KHAZANAH – Pada Februari 1258, salah satu kota paling penting dalam sejarah dunia Islam menghadapi bencana yang kemudian dikenang selama berabad-abad.
Baghdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah, dikepung pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan, cucu Genghis Khan.
Pertahanan kota akhirnya runtuh.
Khalifah terakhir Abbasiyah di Baghdad, al-Musta‘sim Billah, ditangkap dan kemudian dibunuh bersama sebagian besar keluarganya.
Encyclopaedia Iranica mencatat Baghdad jatuh pada 13 Februari 1258 dan kemudian mengalami sekitar satu minggu penjarahan serta pembunuhan.
Peristiwa tersebut mengakhiri pemerintahan Abbasiyah di Baghdad yang telah bertahan sekitar lima abad.
Namun kisah jatuhnya Baghdad juga berkembang menjadi legenda.
Ada cerita bahwa ratusan ribu hingga jutaan orang dibunuh.
Ada pula kisah seluruh perpustakaan dihancurkan dan begitu banyak buku dilemparkan ke Sungai Tigris hingga airnya berubah hitam karena tinta.
Sebagian cerita memiliki akar pada tradisi sejarah, tetapi penelitian modern menunjukkan detail tragedi 1258 perlu dibaca lebih hati-hati.
Untuk memahami besarnya tragedi 1258, kita perlu kembali hampir lima abad sebelumnya.
Dinasti Abbasiyah mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Umayyah pada 750.
Beberapa tahun kemudian, Khalifah Abu Ja‘far al-Mansur membangun sebuah ibu kota baru di tepi Sungai Tigris.
Kota tersebut didirikan pada 762 Masehi dan secara resmi dikenal sebagai Madinat al-Salam atau Kota Perdamaian, meskipun nama Baghdad akhirnya jauh lebih populer.
Bagian pusat kota awalnya mempunyai desain melingkar sehingga sering disebut Round City of Baghdad.
Cambridge bahkan mencatat para ahli geografi Arab abad pertengahan pernah menempatkan Baghdad secara simbolis sebagai sebuah kota di “pusat dunia”.
Baghdad kemudian tumbuh menjadi pusat politik, perdagangan dan kebudayaan yang luar biasa.
Pada beberapa abad awal pemerintahan Abbasiyah, Baghdad menjadi salah satu pusat utama kehidupan intelektual dunia Islam.
Metropolitan Museum of Art menyebut tiga abad pertama Abbasiyah sebagai periode ketika Baghdad dan Samarra menjadi pusat budaya dan perdagangan penting dunia Islam.
Ilmu kedokteran, matematika, astronomi, filsafat, sastra dan berbagai bidang lain berkembang.
Kegiatan penerjemahan juga memainkan peranan penting dalam masuknya karya berbahasa Yunani, Persia dan bahasa lainnya ke dalam tradisi intelektual berbahasa Arab.
Baghdad tidak hanya menarik cendekiawan Muslim.
Sebagai kota metropolitan, masyarakat Kristen, Yahudi, Persia, Arab dan berbagai komunitas lain juga berinteraksi di dalam kehidupan ekonomi maupun intelektualnya.
Itulah sebabnya kehancuran 1258 kemudian mempunyai nilai simbolis jauh melampaui hilangnya sebuah kota.
Bagian ini sering dilewatkan.
Baghdad pada 1258 bukan lagi ibu kota kerajaan raksasa yang sama kuatnya seperti masa Harun al-Rasyid atau al-Ma'mun beberapa abad sebelumnya.
Metropolitan Museum mencatat kesatuan politik Abbasiyah mulai melemah pada abad ke-10.
Berbagai dinasti lokal berkembang di Mesir, Iran dan wilayah lainnya.
Pada 945, Baghdad bahkan dikuasai Dinasti Buyid.
Kemudian pada 1055, Seljuk masuk ke Baghdad.
Dalam periode tersebut para khalifah Abbasiyah tetap mempunyai kedudukan keagamaan dan simbolis yang penting, tetapi kekuatan politik dan militernya jauh lebih terbatas dibanding masa awal kekhalifahan.
