ikut dalam ekspansi kerajaan.
Tetapi sejarah tidak berhenti di sana.
Di baliknya ada sistem devşirme yang mengambil anak-anak dari keluarga Kristen.
Ada pula mobilitas sosial yang memungkinkan sebagian orang dari latar tersebut naik ke posisi tinggi.
Ada disiplin militer.
Ada inovasi persenjataan.
Ada hubungan sosial dengan masyarakat kota.
Ada politik.
Ada pemberontakan.
Ada Sultan yang kehilangan takhta.
Dan akhirnya ada penghancuran korps itu sendiri pada 1826.
Semua unsur tersebut membuat Janissari lebih menarik daripada cerita sederhana tentang “pasukan paling hebat dalam sejarah”.
Pada masa awalnya, Janissari membantu Sultan membangun tentara tetap yang loyal kepada pusat kekuasaan.
Pada masa kejayaan Utsmani, mereka menjadi bagian dari kekuatan militer yang membantu kerajaan memperluas wilayahnya dari Balkan hingga Timur Tengah.
Pada periode berikutnya, mereka semakin menyatu dengan ekonomi dan masyarakat perkotaan.
Kemudian mereka berkembang menjadi aktor politik yang dapat menekan pemerintah dan bahkan menjatuhkan Sultan.
Akhirnya pada 1826, Sultan Mahmud II memutuskan sistem lama tersebut tidak lagi dapat dipertahankan.
Korps Janissari dihancurkan dan dibubarkan.
Dengan demikian, sejarah Janissari sebenarnya merupakan gambaran kecil perjalanan Kesultanan Utsmani sendiri:
lahir dari ekspansi militer, tumbuh menjadi institusi elite, memperoleh kekuasaan besar, berubah mengikuti masyarakat, kemudian berbenturan dengan tuntutan reformasi zaman baru.
Itulah mengapa Janissari masih dibicarakan hampir dua abad setelah pembubarannya.
Bukan hanya karena mereka pernah membawa senjata di medan perang.
Tetapi karena selama hampir lima abad, mereka berada tepat di persimpangan antara militer, kekuasaan Sultan, agama, masyarakat dan politik dalam sejarah Utsmani.