Karena itu, kurang tepat mengatakan:
“Abbasiyah sedang berada di puncak kejayaan lalu tiba-tiba dihancurkan Mongol dalam satu hari.”
Kondisinya sudah berubah selama berabad-abad.
Encyclopaedia Iranica menggambarkan Baghdad menjelang invasi Mongol sebagai kota yang telah mengalami kemunduran dibanding masa kejayaannya.
Kota itu berkali-kali menghadapi:
banjir,
kebakaran,
konflik antar kelompok,
kerusuhan,
dan perselisihan politik.
Walaupun demikian, Baghdad tetap merupakan pusat keagamaan dan kebudayaan penting. Bahkan menjelang pertengahan abad ke-13 terjadi kembali perkembangan seni buku serta pendirian lembaga pendidikan seperti Madrasah al-Mustansiriyah.
Jadi Baghdad tidak sepenuhnya “mati” sebelum Mongol.
Tetapi pertahanannya jelas bukan kekuatan imperium seperti beberapa abad sebelumnya.
Tokoh yang memimpin ekspedisi ke Baghdad adalah Hulagu Khan.
Ia merupakan putra Tolui dan cucu Genghis Khan.
Kakaknya, Möngke Khan, menjadi penguasa tertinggi Mongol pada 1251.
Tidak lama kemudian Möngke memerintahkan Hulagu melakukan kampanye besar ke wilayah barat.
Ukuran ekspedisi tersebut sangat besar.
Sumber yang dikaji Encyclopaedia Iranica menggambarkannya sebagai mobilisasi kontingen dari berbagai bagian Kekaisaran Mongol.
Sebelum mencapai Baghdad, Hulagu terlebih dahulu menghadapi kekuatan Nizari Ismaili di Persia.
Benteng Alamut jatuh pada 19 November 1256.
Setelah itu perhatian Mongol semakin diarahkan kepada Baghdad.
Khalifah pada saat itu adalah al-Musta‘sim Billah.
Ia menjadi khalifah pada 1242.
Hubungannya dengan Hulagu kemudian memburuk ketika persoalan mengenai penyerahan dan kepatuhan terhadap Mongol tidak mencapai penyelesaian.
Encyclopaedia Iranica mencatat al-Musta‘sim sebelumnya memberikan suatu bentuk pernyataan ketundukan kepada Mongol, tetapi tidak hadir ketika Hulagu memanggil para penguasa regional untuk kembali menegaskan loyalitas mereka.
Ketegangan akhirnya berkembang menjadi perang terbuka.
Pada akhir 1257 hingga awal 1258, pasukan Mongol semakin mendekati Baghdad.
Pada awal 1258, serangan besar dimulai.
Pasukan Hulagu menggunakan pengalaman pengepungan yang telah diperoleh Mongol dari kampanye di berbagai wilayah.
Baghdad kemudian dikepung dari berbagai arah.
Encyclopaedia Iranica menilai pasukan khalifah dan masyarakat setempat melakukan perlawanan, tetapi beberapa masalah membuat hasil akhirnya sangat sulit dihindari.
Kepemimpinan tidak cukup efektif, terdapat persoalan di lingkungan istana, sementara kekuatan Mongol jauh lebih besar.
Pada pertengahan Februari, pertahanan kota runtuh.
Encyclopaedia Iranica menetapkan 13 Februari 1258 sebagai tanggal penguasaan kota.
Setelah itu Baghdad mengalami sekitar satu minggu penjarahan dan pembantaian.
Bangunan, harta dan infrastruktur kota mengalami kerusakan.
Banyak penduduk kehilangan nyawa.
Peristiwa ini memang merupakan tragedi besar.
Namun ketika mencoba menghitung jumlah korban, masalah sejarah mulai muncul.
Berbagai angka beredar.
Ada versi menyebut 200 ribu.
Ada yang menyebut 800 ribu.
Bahkan terdapat sumber yang memberikan angka jauh lebih besar.
Masalahnya, catatan abad pertengahan tidak menggunakan sistem sensus korban seperti masa modern.
Cambridge mencatat estimasi jumlah korban sangat beragam. Salah satu laporan Hulagu sendiri pernah menyebut 200.000 korban, sementara sejarawan kemudian menghasilkan angka berbeda.
Encyclopaedia Iranica juga mencatat satu sumber memberikan angka 800 ribu, sementara laporan lain mengandung angka yang jauh lebih tinggi dan kemungkinan digunakan untuk menekankan kekuatan sang penakluk.
Karena itu, judul seperti:
“Tepat 2 juta orang dibunuh Mongol di Baghdad”
sebaiknya dihindari.
Yang dapat dipastikan adalah terjadi pembunuhan dalam skala besar, tetapi jumlah tepat korbannya tidak diketahui.
Setelah kota jatuh, nasib al-Musta‘sim telah ditentukan.
Ia dibunuh bersama sebagian besar keluarganya.
Tetapi cara kematiannya justru menjadi salah satu bagian paling penuh legenda dalam cerita Baghdad.
Versi yang paling terkenal mengatakan:
khalifah dibungkus karpet lalu diinjak-injak kuda agar darah seorang penguasa tidak menyentuh tanah.
Apakah cerita tersebut benar?
Kemungkinan itu memang ada, tetapi sumber-sumber tidak sepakat.
Penelitian Nazanin Neggaz di Journal of the Royal Asiatic Society menunjukkan sumber abad pertengahan memberikan versi sangat beragam.
Ada yang mengatakan khalifah:
mati kelaparan,
dicekik,
digantung,
dibungkus kemudian diinjak,
atau dibunuh dengan cara lainnya.
Sejarawan modern memang menilai kematian dengan cara diinjak-injak sebagai salah satu kemungkinan yang cukup kuat karena terdapat tradisi Mongol dalam mengeksekusi tokoh kerajaan tanpa menumpahkan darahnya secara langsung.
Tetapi tidak tepat menuliskannya sebagai:
“Sudah terbukti 100 persen al-Musta‘sim dibungkus karpet kemudian diinjak kuda.”
Lebih aman:
“Sejumlah sumber menyebut ia dibungkus dan diinjak-injak, tetapi sumber abad pertengahan berbeda mengenai cara persis kematiannya.”
Inilah cerita paling terkenal lainnya.
Konon Mongol mengambil buku-buku dari perpustakaan Baghdad kemudian melemparkannya ke Sungai Tigris.
Jumlahnya disebut begitu banyak sehingga:
air Sungai Tigris berubah hitam karena tinta.
Cerita ini sangat populer.
Namun penelitian modern meminta kehati-hatian.
Sejarawan Mongol Michal Biran meneliti secara khusus perpustakaan dan transmisi ilmu di Baghdad setelah 1258. Ia menunjukkan bahwa gambaran mengenai penghancuran total seluruh kehidupan intelektual Baghdad telah berkembang menjadi narasi yang jauh lebih sederhana dibanding bukti sejarahnya.
Dalam studi lain, Biran juga mengingatkan bahwa penaklukan Baghdad memang sangat keras, tetapi tidak sama dengan penghancuran permanen seluruh peradaban Islam.
Jadi sangat mungkin perpustakaan, buku dan manuskrip mengalami kerusakan atau penjarahan.
Tetapi kalimat:
“Tigris benar-benar berubah hitam karena jutaan buku”
lebih baik disampaikan sebagai cerita yang berkembang dalam tradisi tentang kehancuran Baghdad, bukan sebagai pengukuran ilmiah yang telah diverifikasi.
Nama Bayt al-Hikma atau Baitul Hikmah selalu muncul ketika membicarakan tragedi Baghdad.
Dalam imajinasi modern, Baitul Hikmah sering digambarkan seperti universitas dan perpustakaan nasional raksasa tempat seluruh ilmuwan Abbasiyah bekerja bersama.
Padahal bentuk dan fungsi historis lembaga tersebut jauh lebih kompleks dan bahkan masih diperdebatkan oleh sejarawan.
Karena itu, cerita:
“Pada 1258 Mongol memasuki satu gedung bernama Baitul Hikmah dan menghancurkan seluruh ilmu pengetahuan dunia Islam di dalamnya”
terlalu sederhana.
Yang lebih tepat adalah Baghdad memang mempunyai tradisi panjang perpustakaan, koleksi buku, madrasah dan kegiatan intelektual yang terdampak hebat oleh penaklukan. Tetapi pengetahuan tidak hanya berada di satu bangunan dan tidak seluruh tradisi ilmiah dunia Islam bergantung pada satu perpustakaan.
Ini juga penting diluruskan.
Terkadang tragedi 1258 disebut:
“Hari ketika Zaman Keemasan Islam langsung berakhir.”
Sejarah tidak bekerja sesederhana itu.
Kemunduran atau perubahan pusat intelektual sudah berlangsung dalam proses panjang, sementara ilmu pengetahuan tetap berkembang di berbagai kota setelah 1258.
Cambridge bahkan menekankan bahwa Baghdad sendiri mengalami pemulihan yang relatif cepat setelah penaklukan Mongol.
Artinya:
Baghdad mengalami tragedi luar biasa,
tetapi kota tersebut tidak lenyap dari peta,
dan dunia Islam tidak berhenti menghasilkan ilmu pada Februari 1258.
Meski beberapa legenda perlu dikoreksi, dampak politik peristiwa tersebut tetap sangat besar.
Kekhalifahan Abbasiyah yang telah berkuasa sejak 750 dan menjadikan Baghdad sebagai pusat utamanya sejak 762 berakhir di kota tersebut pada 1258.
Khalifah terbunuh.
Pusat pemerintahannya jatuh.
Dinasti Abbasiyah tidak lagi memerintah Baghdad.
Dalam pengertian tersebut, 1258 memang menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah politik dunia Islam abad pertengahan.
Tidak semua anggota keluarga Abbasiyah terbunuh.
Sebagian berhasil bertahan atau melarikan diri.
Metropolitan Museum mencatat keturunan Abbasiyah kemudian muncul di Mesir di bawah perlindungan Kesultanan Mamluk.
Namun kedudukannya berbeda.
Khalifah Abbasiyah di Kairo lebih banyak mempunyai fungsi simbolis dan religius, sedangkan kekuasaan politik nyata berada pada Sultan Mamluk.
Jadi kalimat:
“Dinasti Abbasiyah benar-benar tidak pernah muncul lagi setelah 1258”
kurang tepat.
Yang berakhir adalah kekuasaan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.
Setelah Baghdad dikuasai, pasukan Hulagu tidak berhenti.
Mongol bergerak menuju Suriah.
Kekuatan mereka kemudian memasuki Aleppo dan Damaskus.
Ambisi ekspansi tersebut akhirnya mempertemukan mereka dengan Kesultanan Mamluk Mesir.
Dua tahun setelah tragedi Baghdad, pasukan Mongol di bawah Kitbuqa bertemu Mamluk dalam Pertempuran Ain Jalut pada September 1260.
Di sana Mamluk memperoleh kemenangan besar.
Dengan demikian, Baghdad 1258 dan Ain Jalut 1260 sebenarnya berada dalam satu rangkaian besar ekspansi Mongol ke Timur Tengah.
Cerita populer kadang memberikan kesan seolah Baghdad berubah menjadi reruntuhan kosong selama berabad-abad.
Penelitian modern memberikan gambaran berbeda.
Michal Biran menunjukkan Baghdad mengalami pemulihan setelah penaklukan dan tetap menjadi bagian penting dari dunia Ilkhanid.
Encyclopaedia Iranica mencatat pada 1258–1259 Hulagu menunjuk pejabat untuk mengelola Mesopotamia dan Khuzistan, termasuk Baghdad.
Artinya Mongol bukan hanya menghancurkan kota kemudian pergi.
Mereka memasukkan Baghdad ke dalam struktur pemerintahan baru.
Kota memang kehilangan statusnya sebagai ibu kota khalifah Abbasiyah, tetapi kehidupan urban perlahan berlanjut.
Ada fakta sejarah yang tidak perlu diragukan:
Hulagu menyerang Baghdad.
Kota jatuh pada Februari 1258.
Terjadi penjarahan dan pembunuhan besar-besaran.
Khalifah al-Musta‘sim dibunuh.
Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad berakhir.
Tetapi ada detail yang harus diberi tanda hati-hati:
jumlah pasti korban,
cara persis khalifah dieksekusi,
berapa buku yang dihancurkan,
apakah Sungai Tigris benar-benar berubah hitam,
serta klaim bahwa seluruh ilmu pengetahuan Islam berakhir dalam satu hari.
Penelitian sejarah modern justru mencoba memisahkan tragedi nyata dari detail dramatis yang berkembang melalui penulisan sejarah selama berabad-abad.
Salah satu pelajaran penting dari sejarah Baghdad adalah bahwa sebuah kekuasaan besar jarang runtuh hanya karena satu faktor.
Sebelum Hulagu datang, Abbasiyah sudah melewati ratusan tahun perubahan politik.
Wilayah-wilayahnya terpecah.
Dinasti lokal bermunculan.
Baghdad pernah berada di bawah pengaruh Buyid dan Seljuk.
Konflik internal terus terjadi.
Bencana alam seperti banjir dan kebakaran juga berulang kali merusak kota.
Mongol kemudian datang sebagai pukulan militer terakhir terhadap sistem politik yang sudah jauh berbeda dari masa kejayaan awal Abbasiyah.
Karena itu, 1258 lebih tepat dipandang sebagai akhir dramatis dari proses panjang, bukan satu-satunya penyebab kemunduran.
Meski beberapa kisahnya telah diperbesar atau diperdebatkan, tidak perlu mengecilkan arti tragedi Baghdad.
Selama hampir lima abad, kota tersebut menjadi pusat pemerintahan khalifah Abbasiyah.
Dari Baghdad berkembang tradisi seni, sastra, administrasi dan ilmu pengetahuan yang memberikan pengaruh jauh melampaui Irak.
Kemudian dalam hitungan minggu pada 1258, struktur politik yang telah bertahan selama beberapa generasi runtuh.
Khalifah terbunuh.
Kota dijarah.
Penduduk dalam jumlah besar kehilangan nyawa.
Dan Baghdad tidak lagi menjadi pusat kekhalifahan.
Itulah tragedi sebenarnya.
Kisah tersebut sudah cukup besar tanpa perlu menambahkan angka korban yang tidak dapat dibuktikan atau mengatakan sungai benar-benar berubah menjadi tinta.
Tragedi ini juga menunjukkan mengapa sumber sejarah perlu dibandingkan.
Satu kronik dapat mengatakan khalifah diinjak-injak.
Kronik lain memberikan cara kematian berbeda.
Satu sumber menyebut ratusan ribu korban.
Sumber lain memberikan angka jauh lebih besar.
Cerita mengenai buku yang memenuhi Sungai Tigris juga berkembang menjadi salah satu simbol paling kuat tentang kehancuran ilmu.
Sejarawan tidak harus memilih antara dua ekstrem:
menganggap semuanya legenda, atau
menerima semua cerita lama secara harfiah.
Fakta dasarnya jelas bahwa penaklukan 1258 sangat brutal dan mengakhiri pemerintahan Abbasiyah di Baghdad.
Namun rincian setiap kisah harus diuji berdasarkan sumber.
Lebih dari tujuh setengah abad kemudian, Baghdad masih berdiri.
Kota tersebut melewati Mongol, berbagai dinasti, Ottoman, perubahan politik modern hingga menjadi ibu kota Irak sekarang.
Karena itu, kisah 1258 bukan hanya cerita tentang runtuhnya sebuah kekhalifahan.
Ia juga menjadi cerita mengenai bagaimana sebuah kota yang pernah mengalami salah satu tragedi terbesar abad pertengahan ternyata tetap mampu hidup setelah para penakluk dan kerajaan yang menguasainya silih berganti.